Mengulik topik tentang peristiwa penculikan anak yang semakin marak terjadi saat ini, saya memulainya dengan menyitir kembali sajak dari seorang penyair termasyhur asal Lebanon yakni Kahlil Gibran.Â
Dalam bukunya The Prophet (1926), Gibran secara khusus menguraikan sajaknya tentang anak. Kurang lebih demikian:Â
"Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu. Mereka adalah putra dan putri kehidupan yang mendambakan dirinya sendiri. Mereka datang melalui anda tetapi bukan dari anda, dan walaupun mereka besertamu, mereka tidak menjadi milikmu. dst-nya..." (Dikutip dari artikel K. Bertens dalam bukunya Sketsa-Sketsa Moral, 2004).
Tersirat sebagaimana yang ditafsir oleh K. Bertens sendiri dari sajak di atas ialah bagaimana kewajiban orang tua untuk mengakui otonomi anaknya sendiri.
Memiliki anak adalah hak asasi dari semua pasangan yang mengikrarkan diri melalui perkawinan.Â
Anak tidak hanya sebagai penerus keturunan melainkan sebagai buah terdalam dari ungkapan cinta antara suami dan istri.
Dengan demikian, konsekuensinya ialah, orang tua mesti mengilhami sebuah kesadaran yang utuh yaitu, kehadiran seorang anak di tengah keluarga patut disyukuri sembari menyadari eksistensi anak sebagai seorang pribadi yang bermartabat dan otonom.Â
Otonom berarti pribadi yang bermandiri seraya mampu mempertanggungjawabkan hidup secara utuh tanpa bergantung pada yang lainnya (termasuk terhadap orang tua dari anak itu sendiri)
Lalu bagaimana praktisnya sikap orang tua terhadap anak mereka sendiri?
Lagi-lagi, mengutip ungkapan dari seorang filsuf Jerman abad 19 yakni Hegel mengungkapkan bahwa:
Beri Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!