Lihat ke Halaman Asli

Adinda Nazma Nurramadhani

Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Konsep Kematangan dan Teori Belajar Behavioristik dan Humanistik

Diperbarui: 27 Oktober 2024   02:40

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

A. Teori Belajar Behavioristik

Pendekatan ini berfokus pada bagaimana lingkungan memengaruhi perilaku seseorang. Prinsip dasarnya adalah bahwa belajar merupakan perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur, dan diubah melalui rangsangan (stimulus) dan reaksi (respons). 

Contohnya adalah eksperimen Pavlov dengan anjing yang mengeluarkan air liur saat mendengar bunyi bel karena diasosiasikan dengan makanan. Tokoh-tokoh utama seperti Pavlov, Watson, Skinner, dan Guthrie mengembangkan teori ini. Dalam dunia pendidikan, guru bisa menerapkan teori ini dengan memberikan hadiah (penguatan positif) atau hukuman (penguatan negatif) untuk membentuk perilaku siswa.

B. Teori Belajar Humanistik

Pendekatan ini menekankan pentingnya pengalaman pribadi, motivasi internal, dan pengembangan diri dalam proses belajar. Prinsip dasarnya adalah bahwa setiap individu memiliki potensi untuk belajar dan berkembang, dengan belajar yang bermakna terjadi ketika siswa merasa terhubung secara pribadi dengan materi pelajaran. 

Tokoh-tokoh utama dalam pendekatan ini adalah Combs, Maslow, dan Rogers. Implikasinya dalam pendidikan adalah bahwa guru perlu menciptakan lingkungan yang mendukung, menghargai keunikan setiap siswa, dan membantu mereka menemukan makna dalam proses belajar.

C. Konsep Kematangan

Kematangan merupakan tahap perkembangan fisik dan mental yang memungkinkan seseorang siap melakukan berbagai aktivitas tertentu. Kematangan mencakup aspek kognitif (kemampuan berpikir), emosional (pengelolaan emosi), sosial (interaksi dengan orang lain), dan fisik (kesehatan tubuh). 

Tingkat kematangan ini berperan penting dalam kesiapan belajar dan perkembangan anak secara keseluruhan. Sebagai contoh, anak yang sudah matang secara fisik dan emosional biasanya lebih siap untuk memulai sekolah. Oleh karena itu, tingkat kematangan siswa menjadi pertimbangan penting dalam merancang pembelajaran yang sesuai.

 

Kesimpulan:

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline