Generasi Berencana dan Demografi adalah dua hal yang berbeda namun terkait satu sama lain. Bonus Demografi yang akan disandang Indonesia pada Tahun 2015 menjadi tantangan tersendiri. Visi BKKBN ”Penduduk Tumbuh Seimbang 2015” menyiratkan banyak pekerjaan yang harus dilakukan.
Bom pengangguran tentu tak bisa dielak jika generasi muda bukan Generasi Berencana.
Potensi usia produksi yang sangat besar, satu pihak menjadi modal kuat membangun negara. Di pihak lain, tentu memunculkan beban anggaran yang tidak sedikit. Pertumbuhan penduduk yang nyaris tak terkendali-kendurnya program KB- akhir-akhir ini perlu dipikirkan kembali. Motto ”Dua Anak Lebih Baik” perlu digenjot hingga ke kalangan generasi muda.
Selain membatasi jumlah anak, pernikahan dini akibat pengaruh globalisasi juga menjadi hal yang penting. Fenomena ”dinikahkan, Degradasi moral di kalangan remaja bukan hal yang baru. Lihat saja cara bergaul dan berpakaian yang telah mengabaikan kesopanan dan nilai agama. Belum lagi bicara soal etika dan kesopanan yang nyaris menjadi ”aneh” di kalangan mereka. Semakin sulit ditemui remaja belajar agama, dan kian membludak mereka mejeng di kafe atau tempat kongkouw tanpa peduli kewajiban dalam agama. Bahkan sikap acuh selalu menjadi identitas remaja saat ini.
Ketimpangan pergaulan remaja bahkan menjerumuskan mereka melakukan penyimpangan. Hidup tanpa beban hingga pergaulan beban menjerat remaja melakoni seks bebas. Salah kaprah juga bagian dari ritme pergaulan yang sudah lama meracuni remaja. Diantara berbagai kasus negatif, sangat banyak soal positif remaja kita.
Gaul dalam makna yang positif bisa membantu kita untuk membagi waktu. Disamping itu dengan beaktifitas jadwal kita akan lebih teratur, sehingga kita terbiasa untuk hidup disiplin.
Mencari jati diri akan mendorong remaja melakukan berbagai hal yang gaul dan positif.
Menjadi remaja yang kreatif bukan sesuatu yang sulit. Hal ini tentunya berdasarkan dari keinginan teman-teman sendiri. Jika orang bisa kenapa kita nggak? Karena remaja yang kreatif itu adalah sukses dalam berbagai kegiatan juga berprestasi di sekolah.
Kesalahan pemahaman mengartikan gaul selama ini telah menjerat remaja pada penyimpangan perilaku. Mereka cenderung melakukan pelanggaran, justru akan menghancurkan masa depan. Maka, gaul mesti disikapi dengan kegiatan positif bukan malah menghancurkan diri sendiri dan masa depan. Sesuatu yang dilakukan tanpa batas dan tanpa memperhatikan norma-norma dan nilai-nilai moral sebenarnya akan menghancurkan diri manusia itu sendiri.
Keluarga sangat berperan penting dalam menanamkan nilai- nilai tersebut. Keluarga adalah kunci keselamatan remaja kita. Melihat fenomena ini, saya teringat pada sebuah anekdot tentang bangsa Indonesia soal scanning memori isi kepada. Dari beberapa peserta luar negeri yang di-scan, hanya milik orang Indonesia masih bersih. Isi kepala peserta dari Indonesia
karena jarang digunakan untuk berpikir.