Lihat ke Halaman Asli

Tidak Semua Polisi Korup, Tidak Semua Pegawai Pajak Mau Disuap

Diperbarui: 24 Juni 2015   06:47

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Dikotomi polisi baik dan polisi buruk sudah begitu  terpatri dibenak warga negara Indonesia. Berurusan dengan polisi berarti harus siap menerima masalah baru, jika yang mempunyai masalah berhadapan dengan "bad cops". Sebaliknya, sedikit sekali masalah akan tuntas apabila ditangani oleh Polisi. Kita lapor kehilangan kendaraan, alih-alih polisi dengan sukarela akan menjalankan tugasnya mencarikan. Kadangkala pemilik motor yang hilang akan  ditarik dana dengan alasan untuk biaya operasional, atau jika  sudah ditemukan barang tidak serta merta bisa diambil, pemilik harus menyediakan uang tebusan yang besarnya bervariasi. Lha, daripada barang hilang sama sekali, mending berkorban sedikit, khan?.

Setali tiga uang dengan kepolisian, berurusan dengan pajak berarti juga kita harus siap menyiapkan "fulus". Yang ini pasti, nggak mungkin kita bayar pajak pakai daun, bro. Penghasilan kita berupa uang, ya bayar pakai uang. Pegawai pajak terkenal dengan karakter kongkalikongnya, bisa diajak main mata dan paling bijak kalau diajak kompromi dengan wajib pajak. Alasan mereka ini adalah bagian dari "customer service" kepada pelanggan. Sama-sama diuntungkan, wajib pajak bisa mengurangi pajak yang seharusnya dibayar, pegawai pajak bisa menebalkan pundi-pundi uangnya dengan kemampuannya memanipulasi perhitungan. Yang dirugikan tetap negara, mereka berdua yang untung. Kasus Gayus adalah contoh konkrit betapa tajirnya pegawai pajak. Masih muda, Golongan baru IIIA, gaji 12jt/bulan, namun kekayaannya mencapai Rp 25M plus uang asing senilai Rp. 60M dan perhiasan senilai Rp 14M atas nama istrinya, sangat menggiurkan. Masih ada ribuan miliader muda model Gayus di kantor pajak. Walaupun begitu, ternyata Gayus telah menginspirasi begitu banyak orang. Penyamaran Gayus dengan berbagai macam model pernah menjadi tren banyak komedian di Indonesia. Bahkan berkah Gayus juga menginspirasi Bona Paputungan menciptakan lagu berjudul "Andai Aku Jadi Gayus Tambunan". Jadi duit lagi. Dampaknya lagi, nama Gayus ternyata lebih populer dibandingkan dengan instansinya. Kalau dulu kernet Metro Mini kalau lewat kantor Ditjen Pajak akan teriak "pajak, pajak", sekarang kernetnya akan teriak "gayus, gayus". Hidup Gayus!!!.

Hidup didalam sistem kedua lembaga tersebut memang susah. Menjadi minoritas ditengah mayoritas berarti harus siap berkorban, termasuk korban perasaan. Jika ingin jujur, mereka harus siap terkucil ditengah rekan-rekannya, atau siap menjadi karyawan paling miskin dilingkungannya. Berapa persen yang mau menjadi seperti itu?. Berapa persen yang berani mengatakan "saya tidak mau korupsi". Sekuatnya iman, kalau dihadapkan dengan godaan seperti itu, saya yakin TIDAK AKAN KUAT. Namun, adakah diantara mereka yang mampu menahan godaan yang demikian kuatnya?. Ternyata  ada beberapa kisah teman yang bisa mendapatkan acungan 4 jempol, mereka hidup dengan kekuatan menahan gempuran untuk menjadi kaya.

Seorang teman SMA saat ini Polantas berpangkat AIPTU di salah salah satu Polsek di Semarang, namanya Toni. Hidupnya tetap bersahaja, bahkan ketika pernah kantongnya "cekak" dia menawarkan komputernya untuk dijual kepada saya. Ini aneh, beberapa teman polisi yang saya kenal, dengan pangkat yang sama bahkan lebih rendah, malah mempunyai mobil sendiri. Dia pernah cerita kepada saya, seringkali kasihan apabila harus menilang pelanggar, namun karena dia ditarget setiap harinya terpaksa surat tilang dia keluarkan, kompromi dibalik surat tilang "jarang" sekali dilakukan. Pernah ada bis yang melanggar rambu lalu-lintas, bukan surat tilang yang dikeluarkan, kondektur dan sopir malah disuruh push up dipinggir jalan. Saya tanya, kok nggak ditilang?. Kasihan katanya, masih pagi belum ada setoran. Hehehe...

Masyarakat telah memukul rata Gayus dan koleganya sebagai typikal umumnya orang pajak, korup kelas berat. Dalam sebuah milis, seorang pegawai pajak bernama Arif Sarjono, lulusan STAN 1992,mengaku sampai sekarang tidak pernah memakai uang sepeserpun uang suap atau pun uang yang bukan haknya selaku pegawai pajak. Amplop yang diberikan atasannya yang berasal dari suap dia kembalikan sebelum dibuka. Hidup bersih dilingkungan kantornya memang susah, katanya. Dia sering dibujuk untuk "kompromi" dengan wajib pajak, tapi dia tidak mau. Akibatnya, pernah dia dipanggil atasannya karena dianggap membangkang. Arif mengaku, gajinya pas-pasan, bahkan ketika anaknya harus operasi mata, dia tidak punya uang. "Alhamdulillah, tiba-tiba datang teman lama yang tanpa sepengetahuan saya membayar semua operasi anak saya" kata Arif. Kejadian aneh itu terjadi dua kali, katanya ini adalah berkah. Arif sampai saat ini bisa menikmati hidupnya dengan tenang, tidak stress dan tidak cemas hartanya diaudit oleh KPK, dan dia sampai sekarang masih hidup bebas, tidak terpenjara diterali besi. Lebih nikmat, khan?.

Kalau kita mau mencari, sebenarnya masih banyak Tono dan Arif di kedua instansi tersebut. Masih ada yang mau hidup bersahaja menghitung hari dengan segala kekurangannya. Masih ada yang bersedia tidak mencari jalan pintas mengeruk kekayaan, dengan merugikan pihak lain.

Salam bersahaja.




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline