Ketika Marselino Ferdinan duduk di kursi lipat ofisial setelah mencetak gol kedua ke gawang Arab Saudi, itu lebih dari sekadar selebrasi.
Dia menoleh ke arah tribun dengan napas terengah-engah, kakinya menapak bola, tatapannya menyampaikan sikap yang bisa diartikan dengan berbagai cara: percaya diri, dominan, tengil, atau barangkali semua itu sekaligus.
Adegan ini, tertangkap sempurna dalam bidikan kamera, gambar itu telah berkata lebih lantang daripada selebrasi lainnya di lapangan hijau.
Tidak ada teriakan atau lompatan. Hanya keheningan penuh perhitungan, seakan dia tahu---sebenarnya dia harus tahu---bahwa lebih dari sekadar pertandingan, ini adalah sebuah pertunjukan.
Dan siapa yang bisa menyalahkan dia? Di dunia kita yang sudah sepenuhnya menjadi "tontonan," seperti yang pernah diungkapkan oleh Guy Debord, perayaan tidak lagi semata tentang momen itu sendiri.
Kita sudah lama pindah dari era perayaan otentik menuju era perayaan representasi.
Marselino, di usianya, tampaknya sangat paham bahwa aksi dan ekspresinya akan lebih lama hidup dalam foto dan video ketimbang dalam ingatan orang-orang yang hadir di stadion malam itu.
Sejak momen itu terjadi, jagat media sosial riuh rendah. Ada yang memuji selebrasi "canggih" ini, menganggapnya sebagai simbol dari ketenangan dan dominasi ala superstar.
Ada pula yang mengejek, menyebutnya sebagai sikap "sok" yang terlalu percaya diri.
Namun, yang jelas, selebrasi ini sukses menjadi simbol, baik bagi Marselino maupun bagi sepak bola Indonesia secara umum.