Kalo kita memandang ke langit di malam hari, ada banyak sekali bintang yang bersinar. Bintang-bintang yang kita saksikan, jaraknya puluhan tahun cahaya (1 detik cahaya: 300.000 km), bisa dibayangkan betapa luasnya alam semesta ini. Lalu darimana asal alam semesta ini. Gue akan membahasnya dengan cara yang sederhana.
Dalam fisika, dikenal cabang ilmu yang khusus mempelajari alam semesta yakni kosmologi. Ada dua paham teori alam semesta yang diyakini saat ini, yaitu teori keadaan tetap (steady state) dan teori ledakan besar (Big Bang). Teori keadaan tetap percaya alam semesta telah ada dari dulu, tak memiliki awal ataupun akhir. Alam semesta yang kita saksikan hari ini, telah ada sejak dulu dan tak mengalami perubahan. Teori ini cenderung mengajak kita menjadi seorang yang tak yakin tentang keberadaan sang pencipta.
Teori kedua adalah teori ledakan hebat, berawal dari Edwin Hubble yang menggunakan teleskop Hubblenya menyadari alam semesta yang terus mengembang. Artinya galaksi-galaksi terus menjauhi masing-masing. Jika alam semesta terus mengembang, pasti ada awal dimana alam semesta belum mengembang. Maka muncullah teori ledakan hebat, teori ini berkeyakinan permulaaan alam semesta terjadi saat semua benda-benda langit berada dalam satu titik yang lebih kecil dari atom. Massa alam semesta tetap, namun ketika volumenya lebih kecil dari atom maka berarti kepadatannya sangat tinggi. Kita analogikan titik alam semesta ini sebagai kertas yang diremukkan sekecil-kecilnya, kertas ini massanya tetap namun volumenya mengecil. Akibatnya kertas ini akan mencoba meregangkan diri seperti pegas. Begitulah mula terjadinya ledakan hebat. Alam semesta yang padat lalu meledak meregangkan volumenya hingga membentuk berbagai macam benda langit yang ada sampai saat ini. Bukti terjadinya ledakan hebat adalah radiasi panas sisa-sisa ledakan hebat yang masih ada sampai sekarang.
Teori ledakan hebat menggiring kita untuk percaya keberadaan Tuhan sebagai pencipta, alam semesta tercipta dari ketiadaan. Nothing into Everything.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H