Masa kuliah adalah masa di mana kita overthinking tentang masa depan kita. Biasanya ini terjadi pada mahasiswa semester tua atau yang sebentar lagi lulus, nih. Kalau mereka merasa tidak cukup terlibat dalam aktivitas organisasi atau program magang, dapat membuat mereka khawatir soal peluang karir di masa depan karena takut tidak punya pengalaman yang cukup untuk karir mereka.
Terakhir, ada yang namanya FOMO dalam organisasi, panitia, atau unit kegiatan mahasiswa (UKM) di kampus. ini biasanya terjadi pada mahasiswa baru atau mahasiswa semester menengah. Biasanya mereka mengambil tidak hanya satu kegiatan, tetapi dua, tiga, atau lebih. Hal ini terjadi karena beberapa hal, ada yang karena memang ingin punya banyak pengalaman, ada yang hanya ikut-ikutan teman, atau ada yang karena ingin memiliki lebih banyak teman dan menjalin banyak relasi.
Kesehatan Mental Mahasiswa
Konstitusi WHO menyebutkan, “Sehat adalah sebuah kondisi kesejahteraan fisik, mental, dan sosial yang utuh dan bukan sekadar bebas dari penyakit ataupun kelemahan.” Jadi, kesehatan mental menjadi salah satu komponen penting dari kesehatan seseorang, guys! Kesehatan mental adalah kondisi kesejahteraan mental yang memungkinkan seseorang untuk mengatasi stres dalam kehidupan, menyadari kemampuannya, belajar dan bekerja dengan baik, serta berkontribusi untuk lingkungannya.
Kesehatan mental seseorang kerap dihubungkan dengan kondisi gangguan mental/kejiwaan. Beberapa gangguan tersebut adalah gangguan kecemasan (anxiety), depresi, gangguan bipolar, post-traumatic stress disorder (PTSD), skizofrenia, gangguan makan anoreksia dan bulimia, gangguan spektrum autisme, attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), obsessive compulsive disorder (OCD), dan sebagainya. Semua orang berisiko untuk terkena gangguan mental, lho! Menurut Global Burden of Disease Study 2019, 1 dari 8 orang sedunia hidup dengan gangguan mental yang umumnya berupa kecemasan dan depresi.
Akhir-akhir ini, ada banyak sekali berita yang beredar tentang mahasiswa yang bunuh diri di Indonesia yang disebabkan oleh kondisi mentalnya. Faktanya, bunuh diri adalah penyebab kematian terbesar keempat pada kelompok usia 15-29 tahun. Nah, gangguan mental apa saja, sih, yang sering terjadi pada mahasiswa? Berdasarkan Cibyl Student Mental Health Study 2022 terhadap mahasiswa Inggris, 61% diantaranya mengalami depresi dan gangguan kecemasan. Sementara itu, ACHA National College Health Assessment III Spring 2023 mencatat diagnosa gangguan mental paling banyak pada mahasiswa Amerika Serikat berupa kecemasan, depresi, ADHD, PTSD/stres akut, insomnia, gangguan makan, dan OCD. Sedangkan pada kelompok umur mahasiswa (15-24 tahun) berdasarkan Riskesdas 2018 terdapat 6,2% yang mengalami depresi serta 10% yang mengalami gangguan mental emosional.
Hubungan FOMO dan Media Sosial terhadap Kesehatan Mental Mahasiswa
Terus, bagaimana, sih, dampak dari FOMO dan media sosial terhadap kesehatan mental mahasiswa? Penelitian pada mahasiswa S1 di Amerika Serikat pada tahun 2019 menemukan bahwa penggunaan Facebook yang berlebihan berhubungan dengan FOMO dan ruminasi (repetisi pemikiran negatif), yang menjadi perantara untuk kecemasan sosial. Adapun di Italia tahun 2023, depresi memiliki hubungan positif dengan FOMO dan kecanduan media sosial yang diperantarai oleh skala harga diri. Sementara itu, pada mahasiswa pengguna Instagram di Kota Bandung pada tahun 2022 ditemukan pengaruh antara neuroticism (stabil atau tidaknya emosi) dengan FOMO.
Ternyata bukan cuma gangguan mental, komponen kesehatan mental mahasiswa lain yang berhubungan dengan FOMO dan media sosial adalah mental well-being atau kesejahteraan psikologis. Penelitian di Inggris tahun 2020 menunjukkan bahwa periode pantang menggunakan media sosial selama tujuh hari meningkatkan persepsi kesejahteraan mental dan keterhubungan sosial, serta menurunkan persepsi FOMO. Tingkat FOMO pada pengguna media sosial dengan kelompok usia mahasiswa di Provinsi DIY tahun 2019 diketahui mampu memprediksi kesejahteraan psikologis. Hal yang sama ditemukan pada mahasiswa di Kota Padang tahun 2021 yang mana FOMO berkontribusi sebesar 14,5% terhadap kesejahteraan psikologis.
Fenomena yang berhubungan dengan kesehatan mental seperti kepercayaan diri dan social comparison (membandingkan diri sendiri dengan orang lain) juga dapat dipicu FOMO dan media sosial. Semakin tinggi kepercayaan diri yang ada di dalam diri seseorang untuk tidak merasa tertinggal, maka akan rendah pula tingkat FOMO yang ada pada dalam dirinya dan sebaliknya. Penemuan serupa pada studi lain adalah semakin tinggi tingkat FOMO, semakin tinggi pula social comparison pada pengguna Instagram dan sebaliknya.
Kesimpulan