Lebaran tidak hanya tentang baju baru, hidangan lezat, atau amplop berisi uang THR. Lebaran adalah tentang hati yang kembali diputihkan, ego yang diredam, dan silaturahmi yang diperkuat dengan ketulusan.
Setiap manusia tidak luput dari kesalahan. Ada yang disengaja, ada yang tidak. Ada yang sepele, ada yang meninggalkan luka mendalam. Namun, sejatinya, kesalahan bukan episode akhir.
Dalam tradisi Idul Fitri, permintaan maaf menjadi ritual yang dinantikan. Bukan sekadar formalitas melainkan kesempatan untuk merajut kembali hubungan yang mungkin sempat renggang.
"Mohon maaf lahir dan batin" bukan hanya ungkapan kosong. Di balik kata-kata itu, ada harapan untuk saling memahami, menerima, dan memperbaiki diri.
Namun, apakah kita benar-benar sudah memaafkan ketika kita masih menyimpan sakit meskipun hanya secuil sebesar atom? Forgive but not forget telah menjadi penghalang menuju ketulusan sejati bagi beberapa orang.
Memaafkan bukan hanya tentang menghapus kesalahan orang lain. Tetapi juga membebaskan diri dari belenggu amarah dan luka batin yang berkepanjangan.
Memang tidak mudah untuk memaafkan. Terutama jika kesalahan yang dilakukannya begitu menyakitkan. Namun, dengan ikhlas maka beban hati akan terasa lebih ringan.
Keikhlasan dalam memaafkan bukan berarti kita melupakan pelajaran dari kesalahan yang terjadi. Kita bisa belajar dari pengalaman tanpa harus menyimpan dendam.
Ikhlas bisa bikin hati lebih tenang serta pikiran lebih jernih. Tak ada lagi beban emosional yang membebani langkah ke depan. Life must go on katanya..
Memaafkan adalah bentuk kedewasaan dalam mengelola emosi. Dengan memaafkan maka saat itu kita melampaui ego dan membangun kehidupan yang lebih harmonis.