Mohon tunggu...
Akbar Faizal
Akbar Faizal Mohon Tunggu... Konsultan - Politisi

Ayah dari tiga anak hebat, suami dari seorang istri yang tangguh dan anak dari seorang veteran TNI yang tak pernah menyerah pada seluruh tugas tempurnya.

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Sujiatmi

30 Maret 2020   11:53 Diperbarui: 30 Maret 2020   13:19 62
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

"Anakku, siapa kini yang akan menjagamu? Ibu harus pergi. Waktuku telah tiba. Siapa lagi yang akan menguatkanmu saat kau dicerca dan dihina? Ibu takkan lupa fitnah yang sungguh brutal kepada keluarga kita. Sangat menyakitkan. Alhamdulillah Gusti Allah menjaga kita anakku. Jangan pikirkan ibumu ini. Kuhabiskan usiaku dalam kemiskinan dan kulahirkan engkau dalam kesederhanaan. Ibu kuat. Tak pernah kubermimpi kau akan menjadi Presiden. Tak cukup langit dan bumi bagiku untuk menyatakan kesyukuranku untuk itu. Ibu bahkan tak paham apa pekerjaan seorang Presiden itu.  Pasti berat. Begitu banyak orang yang harus kau urusi.

Tak usah kau pedulikan Ibu ini anakku. Cukup sudah kebahagiaanku melihatmu tak berubah menjadi manusia sombong. Mungkin kamu tahu begitu banyak orang datang padaku dengan maksud menjadikanku Ibu yang bisa mengaturmu untuk kepentingannya. Ibu mohon maaf sebab Ibu tetap menerima mereka. Tak mungkin Ibu tolak mereka yang sudah bersusah payah datang ke Solo dari berbagai tempat yang jauh. Itu bukan karakter keluarga kita. Tapi tak pernah kusampaikan kepadamu keinginan mereka sebab Ibu paham itu sangat tak layak. Ibu tak mau mengganggumu.  Lagipula Ibu tak paham maksud mereka. Bagi Ibu, kamu sehat dan bisa menjadi Presiden yang baik saja sudah lebih dari cukup.

 Jaga dirimu anakku. Masih tersisa waktu empat tahun bagimu untuk menyelesaikan masa tugasmu. Masih lama. Itu kesedihan Ibu. Ibu tak bisa menemanimu lagi anakku. Gusti Allah telah memanggilku. Tapi Ibu telah memohon kepada Gusti Allah untuk menjagamu lebih baik dari Ibu. Percayalah Anakku. Gusti Allah tahu bagaimana keluarga kita  menjaga hati kita. Kutuliskan kesederhanaan dengan baik dalam hatimu, jantungmu. Kuminumkan air susu terbaik kepadamu selama kau kusapih. Air susu dari seorang Ibu yang tak meminta banyak kepada Gusti Allah kecuali kebaikan alam kepadamu, keluarga kita.

Anakku, menunduklah ke bumi ketika kau dihina. Lalu menengadahlah. Tak ada lagi Ibumu yang mencium keningmu kini. Tapi Ibu ada disitu memegang pundakmu, mengusap kepalamu.

Ibu yakin kau bersedih sebab kamu mencintai Ibumu.

Kamu harus tahu betapa Ibu merasa terhormat dipilih oleh Gusti Allah melahirkanmu dan merawatmu. Melihatmu menjadi Presiden hanya pelengkap bagiku. Sungguh. Terkadang ingin kutarik kau dalam dekapan Ibu saat kamu dihinakan. Ibu tak peduli mereka menuding sekasar apapun kepada Ibu. Keselamatanmu yang utama bagi Ibu. Gusti Allah telah memberiku demikian banyak kebaikan, pada keluarga kita. Dan kamu, Joko Widodo, adalah bentuk kebaikan itu.

Ibu pamit anakku".
-------

Bambu Apus, Jakarta, 26 Maret 2020

Akbar Faizal

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun