Alhamdulillah suatu kebahagian hari ini diundang dan bersilaturahmi dengan Raja Adat Sipirok dan Angkola, Ir.Hendriansyah Harahap, Bapak Abdul Rahim Siregar ST, MT )(Ketua Formadana) Â dengan beberapa narasumber: Prof.Dr.H.Ibrahim Gultom (Formadana), Prof.Dr.Saiful Anwar Matondang, M.A,Ph.D (Akademisi), Dr.Muhammad Yamin Dalimunte (Praktisi Dalihan Natolu), Lasro Marbun, SH,M.Hum (Pemerhati), H.Ivan Iskandar Batubara (Pengusaha), Kaban (Kesbangpol Sumut, Pemerintahan), Kadis Pendidikan Sumut (Kolonel CAJ Dr. H. Asren Nasution, M.A), diwakilkan Kabid Pembinaan SMA Disdik Sumut,Bapak Basir Hasibuan dengan moderator Dr Arifin Saleh Siregar, membahas tentang penentuan 150 Tokoh Dalihan Natolu.
Sekilas tentang Dailhan Natolu...
Dalihan Natolu,filosofis dengan wawasan sosial kultural menyangkut budaya Batak Tungku dengan 3 dasar penopang.Dalihan Natolu" bermakna "Dalihan" artinya sebuah tungku yang dibuat dari batu, sedangkan "Dalihan Natolu" ialah tungku tempat memasak yang diletakkan diatas dari tiga batu. Ketiga dalihan yang dibuat berfungsi sebagai tempat tungku tempat memasak diatasnya. Dalihan yang dibuat haruslah sama besar dan diletakkan atau ditanam ditanah serta jaraknya seimbang satu sama lain, serta tingginya sama agar dalihan yang diletakkan tidak miring dan menyebabkan isinya dapat tumpah atau terbuang.
Dalihan Na Tolu adalah konsep filosofis atau wawasan sosial-kulturan yang menyangkut masyarakat dan budaya Batak. Dalihan Na Tolu menjadi kerangka yang meliputi hubungan- hubungan kerabat darah dan hubungan perkawinan yang mempertalikan satu kelompok.
Namun sebutan dalihan natolu paopat sihalsihal adalah falsafah yang dimaknakan sebagai kebersamaan yang cukup adil dalam kehidupan masyarakat Batak.
Kerangka dasar Dalihan Natolu, terdiri dari Mora, Anakboru dan Kahanggi. 'Mora' harus somba marhula hula (hormat kepada pihak isteri); Elek 'Marboru' (mengayomi perempuan), dan 'Kahanggi' Manat Mardongan Tubu (saudara semarga). Dalihan Na tolu, pondasi dasar, pilar dan filosofi masyarakat Batak diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat kita.
Pada masyarakat kecamatan Sipirok, Dalihan Na Tolu masih terjaga dan terpelihara dengan sangat baik. Oleh karena itu, Dalihan Na Tolu menjadi suatu sistem sosial yang terus dipertahankan. Dalihan Na Tolu sebagai suatu sistem harus memenuhi beberapa persyaratan fungsional, yaitu melakukan adaptasi, mencapai pola dan mempertahankan kesatuannya. Tujuan semua prasyarat fungsional adalah untuk tercapainya keseimbangan.
Gagasan keseimbangan ini dapat dilihat dalam umpama: "Hormat Marmora (hormat pada mora), Manat Sangape Jamot Markamaranggi (berlaku hati-hati pada saudara semarga), dan elek mar anak boru (berlaku sayang pada anak
boru). Inilah landasan normatif keseimbangan dalam kekerabatan Dalihan Na Tolu. Inti dasar dari Dalihan Na Tolu (mora, kahanggi, dan anak boru) yang dianalogikan tiga tungku itulah yang dinamakan tiga unsur fungsional.
Dalam hubungannya menjaga kerukunan antar umat beragama, Dalihan Natolu diimplementasikan melalui berbagai, tradisi, kebiasaan, dan kegiatan masyarakat sehari-hari. Salah satu yang telah disebutkan adalah horja (kerja). Selain itu, adat ini diimplementasikan masyarakat dalam pertuturan dan peradaban.
Pengantar diskusi yang disampaikan 3 tokoh (raja adat, ketua Formadana, dan Kabis Pembinaan SMA Disdik Sumut) disikapi dengan tawaran membentuk tim kecil pemilihan, penentuan prosedur, penentuan kriteria, pulang kampung bersama, mendampingi masyarakat dalam membangun desa disampaikan Ameilia Zuliyanti Siregar, M.Sc,Ph.D,akademisi dan putri daerah Tabagsel,tepatnya orangtuanya (Alm.Prof.H. Ahmad Samin Siregar,SS yang lahir di Batangtoru) terpanggil untuk 'Martabe', membangun kampung halamannya. Banyak masukan dari peserta tentang kriteria pemilihan,mekanisme penyusunan buku 150 Tokoh Dalihan Natolu serta menyikapi untuk saling mendukung dalam horja ini menjadi motivasi kuat untuk menginfaqkan tenaga,waktu dan pikiran untuk kemajuan masyarakat Tabagsel.Â
Sipirok merupakan satu kecamatan di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Saat ini Sipirok menjadi Ibukota Kabupaten Tapanuli Selatan  setelah Kota Padang Sidempuan menjadi Kota Madya di kabupaten ini. Sipirok merupakan daerah yang indah dan sejuk dengan hamparan persawahan dan perbukitan. Ditambah lagi di Sipirok terdapat sebuah gunung yang menjulang tinggi bernama Gunung Sibual-Buali.
Sipirok merupakan jalur transportasi darat dari Kota Medan menuju Kota Padang Sidempuan dengan jarak tempuh  356 km dan ditempuh dalam wajtu 8 jam. Keindahan pemandangan di Sipirok membuat setiap wisatawan akan singgah disini. Di Sipirok terdapat wisata Aek Milas Paranjulu, wisata Tor Simago Mago, wisata Kantor Pemda Kabupaten Tapanuli Selatan nan indah.