Lihat ke Halaman Asli

Muhammad Ruslan

Pemerhati Sosial

Makrifat dan Tugas Kemanusiaan Kita di Hari Kurban

Diperbarui: 12 September 2016   17:53

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

sumber gambar: www.rabithah-alalawiyah.org

“Kalau saja saya seorang aktivis, maka saya akan lebih dulu membela manusia-manusia tertindas (membela hak asasi manusia), sebelum membela hak asasi hewan”. Begitu ujarku dengan nada bercanda kepada seorang kawan yang mengajakku berdiskusi ringan beberapa hari yang lalu. Sambil beranjak memperlihatkan lewat smartphonenya: Serangkaian aksi telanjang (setelah disensor) aktivis PETA (People for the Ethical Treatment of Animals) saat mengampanyekan vegetarian di Sao Paulo, Brasil, bulan Agustus silam.

Dengan nada bercanda lagi saya sambung, “Aku juga kadang-kadang bingung Bung, terlalu mudah kita berempati pada hewan daripada manusia. Hampir tiap hari kita selalu bicara hak asasi hewan, tapi luput memantik rasa simpati atas banyaknya ketertindasan manusia? Kenapa terlalu mudah muncul ide dalam kepala kita keinginan untuk membebaskan semua binatang di Kebun Binatang Bogor, daripada membebaskan buruh tertindas di pabrik-pabrik miliki Bakrie? Hahahaha. Kami lantas tertawa. Begitulah kami bercanda dan menularkan pikiran tanpa ada hal tabu. Banyak hal yang membuat saya hormat dengan kawan saya ini: salah satunya pilihannya untuk menjadi pecinta semua jenis binatang. Hehe.

Kawan saya ini memang seorang vegan yang taat—bahkan sangat taat menurutku. Ia seorang, bisa dibilang pemerhati kalau bukan aktivis hewan. Aku menghormati pilihan ideologisnya. Begitupun ia, meski saya bukan vegan ia juga menaruh hormat atas pilihan saya. Karena seperti yang selalu dia bilang: vegan itu adalah pilihan! Dan tidak ada yang harus dipersoalkan atas pilihan-piihan itu.  

Hari ini tepat Hari Idul Adha, hari yang disimbolkan sebagai hari berqurban bagi umat Muslim seperti saya. Kawan saya mengajak saya ngobrol lewat chat, sekaligus men-share banyak artikel ke saya dengan segenap gambar-gambar yang menuai keprihatinan: mulai dari gambar sapi yang meneteskan air mata, sampai gambar-gambar ‘sadis’ penyembelihan.

Saya ikut menaruh rasa prihatin atas keprihatinannya. “Saya sepakat (dengan keprihatinanmu),” begitu balasku. “Penyembelihan secara sadis dalam konteks apapun adalah tindakan yang tidak manusiawi,” ujarku. Mulailah saya menyambung diskusi. Berusaha untuk membedakan: mana penyembelihan hewan secara barbar untuk kepentingan pasar dan yang mana pemotongan hewan untuk kepentingan sosial-spritual Idul Adha.

Dua hal di atas di beberapa artikel ataupun komentar yang saya baca, sepertinya luput untuk dibedakan dengan jelas. Sehingga potensi kesalahan tafsir bisa terjadi. Sehingga dapat berpotensi salah persepsi: mempersepsi Idul Adha sebagai tradisi barbar?

Beberapa waktu silam. Kami menonton video tentang bagaimana praktik pemotongan hewan dan pengolahan daging hewan lewat mesin untuk kepentingan industri. Sungguh sangat memantik rasa prihatin. Penyembelihan hewan secara sporadis dengan alat penyedot, hingga kemudian dikunyah-kunyah oleh mesin pengunyah dalam kondisi hewan itu: setengah hidup-setengah mati. Lagi-lagi konteksnya untuk kepentingan pasar: bisnis daging-dagingan, yang sampai saat ini produknya tergolong paling banyak digemari oleh konsumen dengan selera gengsi yang tinggi seperti mekdi, cocis, dll.

Mulailah saya menanggapi, bahwa dalam Islam (sesuai kadar pahaman saya) produk yang dihasilkan dari proses itu sudah jelas haram! Bagi saya, ada dua kaidah Islam menetapkan haram tidaknya suatu produk yakni melihat sisi proses dari dua sisi yakni: sisi proses produksi dan sisi relasi sosial produksi yang ada. Sisi proses produksi secara fiqih menempatkan bahwa kalau saja ia adalah olahan daging, tetapi diperoleh dari penyembelihan secara barbar maka jelas ia menjadi haram (termasuk di dalamnya bahan-bahan yang membahayakan lainnnya). 

Yang kedua secara relasi sosial produksi: Kalau saja produk itu dihasilkan dari proses penindasan terhadap manusia (seperti buruh, pekerja, masyarakat adat, dll), maka bagi saya fiqh sosialnya atas produk itu menjadi bermasalah. Ini alasan praksis, atas konsepsi penolakan Islam atas segala bentuk kegiatan bisnis yang dibangun beralaskan eksploitasi manusia di atas manusia.

Bagaimana dengan Idul Adha? Apa sebenarnya hakikat dari Idul Adha yang membuat kita mentradisikan pemotongan hewan?

Menurut sejarah, dari cerita-cerita tentang Nabi Ibrahim, kita tahu bahwa sejarah kurban adalah sejarah pengorbanan. Sejarah tentang pengorbanan untuk pembuktian cinta manusia kepada Tuhan. Yang pada hakikatnya sekaligus sejarah atas komitmen cinta manusia atas manusia sebagai konskuensi kecintaan manusia atas Tuhan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline