Hanya ada di Sumbawa peristiwa PDI Timor cabang Sumbawa dilikuidasi ke GESINDO. Penyatuan PDI Timor (Cabang Sumbawa) ke dalam GESINDO di Sumbawa pada bulan Desember 1946
Sedangkan di wilayah Timor (Kupang), PDI Timor menjadi parpol terkuat setelah I.H. Doko menjabat Menteri moeda Penerangan di NIT. PDI Timor memiliki lebih dari 7000 anggota dari berbagai etnis dan punya tata organisasi yang rapih.
Kepemimpinan PDI Timor dipegang oleh I.H. Doko, penanggung jawab: H.A.Koroh (raja Amarasi), Wakil ketua: F. Ndaumanu, sekretaris: B.Sahettapy-Engel dan Besy.
PDI Timor punya cabang di Rote (dipimpin oleh Eluama), Kupang (oleh Daulima), Sawu (oleh Rahja), Ruteng (oleh Abdoelrahman), Oesao (oleh DA Johannes), Tjamplung (Rohi), Soe (Baloek), Atamboea (Laloejan) dan Waingapu (Malada dan Dillak). Organisasi ini ada juga di Ende, Bima, Dompu, Kalabahi dan Adonara.
Kekuatan PDI Timor di Timor (selain di Sumbawa) ternyata masih yang terkuat. PDI Timor memiliki beberapa organisasi kecil sebagai anggota yaitu: SKBI (Serikat Kaoem Buruh Indonesia), PPI (Persatoean Pedagang Indonesia), PGI (Persatoean Goeroe Indonesia) dan PORT (Persatoean Olahraga Timor). PDI Timor menjalin hubungan dengan Demoratichen Party pimpinan J.Th. A. Rissink di Batavia.
Di Kupang, PDI Timor bekerja sama dengan IKVP (Indisch Katolieke Volks Partij). Dalam Parlemen NIT, PDI Timor dan IKVP mendudukkan 2 orang anggota, sehingga I.H. Doko menjadi Menteri moeda Penerangan NIT.
Lima serangkai memiliki faham politik yang rumit. Salah satu anggota kelompok ini adalah Persatoean Timor Besar (PTB) yang didirikan pada 22 Januari 1947 atas inisiatif 500 orang anggota militer, pensiunan militer Ambon, Menado dan Timor. Jadi di PTB terdapat anggota-anggota KNIL.
Tujuan PTB, yaitu: meskipun pro Belanda namun PTB menolak pembentukkan NIT, dan tetap menjalin kerja sama dengan Belanda.
Untuk membentuk kelompok Lima Serangkai, Belanda menggabungkan PTB dengan 4 organisasi politik lainnya, yaitu: Indo-Europees Verbond (IEV), Democratisce Bond van Indonesia (DBI), Persatoean Kaoem Maloekoe (PKM) dan Persatoean Selatan Daya (PSD). Mereka berikrar setia terhadap Belanda.
Dalam perkembangannya, beberapa raja Timor bersimpati dengan perjuangan kelompok lima serangkai ini, seperti: Toereli Adoe, H. Koroh (raja Amarasi), raja A. Nisnoni (raja Kupang), raja Abdoelrahman (Ende), J.D.D. Ngale (raja Nagekeo), raja Tanggoe Bili, raja Umboe Hapoe, raja H.R. Heroe dan Sultan Sumbawa.
Kontra antara PDI Timor yang nasionalis dengan lima serangkai yang pro Belanda terus berlangsung hingga akhir masa kolonial tahun 1950.