Siang itu, perwakilan salah satu unit kegiatan mahasiswa fakultas meminta waktu untuk membeikan undangan sekaligus TOR untuk pelatihan trainer outbond. Saya dalam jadwalnya dipercaya untuk mengisi materi tentang sustainable organization atau keberlanjutan organisasi, materi yang sama dengan materi tahun lalu. Beruntung bagi saya, karena kolega sesama fasilitator dua hari kemudian menawarkan diri untuk bertukar materi. Kebetulan materi yang ditawarkan untuk dibarter adalah materi marketing. Tanpa berfikir panjang, saya mengiyakan dengan sangat antusias mengisi materi tersebut.
Beberapa alasan membuat saya kemudian sangat tertarik dengan materi marketing dalam pelatihan outbond mahasiswa. Pertama tentu tentang marketing sendiri, merupakan salah satu ilmu yang bagi saya pribadi sangat menarik. Kelihaian mengaplikasikannya adalah jawaban bertahan dalam persaingan dunia global saat ini.
[caption id="attachment_358917" align="aligncenter" width="300" caption="Aktivitas Outbond Mega Putih UIN Malang Sumber: Dok. Mega Putih"][/caption]
Hal kedua yang membuat saya tertarik adalah outbond. Bukan karena salah satu metode pembelajaran ini lagi digandrungi masyarakat luas, namun terlebih bagi saya mahasiswa psikologi selayaknya mampu mengaplikasikan konsep-konsep psikologi dalam tataran outbond. Outbond merupakan salah satu jawaban sekaligus jembatan bagi jurang yang cukup menganga antara psikologi dengan tataran aksiologisnya. Mau tidak mau, psikologi merupakan salah satu ilmu yang belum banyak membuktikan kadar manfaatnya bagi kebanyakan masyarakat republik ini. Bukan karena psikologi tidak punya lahan, tapi hemat saya lebih pada tataran ekslusivitas ilmu ini. Tidak banyak masyarakat kita yang mengetahui psikologi, kecuali mereka yang telah berhasil ataupun gagal seleksi kerja, kuliah, lembaga pemerintahan dan swasta serta sedikit sekolah. Saya berharap outbond mampu mengembangkan potensi kemanfaatan psikologi lebih luas lagi.
Faktor ketiga yang membuat saya tertarik dengan materi ini adalah tentang organisasi kemahasiswaan. Berbeda dengan organisasi kemasyarakatan, swasta, LSM, atau pemerintahan, organ kemahasiswaan merupakan organisasi yang teramat dinamis di satu sisi, namun juga relatif stagnan disisi lainnya. Dinamis saya maksudkan untuk melihat hilir mudik anggota dan warga setiap tahunnya. Tidak ada jenis organisasi lain selain organ pelajar yang memiliki arus hilir mudik anggota sedinamis organisasi. Kita sering mengeluhkan kebijakan diberbagai kementrian atau departemen pemerintahan tiap kali pimpinannya berganti. Bayangkan dengan organ mahasiswa, setiap tahun mereka berganti gerbong, setiap tahun pula isi kepala pimpinannya berubah. Jika anda telah merasakan bagaimana ribetnya kebijakan migas, kurikulum pendidikan dan lainnya di pemerintahan, bagaimana anda akan membayangkan dinamika dalam organisasi mahasiswa. Jika presiden, menteri, direktur dan lainnya dipilih secara periodik yang rata-rata lima tahunan, mahasiswa memiliki pimpinan yang hanya mengabdi selama satu tahun. Sisi stagnasi organ mahasiswa adalah kebanyakan dari mereka tidak mampu menarik minat mahasiswa lain secara keseluruhan. Jadi mau ataupun tidak mereka hidup dalam sebuah kelompok besar yang semakin tahun justru semakin acuh pada aktivitas organisasi. Disini organ mahasiswa mendapatkan tantangan terberatnya. Saya pernah melakukan penelitian kecil dengan data yang cukup mencengangkan, bahwa pertambahan jumlah mahasiswa di kampus diikuti dengan penurunan prosentase diantaranya yang bergabung dan mengikuti organisasi kemahasiswaan.
[caption id="attachment_358918" align="aligncenter" width="300" caption="Sumber: Google gambar"]

Hal terakhir yang membuat saya tertarik dengan materi marketing outbond mahasiswa adalah interkoneksi diantara ketiga faktor yang saya sebutkan diatas. Marketing, outbond dan dinamika mahasiswa merupakan hal yang sangat menarik.
Jika paradigma tradisional mnyatakan pemasaran sebagai usaha penjualan produk, tidak begitu dengan pandangan kontemporer yang menyatakan bahwa pemasaran merupakan bagian tidak terpisahkan dari sebuah individu/organisasi yang pada muara akhirnya adalah kepuasan pelanggan. Kotler (1997) menyebut pemasaran sebagai suatu proses sosial dan manajerial yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan dan mempertukarkan produk dengan pihak lain. Dalam artian pemasaran bukanlah semata tentang penjualan, namun penjualan merupakan bagian penting dari pemasaran. Pemasaran berarti bekerja dengan pasar untuk mewujudkan pertukaran potensial dengan maksud memuaskan kebutuhan dan keinginan manusia. Jika pengusaha/organisasi/perusahaan menaruh perhatian lebih banyak untuk terus menerus mengikuti perubahan kebutuhan dan keinginan baru, mereka tidak akan mengalami kesulitan untuk mengenali peluang-peluangnya. Hal tersebut diperjelas dengan definisi Harper (2000) yang menyatakan pemasaran sebagai suatu proses sosial yang melibatkan kegiatan-kegiatan penting yang memungkinkan indidvidu dan perusahaan mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui pertukaran dengan pihak lain dan untuk mengembangkan hubungan pertukaran. Harper menekankan bahwa pemasaran merupakan jembatan penting menuju pertukaran yang menguntungkan antara penjual dan pembeli. Swastha (2002) memperkuat beberapa argument diatas dengan menyebut pemasaran sebagai falsafah bisnis yang menyatakan bahwa pemuasan kebutuhan konsumen merupakan syarat ekonomi dan sosial bagi kelangsungan hidup perusahaan. Jadi dalam pemasaran juga terdapat jaminan kelangsungan hidup pihak penjual (individu, organisasi atau perusahaan).
Dari definisi tersebut jelaslah kiranya bahwa pemasaran merupakan salah satu hal terpenting sebagai sebuah proses penciptaan, penawaran, pertukaran, untuk memenuhi kebutuhan (pembeli) dan juga kelangsungan hidup disisi lainnya (penjual). Masalahnya adalah apa yang diciptakan diciptakan, ditawarkan dan dipertukarkan dalam proses outbond? Tentu outbond bukanlah sate, soto, burger atau jenis makanan lainnya. Outbond juga bukan jus buah, es campur, softdrink ataupun jenis minuman lainnya. Outbond juga bukan bahan bangunan, bukan perkakas rumah, bukan pakaian ataupun jenis barang kasat mata lainnya. Outbond merupakan serangkaian konsep pendidikan yang ditawarkan dengan gaya berbeda dan menitikberatkan pada interkoneksi kegembiraan dan pengalaman (Ganet, 2006). Artinya outbond merupakan salah satu jenis jasa, sejenis dengan telekomunikasi , pendidikan, perbankan dan lainnya.
Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah jenis pemasaran pada barang kasat mata dengan barang tak kasat mata (jasa) itu sama atau dibedakan? Kotler (2008) mendefinisikan jasa sebagai setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak dapat mengakibatkan kepemilikan apapun. Senada dengan Yazid (2005) yang menyatakan bahwa jasa sebagai aktivitas ekonomi yang mempunyai sejumlah elemen (nilai dan manfaat) intangible yang berkaitan dengannya, yang melibatkan sejumlah interaksi dengan konsumen, tetapi tidak menghasilkan transfer kepemilikan.
[caption id="attachment_358919" align="aligncenter" width="300" caption="Brosur Sebagai Alat Marketing. Sumber: Dok. Mega Putih UIN Malang"]

Jika dilihat dari definisisinya, tentu model pemasaran barang dan jasa seharusnya terdapat perbedaan, karena barang merupakan entitas nyata yang dapat terlihat berpindah dan dimililki, sedangkan jasa tidak melibatkan transfer kepemilikan. Bagaimana kita menawarkan kepada pembeli jika sesuatu yang kita tawarkan kemudian tidak bisa dimiliki pembeli? Untuk pertanyaan tersebut Kotler (2008) selanjutnya menyebutkan bahwa kita harus mengenali dan menguasai empat karakteristik jasa, yaitu tidak nyata (intangible), tidak terpisahkan (inseparable), heterogen (heterogeneity), dan tidak dapat disimpan (perishability). Setiap entitas nyata tetapi tidak dapat dilihat, dirasa, dicium, didengar, atau diraba sebelum dibeli dan dikonsumsi, itulah esensi intangible dari jasa. Dalam kategori outbond, konsumen tidak akan dapat menilai hasil dari outbond jika mereka tidak mengalami atau mengkonsumsinya. Jadi apakah game dan simulasi dalam outbond bermanfaat baginya tidak akan mungkin selesai hanya dengan membaca brosurnya. Ketika telah membeli/mengikutipun, konsumen tidak lantas memilikinya. Karakteristik kedua dari jasa adalah heterogeneity atau memiliki banyak variasi, kualitas dan jenis. Kesemuanya tergantung dari siapa, kapan dan dimana jasa tersebut dikonsumsi. Dua konsumen yang mengkonsumsi paket outbond yang sama pada tempat dan (mungkin) waktu yang sama akan merasakan hal yang berbeda tentang arti konsep yang didapatkannya. Sehingga kemungkinan pengaruhnya berbeda ketika kedua konsumen tersebut kemudian hari kembali beraktifitas. Karakteritik keempat dari jasa adalah tidak terpisahkan (inseparability). Artinya jasa dijual terlebih dahulu, baru kemudian diproduksi dan dikonsumsi pada waktu dan tempat yang sama. Sedangkan barang biasanya diproduksi terlebih dahulu, kemudian dijual, baru dikonsumsi. Outbond provider tidak akan memproduksi jasanya tanpa ada konsumen yang membelinya. Selain hadir secara fisik dan mental, konsumen bersangkutan secara aktual juga berperan sebagai co-producer dalam operasi jasa, dengan jalan menjawab pertanyaan-pertanyaan trainer dan menjelaskan problem atau kebutuhan spesifiknya. Karakteristik terakhir jasa adalah perishability. Artinya jasa merupakan komoditas yang tidak tahan lama, tidak dapat disimpan untuk pemakaian ulang di waktu datang, dijual kembali, atau dikembalikan. Hari sabtu atau minggu yang kosong tanpa ada pembeli jasa outbond tidak akan dapat ditukar ataupun dikembalikan, dia akan berlalu begitu saja. Selain empat kerakteristik tersebut, Griffin (1996) menambahkan satu lagi karakter yaitu kustomisasi (customization), yaitu seringkali didesain menurut keinginan dan kebutuhan konsumen. Penyedia outbond tentu akan mengkomunikasikan terlebih dahulu desain outbond sesuai keinginan dan kebutuhan customernya.
Empat plus satu karakteristik tersebut mengantarkan kita pada definisi pemasaran jasa. Lupiyoadi (2006) menyebutkan bahwa pemasaran jasa merupakan setiap tindakan yang ditawarkan oleh salah satu pihak kepada pihak lain yang secara prinsip intangible dan tidak menyebabkan perpindahan kepemilikan apapun. Keterangan tersebut dapat kita lengkapi dengan pendapat Umar (2003) yang menyebutkan pemasaran jasa sebagai pemasaran yang bersifat intangible dan immaterial dan dilakukan pada saat konsumen berhadapan dengan produsen.
Seluruh paparan diatas mengantarkan kita pada sebuah definisi pemasaran jasa outbond sebagai sebuah tindakan menawarkan jasa pendidikan berbasis interkoneksi kegembiraan dan pengalaman untuk sebuah tujuan yang disepakati oleh satu pihak kepada pihak lain dan dilakukan pada saat kedua belah pihak berhadapan.
Permasalahan berikutnya adalah tentang bagaimana kita bisa memasarkan produk jasa outbond dengan baik? Permasalah ini tentu tidak bisa semena dijawab dengan jawaban tegas. Melihat karakteristik organisasi outbond mahasiswa yang tentunya berbeda dengan professional outbond provider lainnya.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI