Mohon tunggu...
Alfira Najmi Ramadhani
Alfira Najmi Ramadhani Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga

Ilmu Komunikasi'21 (21107030064)

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Dilema Menghadapi Transisi Pembelajaran Online Menuju Offline, Sudah Siap?

2 Juni 2022   07:11 Diperbarui: 2 Juni 2022   07:23 2814
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Sudah 2 tahun lamanya virus Covid-19 menyebarluas di tengah masyakarat. Munculnya pandemi penyakit virus Corona (Covid) 19 dimulai di kota Wuhan, China pada akhir tahun 2019 lalu menyebar ke beberapa negara di dunia termasuk Indonesia. Virus ini membuat segala aktivitas yang sering kita lakukan di luar ruangan harus mengalami penghambatan yang signifikan. 

Semua kegiatan yang berlangsung offline (luar jaringan) atau tatap muka terpaksa harus dilakukan secara online (dalam jaringan) melalui virtual, salah satunya aktivitas di dalam bidang pendidikan.

Salah satu dampak dari pandemi Covid-19 di dunia pendidikan adalah terhambatnya proses belajar mengajar, semua institusi pendidikan khususnya perguruan tinggi harus menerapkan pembelajaran online. 

Sistem pembelajaran online (dalam jaringan) adalah sistem pembelajaran tanpa kehadiran langsung antara dosen dan mahasiswa, tetapi berlangsung secara online melalui jaringan internet. Para dosen harus memastikan bahwa kegiatan belajar mengajar tetap berjalan sebagaimana mestinya meskipun mahasiswa berada di rumah.

Sistem pembelajaran dilaksanakan dengan komputer, laptop, atau HP yang terhubung dengan jaringan internet. Para dosen juga dapat melaksanakan belajar bersama sekaligus menggunakan grup di jejaring sosial seperti WhatsApp (WA), Telegram. 

Pembelajaran tatap muka juga dapat dilaksanakan aplikasi Zoom atau media lainnya sebagai media pembelajaran. Dengan cara ini, dosen dapat melibatkan para masiswa dalam pembelajaran pada waktu yang sama, meskipun tengah berada di tempat yang berbeda.

Setelah sekian lamanya melaksanakan proses belajar mengajar secara daring (dalam jaringan) dan seiring dengan penurunan kasus penyebaran virus Covid-19 di Indonesia, sebagaimana telah diumumkan oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, akhirnya wacana pembelajaran luring (luar jaringan) atau tatap muka kembali menjadi pertimbangan. Bahkan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, telah memperbolehkan masyarakat untuk melepas masker di ruangan yang terbuka pada 17 Mei 2022 lalu.

Beberapa universitas di Indonesia pun mengeluarkan pengumuman bagi para mahasiswanya untuk melaksanakan pembelajaran luring seperti sediakala. Hal ini menjadi dilema bagi para mahasiswa. Ada mahasiswa yang merasa senang akan wacana ini dan ada mahasiswa yang merasa tidak bersemangat untuk kembali melaksanakan pembelajaran secara luring.

Bagi mereka yang merasa senang akan pembelajaran luring, pembelajaran daring yang selama ini dilaksanakan sangat mengalami banyak kendala. Mulai dari kendala jaringan yang seringkali dialami bagi mereka yang tinggal di pedalaman yang tidak memiliki akses internet yang baik, kendala dalam menerima materi yang diajarkan karena tak jarang ada dosen yang hanya memberikan dokumen materi saja tanpa melakukan sesi tanya jawab, dan juga biaya yang dikeluarkan pastinya lebih besar untuk membeli kuota internet atau wifi agar dapat melaksanakan pembelajaran daring secara efektif.

Namun hal ini berbanding terbalik bagi mereka yang sudah terlanjur nyaman dengan pembelajaran daring. Mereka merasa pembelajaran daring membuat waktu yang mereka miliki lebih fleksibel karena tak sedikit mahasiswa yang melaksanakan kuliah sambil kerja atau aktivitas sampingan lainnya. 

Pembelajaran daring juga dapat dilakukan dimana saja sehingga dinilai lebih simple dan efektif. Mahasiswa juga bisa mendapatkan wawasan yang lebih luas saat pembelajaran daring karena dapat mengakses internet sehingga dapat menambah materi-materi tambahan yang belum ada di buku acuan.

Jika melihat dari sudut pandang mahasiswa, ada dilema dalam pelaksanaan kuliah offline ini. Di satu sisi mahasiswa tingkat akhir menginginkan kuliah offline segera dilaksanakan, di sisi lain mahasiswa tingkat menengah belum cukup siap menghadapi kuliah offline. 

Mahasiswa baru juga diharapkan dapat mengikuti kuliah offline, khususnya bagi angkatan 2020 dan 2021 yang bahkan sejak awal belum mengalami perkuliahan tepat di awal tahun ajaran. Ini akan menjadi kuliah pertama yang mungkin sedikit mengubah kebiasaan lama sebelum kuliah offline. 

Tentu saja persiapannya tidak semudah dulu karena peralihan dari online ke offline yang dialami sekarang memiliki tujuan dan kondisi yang berbeda.

Wacana kuliah offline ini juga menjadi pertimbangan besar karena banyak sekali hal yang harus dipersiapkan untuk menghadapi pembelajaran luring ini. Bagi para mahasiswa yang tinggal di luar daerah kampus, mereka mau tak mau harus menyewa kost sebagai tempat tinggal, hal ini tentu menambah pengeluaran orang tua yang mungkin saja terkena dampak pandemi Covid-19. 

Para mahasiswa juga perlu kembali beradaptasi dengan lingkungan baru karena banyak dari mereka yang memulai perkuliahan saat masa pandemi sehingga walau kegiatan perkuliahan sudah dilaksanakan sekian tahun, banyak dari mereka yang bahkan belum pernah bertemu dengan teman sekelasnya.

Selain itu, hal besar yang perlu dipersiapkan untuk menghadapi transisi pembelajaran online menuju offline adalah motivasi. Motivasi belajar yang mungkin cukup menurun ketika pembelajaran daring, harus kembali dilaksanakan. 

Para mahasiswa harus kembali membiasakan diri untuk memahami materi yang diajarkan karena tidak sedikit dari mereka yang tidak memahami materi. Terlebih saat ujian dilaksanakan, tidak sedikit dari mereka yang mengandalkan Google sebagai acuan untuk menjawab soal. Hal ini pasti akan sulit diadaptasi jika pembelajaran luring dilaksanakan nantinya.

Situasi transisi dari online ke offline menghasilkan beberapa perubahan yang terjadi pada kondisi fisik, sosial dan emosional. Dari kondisi fisik, perubahan rutinitas yang membuat adaptasi lebih sulit. 

Dalam kondisi sosial, ada transisi sosial yang perlu diatasi, seperti keadaan "lupa" bagaimana cara untuk berkenalan dan bersosialisasi dengan orang lain. Namun hal ini bukan berarti dijadikan alasan untuk tidak mau meng-upgrade diri dengan keluar dari zona nyaman, mau tidak mau para mahasiswa harus beradaptasi kembali dengan kondisi baru yang akan dihadapi nantinya.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun