Catatan Pengantar
Pasar rakyat, atau yang lebih familiar diingatan dengan sebutan pasar tradisional. Jikalau ingin mencari jati diri sebagai mahluk sosial, cobalah sambangi pasar tradisional. Niscaya, akan ditemui manusia yang kembali kepada fitrahnya; berinteraksi dan gotong – royong. Pasar rakyat memiliki histori yang panjang di bumi Nusantara, walaupun dengan jumlahnya yang kian kembang kempis masih bisa eksis ditengah gempuran ritel modern yang semakin narsis. Hari ini, seperti apa wajah pasar rakyat itu? Muram, pucat, sendu, selebihnya sebutkan sendiri. Mungkin, disini letak pentingnya “Hari Pasar Rakyat Nasional”
Sungguh merugi generasi kekininan – atau generasi sebelumnya - yang bangga mengunjungi pasar ritel modern, merasa jumawa dengan barang yang digondol dari lemari – lemarinya. Pemandangan berbeda, memasang muka congkak ketika menginjakan kaki di pasar yang kumuh, enggan menapaki kubangan air yang becek, angkuh ketika melakukan jual-beli. Merasa hina keluar dari kerumunan pasar rakyat yang bau! Satu mungkin yang belum dipahami, Merawat pasar rakyat, bukan hanya soal ekonomi semata, lebih dari itu, disana menyimpan jejak tradisi, tapak kearifan, sampai kepada cerita peradaban.
Sebuah Tragedi
Melihat berbagai kenestapaan yang terus terjadi, pasar sementara dibangun formalitas yang tak representatif, harga sewa yang mencekik. Diam, adalah penghianatan, begitu kataku sebagai bumiputra. Aku melebur bersama pedagang, menginisiasi sebuah wadah bagi para pemuda pasar untuk memperjuangkan haknya, dan yang pasti hak orang tua kita sebagai pedagang. Wadah itu lahir dengan nama Gerakan Pemuda Pasar Sumber (GPPS), seraya mengawal tuntutan: “Menolak Relokasi, Menuntut Revitalisasi Sesuai Amanat Undang – Undang”.
Persoalan pasar tradisional di Indonesia pada umumnya memliki latar belakang historis yang sama, direncanakan tepatnya. Sudah berapa banyak saudara kita yang memiliki nasib serupa, pasar tempat mereka mengandalkan penghasilan untuk secercah kehidupan, tak ada hujan, tak ada petir yang menggelagar tiba – tiba kebakaran, dan si Jago merah sukses melahap habis dan hanya menyisihkan puing – puing kesedihan yang menjerat. Dan besok – besoknya, tiba – tiba disulap menjadi pasar modern. Salah satu cara efektif, dan dipraktekan berulangkali, jikalau ingin menggusur pasar rakyat, maka bakarlah!
Setengah tahun lamanya menunggu harapan pasar baru dibangun ditempat semula tak juga kunjung tiba, sia – sia. Sudah menjadi naluri manusia, apalagi bergesekan langsung dengan urusan perut, kesabaran yang telah habis dipendam pada akhirnya meluap, lebih dasyat dari kebakaran itu sendiri. Berbagai aksi dengan ribuan orang beberapa kali terus digalakan, gedung eksekutif dan legislatif menjadi incaran. Teriakan suara pedagang membuat kuping mereka pedas, kata – kata tuntutan berserakan di kertas – kertas, di headline media papan atas. Gayung sedikit bersambut, DPRD mendukung tuntutan, tinggal eksekutif dengan Bupatinya yang sok berkuasa masih bertahan.
Pelajaran Berharga
Pepatah bijak sering mengatakan bahwa dari setiap kejadian selalu ada pelajaran yang bisa kita ambil. Benar, pepatah bukan mitos, perkataan yang keluar berdasarkan hasil renungan panjang. Pelajaran besar dari kejadian diatas yaitu bahwa memang setiap manusia harus berkolektif gotong – royong dalam segala urusan. Apalagi, disaat pasar rakyat tradisional harus bersaing dengan ritel – ritel yang terorganisir dan massif. Maka, kebersatuan menjadi sebuah keniscayaan yang harus dilakukan. Wacana Hari Pasar Nasional menjadi sebuah terobosan untuk memperkuat persatuan para pedagang pasar rakyat, dan menjadi kekuatan itu sendiri, baik segi ekonomi, tradisi dan kearifan. Dari kronologis kejadian yang pernah Aku alami, mungkin Hari Pasar Rakyat Nasional harus digaungkan keberadaannya!