Kata Jabog mungkin sangat familiar didengar oleh kalangan santri jaman sekarang, terutama santri yang ada di pondok pesantren Kyai Syarifuddin, yang lebih tepatnya disebut dengan Nasi Jabog. Dimana nasi jabog ini adalah nasi favorit santriwan santriwati setiap pagi dan sore. Apalagi ketika lauknya ayam goreng, hmmm, semakin jadi favoritnya para santri nih.
Uniknya teman-teman santri dipagi hari, ketika mengambil nasi di D’kosan (dapur kosan) biasa menyebutnya, saling mengantri. Dan ketika lauknya hanya tempe, ikan pindang, kuah sopan dan sambal, model makan santri seperti santai saja. Ada yang langsung makan, ada yang masih mandi, bahkan ada yang masih tidur. Tapi, ketika lauknya ayam goreng, mentimun dan sambal, model makan santri jadi keren. Dimana yang tadinya mau mandi, dan sedang tidur, langsung bangun. Serentak 1 asrama langsung makan, saling berkubu-kubu, diam, tenang dan menikmati lahap demi lahap sarapan dipagi hari. Mungkin menurut para santri hari raya makan ketika lauknya ayam goreng.
Nah, keunikan ini hanya dirasakan oleh seorang santri, dimana yang biasanya anak rumahan makan memakai piring dan sendok. Berbeda dengan seorang santri, makan hanya memakai kertas minyak dan menggunakan tangan. Asiknya, makannya tidak sendirian, saling melingkari kertas minyak masing-masing dan berkubu-kubu. Ada 4 orang yang melingkari satu kertas minyak, bahkan terkadang ada yang sampai 8 orang. Serunya, saling sempit-sempitan dan rebutan.
“Ayo rek mangan rek, kangen mangan bareng-bareng aku” Ujar kofif, salah satu alumni yang berkunjung ke pondok pesantren. Memang diakui, setiap menjadi alumni, yang dirindukan ketika masih ada dipondok pesantren, yaitu ketika makan bareng-bareng, saling berkubu, saling sempit dan saling berebut. Itulah salah satu keseruan dan kesan seorang santri. Selain dalam hal makan, masih banyak kesan-kesan lainnya.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H