Lihat ke Halaman Asli

Menulis di Koran itu Mudah, Begini Caranya..

Diperbarui: 18 Mei 2017   16:00

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kamu seorang yang suka menulis, dan kemudian sudah berusaha (sering) mengirim tulisan ke media massa, baik koran, majalah, ataupun tabloid. Namun, selalu berakhir dengan ‘gemes’ karena yang dimuat ternyata tulisan orang lain. Tenang aja, bukan hanya kamu yang ngalamin, saya juga pernah ngalamin. Ada puluhan atau bahkan ratusan penulis yang pernah kecewa, karena tulisannya tidak lolos oleh redaksi.

Memang, kadang di mata penulis yang gagal, redaksi menjadi momok yang menjengkelkan. Kamu akan dibuat ‘gregetan’ antara benci dan rindu. Karena ternyata setiap kali mengirim tulisan ke media massa, toh ternyata tidak ada satupun tulisan kamu yang ‘nongol’ di koran. Kamu akan benci tetapi ke-esokan harinya kamu pasti akan senang hati untuk kembali mengirim tulisan lagi ke redaksi, ya, begitulah siklus penulis. Hubungan antara penulis dengan redaksi gemes-gemes rindu.

Ketika hari ini tulisanmu tidak terbit, kuncinya cuma satu, ‘coba lagi’. Benahi tulisanmu, edit dan kemudian kirim lagi, jika tidak dimuat lagi, ‘istighfar’ kemudian edit dan kirim lagi. Siapa tahu, besok dimuat.  Karena redaktur juga manusia, sesadis-sadisnya redaktur, dia memiliki naluri kemanusiaan. Jika kamu rajin ngirim tulisan ke media tersebut, dan nggak pernah dimuat, bahkan untuk yang ke seratus kali barangkali, redaksi juga akan memperhatikan namamu yang sudah berkorban dan jerih payah itu. Bukankah kamu tahu, bahwa setiap usaha tidak akan pernah ada yang berakhir dengan kata sia-sia. Kan gitu. Hee.

Begini, saya kasih tau. Setiap harinya, ada banyak penulis yang menginginkan tulisannya dimuat dimedia massa, dan bisa dibaca ratusan atau bahkan ribuan pembaca. Maka sangat wajar jika ada banyak juga penulis yang harus kecewa karena tulisanya di tolak redaksi. Yang harus kamu lakukan cuma bersabar, pantang menyerah dan belajar lagi trik menulis untuk media massa.

Dari ratusan trik menulis. dalam tulisan ini, saya rangkumkan poin penting untuk kamu. ya, kamu. Ada beberapa langkah yang harus kamu perhatikan sebelum akhirnya ‘sakit hatimu’ karena tulisannya di tolak oleh redaksi terbayar lunas. Beberapa langkah tersebut saya buat sesederhana mungkin supaya bisa cepat di pelajari bagi penulis pemula untuk membalas sakit hatimu di meja redaksi. Seperti dendam, sakit hati juga harus dibayar lunas-tuntas, sampai tulisanmu jebol media massa.

-Koran yang Akan di Tuju, Pahami Model Tulisannya

Salah satu langkah sebelum kamu memutuskan untuk mengirim naskah ke meja redaksi sebuah media massa. Hal yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah memahami model tulisan. Seorang penulis harus tahu, bahwa setiap media massa memiliki model dan kriteria kepenulisan masing-masing. Hal ini juga berkaitan dengan ruang (space) yang di sediakan oleh media yang akan kamu tuju. Karena kalau kita bicara media massa, maka setiap jengkal space adalah uang. Setiap ruang adalah pundi-pundi rupiah. Makanya Ia tak mau kompromi dengan space yang longgar.

Seperti gadis, media massa juga butuh untuk di perhatikan. Caranya? Kamu harus membaca dan memperhatikan model kepenulisan media yang akan kamu kirimi tulisan. Itu penting. Supaya kamu benar-benar paham apa yang di inginkan media tersebut.

Begini, semisal kamu akan mengirim naskah artikelmu ke koran Kedaulatan Rakyat, di koran KR space yag disediakan untuk artikel mahasiswa sekitar 3000-3500 karakter, dengan model penulisan yang utuh, jelas dan padat. Biasanya penulisan artikel di KR juga sangat memperhatikan data yang di gunakan, dan tulisan artikel harus sedikit banyak mengandung nilai-nilai edukasi, tidak terkesan memprovokasi. Ini salah satu ciri-ciri artikel mahasiswa di koran tertua di Jogjakarta tersebut.

Maka langkah yang harus kamu perhatikan. Pertama, kamu harus memastikan bahwa panjang artikelmu jangan sampai melebihi sepace yang disediakan, pun juga jangan sampai artikelmu kurang dari space yang di butuhkan. Jika spacenya 3000-3500 kata, maka usahakan panjang tulisanmu masuk kriteria itu. jangan terlalu panjang, dan jangan terlalu pendek. selain itu, pahami juga model kepenulisan, karena ada sebagian media massa dengan rubrik tertentu yang hanya menginginkan pada tema-tema tertentu. Jadi, memahami model tulisan media massa itu sangat penting, supaya tulisanmu tidak mengendap di meja redaksi, tetapi bisa tayang dan mengilhami penulis yang lain.

Memahmi model tulisan ini saya sebut sebagai ‘sasaran tembak’. Sebelum nulis kamu harus fokus terlebih dulu sasaran tembakmu, untuk media mana? Rubrik apa? Itu yang pada akhirnya akan menentukan model dan pembahasan model artikel yang kamu tulis.Kebanyakan penulis pemula, satu artikel biasanya dikirim ke berbagai koran. NO, itu cara yang keliru. hilangkan kebiasan itu. disamping merugikan, kamu juga terkesan tidak profesional.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline