Lihat ke Halaman Asli

Adica Wirawan

TERVERIFIKASI

"Sleeping Shareholder"

Mencari "Sesuap Nasi" dari Industri Gim Tanah Air

Diperbarui: 30 Desember 2016   01:31

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

sekarang ng-game enggak cuma hobi, tetapi juga bisa jadi ladang pendapatan/ http://intel.com

Biarpun sudah terjadi bertahun-tahun lalu, saya masih ingat bahwa dulu saya mendapat omelan dari orangtua saya karena sering menghabiskan uang jajan untuk bermain game. Waktu itu, saya memang keranjingan bermain playstation. Apalagi pada musim liburan seperti sekarang ini, saya bisa menghabiskan banyak uang dan waktu di rental untuk bermain pelbagai game bersama teman-teman. Bahkan, kalau lagi “kesurupan” bermain game, saya bisa sampai lupa makan, atau mengerjakan tugas lainnya, sebab yang ada di otak saya hanya tiga kata: “game”, “game”, dan “game”.

Hal itu kemudian berdampak juga pada hubungan saya dan orangtua. Karena saya selalu sibuk memikirkan game, orangtua saya “protes”. Mereka bahkan sampai memarahi saya habis-habisan lantaran saya masih belum juga “insyaf” dari kebiasaan bermain game. “Nanti kamu jadi anak bodoh kalau kebanyakan bermain game!” semprot mereka. Akhirnya, mereka melakukan “embargo” terhadap saya. Jatah uang jajan saya dikurangi supaya saya enggak bisa main game di rental lagi.

Apakah saya berhenti? Enggak. Saya ternyata belum “kapok” main game di rental. Hanya saja, intensitasnya enggak sesering sebelumnya, hingga bertahun-tahun kemudian saya sudah enggak “menyetuh” stik ps lagi. Bosan? Mungkin. Namun, seiring bertambahnya umur, pola pikir saya pun berkembang. Cieile. Sok dewasa. Namun, itulah yang terjadi sampai saat ini.

Hanya saja, setelah melihat perkembangan dunia game dewasa ini, saya sedikit “menyesal” karena ternyata kini orang sudah bisa hidup dari industri game. Dulu orang sering mencibir, “Mau jadi apa lu kalau kebanyakan nge-game? Mau jadi orang susah?” Saat itu mungkin belum banyak orang yang melihat “potensi” tersembunyi dari dunia game. Makanya mereka berpikiran begitu. Namun, begitu mereka tahu bahwa sekarang sudah ada profesi sebagai gamer, mereka mungkin akan “geleng-geleng” kepala sendiri.

Sebut saja Monica Carolina. Wanita asal Jakarta itu berprofesi sebagai gammer wanita profesional sejak tahun 2008. Bermain game dengan genre first-person shooter (FPS) adalah hobinya sejak kecil. Saat duduk di bangku SMA, ia mulai rajin mengikuti berbagai turnamen game dan berhasil meraih juara dua dalam game Call of Duty 4. Hal itu ternyata membuatnya 'ketagihan' untuk berkompetisi melawan para gammer lainnya yang mayoritas adalah pria. Selama lima tahun berturut-turut mengikuti kompetisi, Wanita yang lebih dikenal dengan nama Nixia itu beserta empat orang timnya yang tergabung dalam NXA Ladies yang semuanya wanita berhasil memenangkan berbagai kejuaraan.

inilah monica carolina alias nixia, seorang gamer profesional/ https://detik.com

Pada tahun 2011, ia mendirikan situs bernama Nixia Gamer yang berisi tentang review peralatan untuk bermain game dan pengalamannya mengikuti turnamen-turnamen game. Satu tahun menjalani website tersebut, mulai banyak brand peralatan game yang memberikannya sponsor. "Kita dikasih peralatan gaming seperti laptop, keyboard, dan headset yang nilainya di atas USD 2 ribu(Rp 27 juta) untuk satu orang. Setiap tiga bulan sekali kita juga mendapat gaji, kisarannya USD 10 ribu (Rp 137 juta)," paparnya, sebagaimana dikutip dari detik.com.

Barangkali profesi yang digeluti oleh Monica adalah impian bagi semua gamer. Betapa tidak, sudah bisa bermain game supuas hati, dibayar pula! Namun, itu hanyalah satu “sisi” yang menunjukkan bahwa kita bisa mencari “sesuap nasi” dari industri game. Sisi lainnya adalah profesi sebagai reviewer game. Sesuai namanya, reviewer game bertugas mengulas suatu game dan menjelaskan langkah demi langkah dalam mengatasi persoalan selama bermain game. Profesi tersebut belakangan menjadi trend, apalagi sejak youtube semakin digemari masyarakat.

Sebut saja reviewer game terkenal Diwantara Anugrah Putra dan Gema Cita Andika. Kedua reviewer tersebut mempunyai kanal di youtube yang terkenal, yaitu Tara Arts Game Indonesia. Di kanal itu, keduanya berbagi trik dalam menyelesaikan misi sebuah game. Bahkan, tak hanya itu, mereka pun sering memberi ulasan game yang baru rilis di Indonesia. Misalnya saja, sebelum game Pokemon Go dipublikasikan di Indonesia, mereka sudah bisa memainkannya. Pada beberapa video, mereka bahkan menampilkan cara berburu Pokemon. Dengan penjelasan yang renyah diselingi aksi kocak, enggak heran kalau video-video mereka tentang Pokemon Go banyak ditonton.

inilah revier game Diwantara Anugrah Putra dan Gema Cita Andika/ http://swa.co.id

Sementara itu, para pembuat game, khususnya untuk android, pun ikut kecipratan rezeki akibat perkembangan game yang makin marak di tanah air. Sebut saja Eldwin Viriya. Eldwin adalah lulusan Fakultas Teknik Informatika dan Sains Universitas Parahyangan, Bandung, yang membikin game Tahu Bulat bersama adiknya, Jefvin Viriya (21), di bawah nama Own Games. Sejak diluncurkan di Play Store, game tersebut ternyata mendulang sukses. Sampai tulisan ini dibuat, game itu telah di-instal sebanyak 5-10 juta kali. Berkat itu, Eldwin pun berhasil meraup uang ribuan dollar.

inilah game tahu bulat buatan eldwin viriya dan jefvin viriya/ http://metrotvnews.com

Kemudian, bagaimana dengan industri game pada tahun 2017? Saya pribadi memandang bahwa industri game tanah air akan mengalami perkembangan pada tahun depan. Akan ada pemain baru di kancah industri game nasional. Apalagi kini sudah ada Badan Ekonomi Kreatif, yang mewadahi, membina, dan menaungi pada pemain game lokal. Jadi, kita tunggu saja kiprah para gamers pada tahun depan.

Salam.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline