Mohon tunggu...
Akhmad Bumi SH
Akhmad Bumi SH Mohon Tunggu... -

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Dolu dan 44 Kampung, Kisah-kisah yang Tak Diketahui

29 Oktober 2018   21:54 Diperbarui: 3 November 2018   20:13 781
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Expo Uyelewun Raya yang puncaknya dilakukan pada malam hari tgl 28 Oktober 2018 di Aliuroba, kecamatan Buyasuri, kabupaten Lembata, propinsi Nusa Tenggara Timur adalah expo kebudayaan. 44 kampung di Kedang (Omesuri dan Buyasuri) mengeksplorasi keunikan budaya masing-masing dikampungnya. "44 kampung" di Kedang di undang, termasuk kampung Dolulolong, kecamatan Omesuri. 

Desa di Kedang saat ini sudah lebih dari 44 desa. Jika 44 kampung merujuk pada peristiwa masa lampau, itu hanya akan melahirkan polemik oleh karena terjadi perbedaan ceritra dan sejarah.

Expo Uyelewun Raya mengambil tema "Koleq 44" seharusnya diterjemahkan maksud tema tersebut oleh panitia secara komprehensif. Star expo Uyelewun Raya dimulai dari desa Kalikur ke Aliuroba dengan parade atau carnaval yang diikuti semua peserta expo saat pembukaan.

Awalnya Dolu mendapat "kabar" kalau Expo Uyelewun Raya dengan menghadirkan 44 kampung se Kedang diluar kampung : Dolulolong, Balauring, Lebe, Wailolong, Tobotani, Weikoro, Rumang, Beang, Wowong dan Atanila. 

Tapi nyatanya tidak. Dolu diundang dalam Expo Uyelewun Raya yang diadakan di Aliuroba, Buyasuri. Dolu juga memasang situs budaya distand dalam hajatan expo tsb dan mengisi hiburan atau kesenian berupa silat kampung (kontaong) dan tarian dani dana. Artinya 44 kampung dalam expo Uyelewun Raya tsb adalah versi saat ini (2018), bukan 44 kampung versi Belanda era masa lampau. 

Jika 44 kampung yang dimaksud adalah era Belanda saat Raja Kamba bersama Belanda datang dan mengangkat Kapitang Kedang di Kalikur, maka Dolu tidak termasuk 44 kampung tsb. Dolu diundang tapi Dolu memilih tidak hadir saat diundang oleh Belanda.

Karena sebelum Kapitang Kedang diangkat oleh Belanda sebagai wakil Raja Adonara di Kedang, Marisu Somba sudah dipercaya sebagai Controller Kedang yang diangkat oleh perwakilan 44 kampung se Kedang, bertempat di Leaq Mareng Dolulolong dengan cara minum darah campur tuak. Tempat Leaq mareng sebagai tempat sumpah perwakilan 44 kampung se kedang, dalam expo Uyelewun kemarin dijadikan sebagai salah satu situs sejarah Dolu yang terpampang distand expo. Artinya Dolu memiliki 44 kampung dan tidak terlibat dalam mendukung Belanda melalui Raja Kamba dari Adonara. Karena sikap Dolu adalah menentang Belanda.

Strategi Belanda mengangangkat Kapitang Kedang sebagai wakil Raja Adonara oleh karena Belanda mengetahui sudah ada Controller Kedang Marisu Somba yang diangkat perwakilan 44 kampung di Kedang yang saat itu dimediasi oleh Raja Lamahala, dibawah pengawasan Raja Larantuka dengan tujuan melawannya. Karena saat itu Raja Lamahala memerintah Kedang-Boleng dibawah pengawasan Raja Larantuka tapi penguasaan tsb tidak diakui Belanda. Berapa kali perundingan di Waiwerang, tapi selalu gagal.

Karena Dolu tidak hadir saat diundang Belanda dalam pengangkatan Kapitang Kedang, Belanda memerintahkan untuk mengadili Dolu. Dolu mendengar ancaman Belanda tsb, Dolu menjawab dengan diplomatis bahwa "Ayam Merah masih melenggang". Artinya Dolu tidak takut dan tidak tunduk kepada Belanda. Selain itu, Dolu menurunkan bendera merah, putih, biru sebagai bendera Belanda. Caranya bendera Belanda merah, putih, biru dinaikkan ditiang dan diturunkan kembali. Itu pertanda pekik perlawanan pada Belanda.

Olehnya 44 kampung yang menghadiri pengangkatan Kapitang Kedang dan 44 kampung yang hadir di Dolu dalam mengangkat Marisu Somba sebagai Controller Kedang memiliki ceritra berbeda. Satu kiblatnya mendukung Belanda dan satu menentang Belanda. 

Dolu dan 44 Kampung

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun