Lihat ke Halaman Asli

Sri Wintala Achmad

TERVERIFIKASI

Biografi Sri Wintala Achmad

Menguak Makna Tradisi "Padusan", "Punggahan", dan "Nyekar"

Diperbarui: 18 Mei 2018   13:56

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

thirdwayman.com

BAGI umat Islam berkewajiban untuk menyempurnakan rukun iman, salah satunya yakni berpuasa di bulan Ramadham. Pelaksanaan puasa ini berdasarkan firman Allah SWT sebagaimana terteta pada surat al-Baqarah ayat 183: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa."

Disebutkan bahwa berpuasa di bulan Ramadhan ditujukan agar umat Islam semakin bertakwa kepada Allah. Mematuhi seluruh perintah-Nya. Mengutamakan laku kebajikan dan menjauhi laku angkara murka. Suatu laku negatif yang merefleksikan persekutuan dengan iblis hingga berpotensi memicu kehancuran dunia.

Mengacu beberapa sumber, puasa di bulan Ramadhan bukan hanya mampu meningkatkan takwa umat Islam kepada Allah, namun pula dapat mengendalikan empat warna nafsu manusia, yakni: hitam (aluamah), kuning (supiyah), merah (amarah), dan putih (mutmainah). Sehingga, keseimbangan hubungan jiwa dan raga yang dapat menciptakan suasana tenang, tenteram, dan damai niscaya terwujud.

Para ahli kesehatan berpendapat bahwa berpuasa di bulan Ramadhan memiliki sepuluh manfaat, yakni: meningkatkan detoksifikasi, menyehatkan sistem pencernaan, mengatasi peradangan, mengurangi kadar gula darah, meningkatkan pembakaran lemak, mengurangi hipertensi, menjaga berat badan, merealisasikan diet yang sehat, meningkatkan kekebalan tubuh, dan mengatasi kecanduan.

Dengan memahami manfaatnya, umat Islam akan semakin mantab untuk menunaikan ibadah puasa. Namun sebelum berpuasa, umat Islam perlu menyucikan batin dan raga. Menyucikan batin dengan membangun niat dan motivasi yang kuat di dalam berpuasa. Menyucikan raga dengan membersihkan sekujur tubuh dengan air suci yang melambangkan penyucian wadah atas isi (manfaat puasa).

Padusan

DI LINGKUP masyarakat Jawa, tradisi penyucian raga sebelum umat Islam berpuasa dikenal dengan padusan -- mandi dengan tujuan menyucikan raga. Tradisi yang dilakukan pada sore hari sebelum malam punggahan (malam tarawih pertama) biasanya dilakukan secara beramai-ramai oleh umat Islam baik di sumber, sendang, sungai, maupun tempuran sungai berair jernih.

https://jateng.antaranews.com

Dalam melakukan tradisi padusan, terdapat suatu aturan tidak tertulis. Di mana kaum lelaki dan perempuan yang melakukan padusan harus mandi keramas. Mereka yang mandi di ruang terbuka tidak diperkenankan telanjang. Kaum lelaki harus mengenakan celana pendek. Kaum perempuan harus mengenakan jarit (kain) yang menutup aurat dari mata kaki hingga atas payudara. Sementara perempuan yang tengah menstruasi tidak diperkenankan melakukan padusan. Mengingat ia tidak diwajibkan untuk berpuasa.

Seusai melakukan padusan, umat Islam akan merasa memiliki tekad yang bulat untuk melakukan ibadah puasa selama sebulan. Fakta ini menunjukkan bahwa padusan menjadi kunci pembuka pintu gerbang sebelum memasuki ibadah puasa yang tidak lepas dari rintangan dan godaan.

https://www.antarafoto.com

Selain tradisi padusan, masyarakat Jawa pula melaksanakan tradisi punggahan  pada malam tarawih pertama. Dalam tradisi punggahan, umat Islam berdoa bersama di bawah pimpinan seorang kiai. Sesudah berdoa, mereka menyantap nasi gurih (nasi uduk) berlauk ingkung yang melambangkan niat suci untuk berpuasa selama sebulan penuh.

Nyekar

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline