Mohon tunggu...
Amirsyah Oke
Amirsyah Oke Mohon Tunggu... Administrasi - Hobi Nulis

Pemerhati Keuangan negara. Artikel saya adalah pemikiran & pendapat pribadi.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Ada Niat, Orang Miskin pun Bisa Berqurban

4 Oktober 2014   16:08 Diperbarui: 17 Juni 2015   22:25 154
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Setiap tahun umat Islam merayakan dua hari raya keagamaannya yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Untuk Idul Adha, masyarakat Indonesia sering menyebutnya sebagai Hari Raya/Lebaran Haji atau Qurban. Sebutan tersebut muncul karena pada perayaan Idul Adha berkenaan dengan pelaksanaan ibadah Haji di Mekkah yang diiringi dengan ibadah qurban dengan menyembelih hewan yang disyaratkan seperti kambing, domba, sapi, kerbau atau unta.

Ibadah qurban dilaksanakan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ibadah yang dilakukan sebagai perwujudan rasa syukur atas semua nikmat yang tak terhitung banyaknya dari Allah SWT. Ibadah qurban ini pun akan diganjar dengan sangat banyak pahala yaitu berupa kebaikan dari setiap helai bulu dan pengampunan dosa dari setiap tetes darah hewan yang diqurbankan.

Berqurban merupakan ibadah Sunnah Muakkadah, yaitu tidak wajib namun sangat dianjurkan, sehingga Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkannya. Bagi umat Islam yang tidak mampu, ibadah ini tidak perlu dilakukan. Justru mereka yang tidak mampu akan mendapatkan pembagian daging hewan qurban sehingga diharapkan saat perayaan Idul Adha, semua masyarakat dapat bergembira ria merasakan mengkonsumsi daging yang mungkin saja sangat jarang bisa dilakukan karena keterbatasan ekonomi.

Mungkin karena merupakan ibadah yang sangat dianjurkan dan sangat banyak pahalanya, maka banyak umat Islam berbondong-bondong melaksanakan ibadah qurban ini. Yang melaksanakan qurban pun bukan hanya dari golongan berpunya, mampu, kaya dan banyak harta. Dari golongan ekonomi lemah pun cukup banyak yang berupaya agar bisa berkurban. Berbagai media banyak yang memberitakan beberapa kisah dari masyarakat yang pas-pas-an bahkan kekurangan dalam kehidupannya, namun ternyata bisa berqurban dalam perayaan Idul Adha. Mereka yang berasal dari golongan ekonomi lemah tersebut ternyata telah menabung jauh-jauh hari sebelumnya bahkan ada yang beberapa tahun sebelumnya agar suatu saat bisa terkumpul uang yang cukup untuk membeli hewan yang disyaratkan bahkan yang terbaik untuk diqurbankan. Mereka rela menahan berbagai keinginannya bahkan rela tetap kekurangan setiap harinya agar suatu saat kelak bisa berqurban.

Disisi lain, cukup banyak mereka yang mampu secara ekonomi namun belum mau berqurban. Mereka tidak bisa disalahkan karena memang ibadah qurban adalah ibadah sunnah yang tidak memiliki konsekuensi dosa bila tidak dilaksanakan. Bisa jadi mereka yang belum mau berqurban tidak tahu banyaknya manfaat dan pahala yang bisa didapatkan, ataupun bisa jadi tahu namun merasa belum ingin untuk mendapatkannya.

Bagi mereka yang sangat ingin berqurban namun merasa belum mampu karena alasan ekonomi yang pas-pas-an, penghasilan hanya cukup untuk menutupi pengeluaran setiap bulan, mungkin bisa meniru kisah-kisah masyarakat tidak mampu bahkan yang kekurangan namun berusaha menabung sedikit demi sedikit demi bisa berqurban. Bisa dilakukan dengan mengurangi atau bahkan meniadakan pos-pos pengeluaran yang kurang/tidak penting.

Misalnya mereka yang merokok mencoba mengurangi bahkan berhenti merokok. Bila setiap hari menghabiskan satu bungkus rokok seharga Rp10.000,-, maka dikurangi menjadi setengah bungkus akan tersisa dana Rp5.000,- sehari. Dalam sebulan terkumpul Rp150.000,- dan setahun menjadi Rp1.800.000,-. Jumlah tersebut sudah melebihi harga hewan qurban berupa Kambing yang saat ini harganya mulai satu juta-an. Apalagi bila sama sekali berhenti merokok, maka akan terkumpul Rp3.600.000,- setahun setara dengan sekitar tiga ekor kambing untuk diqurbankan. Walau hanya berqurban seekor kambing saja, maka masih tersisa uang yang relatif besar untuk keperluan yang lebih bermanfaat, misalnya keperluan sekolah anak, untuk modal usaha kecil-kecilan ataupun sekadar ditabung untuk keperluan mendesak di lain waktu. Bagi mereka yang tidak merokok, hal yang sama bisa dilakukan dengan mengurangi pos pengeluaran lainnya yang tidak mempengaruhi kualitas kehidupan misalnya pembelian pulsa, uang jajan, menghemat pembelian bahan bakar minyak dengan mengurangi penggunaan kendaraan, dan lain sebagainya.

Perayaan Idul Adha yang mengiringi Ibadah Haji dan Ibadah Qurban memang memberi banyak pelajaran untuk umat Islam. Upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT akan berdampak luar biasa bagi kehidupan manusia. Ternyata sangat memungkinkan setiap kita bisa berqurban walaupun sedang dalam kondisi yang pas-pas-an bahkan kekurangan. Dimana ada niat yang kuat, maka akan muncul semangat dan usaha untuk mewujudkannya sebagaimana tiga kisah di bawah ini:


  1. Fuad, seorang siswa kelas 8 SMP Juara Bandung (sekolah gratis berkualitas binaan Rumah Zakat) yang berasal dari keluarga kurang mampu. Selama 1 tahun 2 bulan, Fuad menabung dari upah berjualan yoghurt agar bisa membeli seekor kambing untuk diqurbankan pada perayaan Idul Adha. *1).
  2. Yati (55 tahun), seorang pemulung yang menabung untuk berqurban.
    Pendapatannya bersama sang suami dari memulung jika digabung hanya Rp25 ribu per hari. Untuk menambah penghasilan, suaminya ikut menarik sampah di sekitar Tebet. Akhirnya setelah tiga tahun mereka bisa membeli kambing untuk berqurban. *2)

  3. Rasma (61), seorang pemulung menabung selama lebih dari setahun, agar bisa membeli kambing seharga Rp2 juta untuk berkurban. Setiap hari, bangun pukul 03.30 WIB ngumpulkan sampah bekas dari rumah ke rumah, juga mengumpulkan dan menjual nasi aking. Rata-rata penghasilan sehari antara Rp5.000,- s.d. Rp7.000,-. Disisihkan Rp2.000,- s.d. Rp3.000,- per hari untuk ditabung demi niat membeli hewan kurban. *3)

Niat baik yang tulus memang merupakan salah satu pendorong semangat untuk melakukan sesuatu yang sekilas tampaknya diremehkan namun mampu memberikan hasil dan bukti yang nyata. Semangat dari saudara kita yang berasal dari golongan ekonomi lemah di atas, untuk berqurban dalam rangka melaksanakan perintah Allah SWT, benar-benar luar biasa. Penulis yakin masih banyak masyarakat kita yang seperti itu, baik dari kalangan ekonomi atas, menengah hingga bawah. Mereka memiliki niat baik yang tulus sehingga tidak ragu untuk bertindak nyata bahkan berkorban demi kebaikan dan sesama.

Indonesia akan makin maju dan bermartabat bila makin banyak bahkan sangat banyak orang-orang seperti mereka, yang rela berkorban meskipun hidup pas-pas-an bahkan kekurangan. Ah, penulis benar-benar malu dibuatnya. Semoga penulis bisa menirunya atau setidaknya mendekati niat dan usaha mereka.

Selamat Merayakan Idul Adha atau Lebaran Haji atau Lebaran Qurban. Salam.

Sumber:

*1) Hebat, Siswa SMP tak Mampu Ini Berkurban dari Hasil Jualan Yogurt

*2) Setelah Menabung 3 Tahun, Pemulung Itu pun Berqurban 2 Kambing Terbesar

*3) Nenek Pemulung Berkurban dari Hasil Menabung Rp 2 Ribu per Hari

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun