Ketika SMP, kesulitan saya terhadap pelajaran Eksak baru terasa. Matematika, yang saya kuasai hanya "matematika dasar", lalu pelajaran IPA, yang saya cukup kuasai hanya Biologinya saja, sedangkan Fisikanya malah kerepotan. Padahal 2 pelajaran itu digabungkan menjadi satu dalam pelajaran IPA, meski guru yang mengajarnya berbeda.
Anehnya, ketika SMP, guru yang mengajar pelajaran Matematika dan Fisika, selalu tampak (maaf) tak "menarik hati" saya. Mungkin hanya Guru Biologi ketika kelas 1 SMP saja yang berkesan bagi saya, karena selain wajahnya terlihat teduh, gaya bicaranya kalem dan keibuan, cara mengajarnya pun mudah dipahami.
Sedangkan Guru Pelajaran Eksak lainnya, rata-rata wajahnya selalu tampak "muram", gaya bicaranya cepat, dan cara mengajarnya pun sangat "normatif" atau formal. Ada yang mengajarnya santai, namun tampak asyik dengan "dunia"nya sendiri. Sepertinya tak peduli muridnya paham atau tidak dengan materi yang ia jelaskan.
Bahkan ketika kelas 3 SMP, Guru yang mengajar Matematika benar-benar "dahsyat"(dalam konotasi yang kurang baik). Ia seorang guru perempuan bertubuh tinggi ideal, berkacamata minus, dan berpenampilan rapi dan cukup modis. Namun ekspresi wajahnya dingin, tatapannya tajam, sikapnya galak, perkataannya judes, benar-benar menyeramkan!
Pelajaran Matematika yang sudah dianggap "seram" semakin tampak menakutkan karena "cover" Si Guru tsb. Istilah "Don't Judge A Book By It's Cover" seolah tak berlaku kepada dirinya. Tak heran ia dianggap sebagai guru "killer" bagi sebagian anak, terutama yang bodoh dengan Matematika.
Kalau tiba pelajaran Matematika, "aura" tegang langsung terasa. Suasana kelas menjadi sunyi senyap seperti di kuburan, sehingga suara langkah sepatu Sang Guru dari luar kelas jelas terdengar. Bulu kuduk saya perlahan berdiri. Suasana mencekam tak ubahnya seperti akan kedatangan "Kuntilanak" saja!
Dan begitu ia memasuki ruang kelas, ketegangan itu semakin terasa. Saat matanya beredar menatap sekeliling kelas, ia tampak sedang "mencari mangsa" untuk di"bunuh". Lalu ia mulai menjelaskan materi pelajaran dengan gayanya yang berwibawa.Â
Saat ia bertanya apakah ada pertanyaan, semua anak diam saja, sehingga ia anggap semua anak mengerti. Namun bila ia yang mengajukan soal pertanyaan dan bertanya siapa yang bisa jawab, semua anak langsung kompak mengacungkan telapak tangannya seolah bisa menjawab!Â
Padahal saat mengacungkan telapak tangan, sebagian anak melakukannya sambil berbisik-bisik kepada anak lain yang "pintar" matematika apa jawaban dari pertanyaan soal tsb. Benar-benar aneh tapi lucu!
Semua itu terjadi hanya karena satu alasan, Takut. Ya, takut dimarahi guru tsb, takut sakit hati, takut dipermalukan, dan takut dianggap "bodoh"(meskipun kenyataannya memang bodoh!). Jadi daripada harus menanggung semua itu, lebih baik mencari "aman" saja. Meski tak mengerti dengan materi yang dijelaskan guru, namun si murid diam saja.Â
Meski tak tahu jawaban dari pertanyaan yang diajukan guru, semua anak mengacungkan telapak tangannya. Bersikap pura-pura dan Bersandiwara seperti "jurus ampuh" untuk menyelamatkan diri, padahal hal tsb malah semakin memperpuruk kondisi si murid yang sebenarnya tak bisa memahami dan menguasai materi pelajaran yang disampaikan!