Ini satu lagi gaes...
Di bawah pohon pinus rimbun yang tak terjilat cahaya lampu,
Aku sempat memberhentikan laju becak, turun
lalu berdiri termangu tepat di tempat aku mencium Endang dengan curi curi
saat matanya terpejam.
Saat dia menanyakan arti kata 'terpingko pingko", padaku.
Nilai lebih yang lain Novel Pingko Pingko ini adalah kayanya pengenalan dan penjelasan mengenai makna kosakata Karo dan adat istiadat Karo, seperti ditulisakn pada halaman 122;
Andai benar aku menikahinya, sudah kubayangkan bagaimana cantiknya wajah kuning langsat Beru Ribu tanah Lawang itu berteduh di bawah tudung tradisional suku Karo dengan hiasan emas emas, berikut rumbai menjuntai bak renda menutup separuh keningnya, digelayuti sepasang kodang kodang kiri kanan, ditambah anting Raja Mehuli, gelang Leang Hiboel melingkar di pergelangan tangan dan cincin Tapak Gajah terselip di jemari.
Sementara tubuh sintalnya dibalut kebaya seukuran badan, berpadu kain songket, dilapisi uis julu sebatas lutut, dililit dengan langge langge setengah paha, berkalungkan sertali layang layang menghias dada.
Bukankah ini sebuah penjelasan yang sangat informatif tentang pakaian pengantin wanita suku karo, yang selalu akan dipakaikan kepada pengantin wanita dari waktu ke waktu ? Jangan jangan banyak wanita Karo yang asal pakai saja tanpa mengetahui nama dan maknanya. Hahahahha.