Gunung Semeru adalah salah satu gunung berapi aktif yang berada di Provinsi Jawa Timur. Gunung Semeru merupakan atap tertinggi dataran pulau Jawa. Karena itulah banyak sekali pendaki Indonesia bahkan pendaki mancanegara merasa tertantang untuk menaklukannya.
Gunung Semeru pun merupakan gunung yang mempunyai trek pendakian yang "mematikan", oleh karena itu batas aman pendakian hanyalah sampai pos Kalimati. Karena trek "mematikan" itu ada di jalur menuju puncak Mahameru.Â
Trek yang berkomposisi pasir dan batuan ini sangatlah berbahaya bagi pendaki, apalagi tingkat kemiringan trek menuju puncak Mahameru kurang lebih 75-90 derajat. Untuk itu perlu pengamanan dan pengawasan ekstra bagi calon pendaki yang akan mendaki Gunung Semeru ini.
Pengelola TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru) sudah mengantisipasi hal itu, sistem pendaftaran untuk mendaki Gunung Semeru sudah menggunakan sistem online. Sebelum mendaftar, para calon pendaki diwajibkan untuk membaca peraturan yang telah ditetapkan oleh pengelola TNBTS dan selain perlengkapan pendakian yang lengkap--salah satu peraturan yang tertera di dalam form pendaftaran adalah jumlah pendaki dalam 1 kelompok minimal 3 orang dan maksimal 10 orang dengan satu ketua kelompok di dalamnya.
Peraturan tersebut kerap kali menyulitkan pendaki yang berdomisili bukan di daerah provinsi Jawa Timur, seperti halnya apa yang pernah saya alami bersama dengan sahabat saya. Saya adalah pendaki yang berdomisili di Kota Bandung. Awal mula tim kami akan melakukan pendakian Gunung Semeru bersama dengan 4 orang kawan dalam satu kelompok.Â
Jauh-jauh hari kami merencakan pendakian tersebut, namun ketika sudah memasuki hari H pendakian tiba-tiba 2 orang kawan saya mengundurkan diri untuk tidak melakukan pendakian karena beberapa alasan. Padahal di dalam simaksi dan peraturan pendakian sudah ditetapkan bahwasanya pendakian hanya boleh dilakukan minimal 3 orang dalam satu kelompok. Awalnya saya ragu jika saya tidak diizinkan mendaki, namun akhirnya saya bersama dengan sahabat saya nekat berangkat ke pos pendaftaran TNBTS.
![Dokumentasi Pribadi](https://assets.kompasiana.com/items/album/2018/12/08/1-2-5c0bd4f2bde57572bb14c6c4.png?t=o&v=770)
Hal itu membuat niat kita untuk bisa bercengkrama dengan atap tertinggi pulau Jawa ini menciut karena mahalnya biaya porter yang tidak pas di kantong kami. Namun akhirnya kita berdua dipertemukan oleh pendaki lokal yang acapkali melakukan pendakian di Gunung Semeru ini dan kita ditawari untuk bergabung dengan kelompoknya. Persyaratan pun aman.
![Dokumentasi Pribadi](https://assets.kompasiana.com/items/album/2018/12/08/1-4-5c0bd587c112fe257d330974.png?t=o&v=770)
![Dokumentasi Pribadi](https://assets.kompasiana.com/items/album/2018/12/08/1-3-5c0bd521ab12ae2d8456fc53.png?t=o&v=770)
Akhirnya kami berdua menggunakan teori komunikasi yang pernah kami pelajari di kampus. Alhasil kami pun mendapatkan bantuan dari pendaki lain ketika kami mengalami kesulitan dalam pendakian karena mereka mengenali kami.
![Dokumentasi Pribadi](https://assets.kompasiana.com/items/album/2018/12/08/1-5-5c0bd572ab12ae400b06af56.png?t=o&v=770)
![Dokumentasi Pribadi](https://assets.kompasiana.com/items/album/2018/12/08/1-7-5c0bd5d66ddcae34f513dc14.png?t=o&v=770)