Mohon tunggu...
aisyahhairany
aisyahhairany Mohon Tunggu... Mahasiswa - mahasiwa

saya seorang mahasiswa semester 1

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Perasaanku Sebagai Anak Kedua

9 Januari 2025   12:40 Diperbarui: 17 Januari 2025   14:42 161
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Perasaanku Sebagai Anak Kedua

Aisyah Hairany dan Vera Sardila

 

Setiap keluarga memiliki dinamika yang berbeda-beda, tergantung pada urutan kelahiran anak-anaknya. Sebagai anak kedua, saya sering merenungkan bagaimana posisi ini memengaruhi pengalaman hidup ssaya. Menjadi anak kedua memberikan saya perspektif yang unik terkadang terasa lebih ringan, namun tidak jarang juga penuh tantangan. Dalam artikel ini, saya akan berbagai perasaan saya sebagai anak kedua, mulai dari peran yang saya jalani, tantangan yang saya hadapi dan juga kebahagiaan yang saya rasakan.

Bagi orang tua perlu untuk mengetahui perkembangan yang terjadi pada anak, dan tepatnya kepada anak ke-dua karena jika tidak diperhatikan maka si anak akan merasakan perlakuan yang tidak adil antara si kakak dan si adek. Anak kedua merupakan orang yang sangat egois, tapi dibalik keegoisannya ada perasaan yang tidak bisa diceritakan. Ada sebuah kutipan cerita pada buku yang berjudul "Iyan Bukan Anak Tengah".

"Bun," panggil Iyan.

"Iya,Iyan. Bunda ngerti kalo Iyan capek. Sabar ya,sayang. Bunda juga lagi nayri ART baru yang cocok buat bantu-bantu. Bunda ini bantu beresin rumah dan ngejagain Uan juga ". Iyan menghela napas dengan lelah, sangat lelah. Sudah dari satu tahun lalu bunda selalu mengatakan hal yang sama.

Disitu Iyan selalu berpikir apa selama ini untuk mencari asisten rumah tangga yang cocok? Dan pada saat itu Iyan semakin malas mengeluh di depan Bundanya, karena kenyataan nya Bunda sama sekali tak memberi solusi untuk Iyan. Perasaan Iyan pada waktu itu sangat lelah karena Iyan selalu berantem dengan abangnya terus, sehingga membuat Iyan sudah muak untuk mendengar ocehan abang nya yang akan berlanjut sepanjang hari. Iyan tidak bisa berbuat banyak selain mendengarkan, meskipun ia jarang mencoba memebela diri dengan melawan. Kadang, Iyan iri kepada abang dan adiknya yang selalu mendapatkan perhatian dan kasih sayang dan disitu perasaan Iyan sangat kacau bahkan Iyan merasa terbuang karena keberadaannya yang tak pernah dianggap di dalam keluarga tesebut.

Dari kisah cerita tentang si iyan bukan anak tengah saya merasakan apa yang ia rasakan, karena saya sendiri juga anak kedua yang selalu merasakan hal yang sama seperti cerita diatas. Saya sendiri sangat sedih jika keadaan saya disitu tak pernah dianggap. Bahkan setiap kata yang selalu membandingkan antara sikap saya dengan kakak saya itu rasa nya sakit sekali. Dan tetapi kebahagiaan yang saya dapatkan yaitu papa saya yang selalu ngerti dengan saya. Papa saya merupakan orang yang sangat peduli dengan saya, walaupun papa saya tidak mempunyai banyak uang tapi dia selalu mengasih waktu yang cukup buat saya. Mungkin menjadi anak kedua tidak mudah dan tidak gampang, karena anak kedua biasanya anak yang egois dan selalu terlihat selalu salah didepan semua orang kecuali pada orang yang tepat. Anak kedua lebih suka dengan ketenangan, kesendirian, dan anak kedua tidak suka keramaian atau hal yang berbau berisik.

Menurut Adler (Feist dan Feist, 2012), anak kedua memulai hidup dalam situasi yang lebih baik untuk membentuk kerja sama dan minat sosial. sampai tahap tertentu, kepribadian anak kedua dibentuk oleh persepsi mereka akan sikap anak sulung terhadapnya.

Menurut Leman (Murphy, 2012), mendeskripsikan anak tengah sebagai orang yang dikenal sangat fleksibel dalam gaya hidupnya. mereka dapat bener-benerr tenang dan pemalu, atau ramah dan bersosialisasi. mereka juga bisa sabar atau santai, pembrontak atau tidak kompetitif, dan agresif atau menghindari konflik. anak-anak tengah biasanya dilihat sebagai mediator atau negosiator.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun