Lihat ke Halaman Asli

Abul Muamar

Editor dan penulis serabutan.

Pragmatisme Pedagang Kuliner di Jogja

Diperbarui: 15 Juli 2018   15:13

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Nasi bungkus di Jogja (foto: Dok. Pribadi)

Hidup di kota dalam banyak aspek memang jauh lebih memudahkan dibanding di desa. Di kota, akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, dan berbagai fasilitas dan kebutuhan lainnya, mulai dari yang primer sampai yang tersier, yang nyata maupun yang semu, jauh lebih mudah dijangkau.

Meski begitu, kota tetap meninggalkan banyak kekurangan, antara lain misalnya keamanan yang rawan, tingkat kriminalitas yang tinggi, sikap masyarakatnya yang cenderung acuh tak acuh, dan lingkungan yang cenderung kurang sehat.

Sampai di sini, kita harus bisa menerimanya dengan hati lapang, karena memang demikian niscayanyalah kekurangan-kekurangan tersebut. Dengan pola kehidupan yang diburu oleh macam-macam kesibukan, dengan perantau dari berbagai asal, manalah mungkin kita bisa mengelak dari kenyataan-kenyataan demikian.

Tapi malangnya, kekurangan-kekurangan itu masih ditambah lagi dengan satu perkara yang agaknya selama ini kurang mendapat perhatian: penyajian kuliner yang banal.

Saya sadar, akan ada banyak dari Anda yang tak bersepakat dengan pendapat saya ini. Siapa bilang makanan di kota tidak enak? Begitu kira-kira, bukan? Saya toh memang tidak ada mengatakan demikian.

Untuk itu, saya perlu menjelaskan di sini, bahwa banal yang saya maksud adalah penyajian yang cenderung asal jadi, tidak berorientasi pada kualitas masakan, dengan bahan mentah yang semurah-murahnya, demi mendapatkan laba yang sebesar-besarnya.

Ini memang sudah jadi watak hampir semua pedagang makanan di kota-kota padat pendatang. Jika di kampung para pedagang makanan berjerih payah membuat makanan yang bermutu demi mengais sedikit untung dari pembeli yang jumlahnya tak banyak; di kota, sebaliknya, para pedagangnya akan berlomba-lomba membuat makanan dengan cara yang sebanal-banalnya, tak peduli masakannya enak atau tidak, karena tahu bahwa bagaimanapun cita rasa yang dihasilkan, tetap akan ada yang membeli.

Contoh paling nyata dan aktual, yang barangkali selamanya ini kurang Anda perhatikan, adalah soal bungkusan makanan. Di kota, betapa ajaib kalau kita bisa menemukan entah itu nasi rames atau nasi goreng atau lotek yang dibungkus dengan daun pisang.

Bahkan, tak jarang, sekadar lapisan dalamnya pun tidak. Luar kertas, dalam pun kertas. Kalau sudah begini namanya Insya Allah healthy inside fresh outside. Dan ini adalah momentum ketika pedagang makanan sudah tak lagi memartabatkan pembelinya.

Celakanya, yang demikian saya temui pula di Jogja, kota yang konon disebut-sebut sebagai kota budaya, kota tradisi. Tentu saya bisa maklum jika hal demikian saya temui di kota-kota besar metropolitan macam Jakarta, Bandung, Surabaya, dan kota asal saya, Medan.

Tapi ini Jogja! Jogja gitu lho! Kota yang selama ini diasumsikan sebagai kota yang menjaga nilai-nilai luhur dan tradisi. Maka betapa berat saya menerima kenyataan bahwa para pedagang di kota yang anyem tentrem ini jarang ada pedagang makanan yang pakai daun pisang untuk membungkusi jualannya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline