Para sarjana Barat masih mencoba menulis sendiri sejarah Batak menurut hipotesa mereka dengan ilmu logika dan pustaha hasil rampasan yang mereka coba terjemahkan di Leiden. Hal ini terlihat juga di beberapa media online terpopuler seperti Wikipedia, ketika anda mengetik kata kunci yang berkaitan dengan sejarah bangsa itu.
Bagi mereka yang tidak pernah tinggal atau berdampingan dengan Bangsa Batak, tentu literatur modern yang selalu merujuk makalah, desertasi, buku atau tesis karya para sarjana Barat - seringkali diyakini sebagai sebuah kebenaran sejarah yang tak terbantahkan. Dapat dimaklumi mengingat masa kolonial Belanda, banyak dari mereka yang begitu penasaran dengan bangsa yang mereka sebut sebagai "pemakan Manusia" itu.
Dan, karya yang juga menjadi bagian dari misi Zending itu kebanyakan tidak mampu diluruskan oleh putra-putri Batak sendiri. Terbukti, Mahasiswa studi Batak di Universitas terkemuka di Sumatera Utara, cenderung diajari atau setidaknya diarsiteki oleh Professor asal Eropa (Jerman dan Belanda). Ribuan naskah Batak masih berada di Belanda dan sekitar 600 ada di Jerman.
Namun ada beberapa pertanyaan yang mungkin belum terjawab oleh mereka soal Bangsa Batak, seperti:
Bagaimana Bangsa itu tidak dapat dijajah sampai menjelang akhir abad ke 19, sementara kerajaan besar di Nusantara - kecuali Aceh, sudah dicerai beraikan?
Kenapa Bangsa Batak tidak memiliki kerajaan seperti kerajaan lain di Nusantara?
Kenapa Bangsa Batak, memiliki Raja tapi tidak berkuasa secara mutlak dan tidak memiliki hak atas lahan?
Bagaimana masyarakat yang sangat menghormati Rajanya - cenderung memujanya - tapi tidak bertekuk lutut ala foedalisme dan juga tidak memiliki kasta?
Tentu banyak pertanyaan lain yang sepertinya mudah, tapi sulit bagi orang luar untuk menjawabnya.
Satu kata yang dapat menggambarkan bangsa Batak sebelum kemunduran Barus dan kedatangan Belanda adalah DEMOKRASI, dan kesetaraan.
Ini menjadikan setiap individu memiliki hak atas hidupnya tetapi tunduk pada aturan umum melalui Adat.