"Entah kenapa kalau tiap hari nggak bersedekah itu rasanya kayak ada yang kurang," kata emak saat aku pulang ke kampung beberapa hari yang lalu.
Sore itu emak masih sibuk menata punten pecel yang sudah disiapkannya untuk dibawa ke mushola. Katanya, ingin bersedekah, padahal sebenarnya setiap hari sudah ada yang mengirim makanan berbuka puasa di mushola.
"Kalau misal hari ini belum bisa sedekah, rasanya pasti bingung apa yang mau kuberikan sama orang lain," ujar emak ketika kutanya alasan ingin terus bersedekah.
Emak adalah sosok ibu yang selalu menginspirasi untuk anak-anaknya, termasuk aku, si bungsu yang 3 tahun ini hidup terpisah karena telah menikah dan tinggal di kota Â
Saat pulang kampung, aku selalu menanti cerita apa saja yang akan dibagikannya untukku. Dan pada bulan Ramadan ini, emak memasak beberapa makanan untuk diberikan kepada orang-orang yang berbuka puasa di mushola dekat rumah.
"Bukankah sudah ada yang biasa memberi buka puasa, Mak?" Tanyaku heran. Karena aku tahu, emak hanya memiliki uang untuk menghidupi dirinya sendiri.
"Ya mau gimana lagi, emak kalau nggak sedekah rasanya gatal aja pengen memberikan sesuatu. Apalagi di bulan Ramadan, memberikan makanan kepada orang berpuasa itu pahalanya berlipat ganda," jawabnya yang membuatku terharu.
Di saat tak memiliki uang berlebih yang hanya cukup untuk dirinya sendiri, tapi emak berbeda. Ia sibuk memikirkan bagaimana harus tetap bersedekah tiap hari.
Aku pun juga baru tahu bahwa beberapa hari yang lalu emak juga membuat tumis kangkung untuk 20 orang, atau trancam. Kalau dipikirkan, aku justru semakin tak bisa memahami jalan pikiran emak.
Iri dengan Orang Kaya yang Bersedekah
Lain waktu, emak bercerita kalau iri dengan orang kaya yang gemar bersedekah. Namanya Mbak Nah