Mohon tunggu...
Aisyah
Aisyah Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Hobi Membaca

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Objektifikasi Perempuan dalam Iklan Kosmetik

9 Desember 2024   08:38 Diperbarui: 9 Desember 2024   11:43 16
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Secara prinsipnya, kecantikan memiliki beragam representasi yang dipengaruhi oleh budaya, latar belakang, dan keunikan tiap individu. Tetapi media dan iklan sering kali mengiklankan standar kecantikan yang tidak realistis, seperti kulit putih, rambut lurus, dan tubuh ideal. Pada aspek kultural, objektifikasi diri perempuan diproduksi oleh masyarakat sekitarnya bahkan orang terdekat mereka. Proses ini berlangsung oleh hal yang sederhana, seperti ketika seorang teman mengomentari bentuk tubuh perempuan. (Awaluddin & Sangputri, 2023). 

Peran perempuan dalam media seringkali terbatas oleh pemanfaatan aspek visual yang membatasi cara mereka direpresentasikan dalam berbagai bidang kehidupan. Bicara perempuan dalam iklan bisa dilihat dari 3 posisi Perempuan dalam industri periklanan. Pertama yaitu sebagai pelaku dalam industri periklanan atau yang bisa disebut sebagai praktisi, kedua sebagai pembawa pesan iklan melalui perannya sebagai model atau bintang iklan dan endorser, dan ketiga sebagai konsumen target market dari iklan itu sendiri. (Santi, 2004). Contohnya: Iklan kosmetik yang biasanya menggunakan influencer kecantikan sebagai peran yang cukup penting dalam mempromosikan iklan kosmetik di media sosial. Influencer sering digambarkan sebagai individu yang relatable, autentik, dan ahli dalam kecantikan, yang memberikan saran kepada pengikut mereka. 

Mengubah perempuan menjadi objek iklan menjadikan penampilan fisik sebagai hal yang dapat diperdagangkan, membuat nilai perempuan hanya terpaut pada daya tarik visual. Penggambaran ini menegaskan pandangan bahwa perempuan harus memenuhi standar kecantikan tertentu, sehingga mengesampingkan keragaman dan hakikat perempuan yang lebih dari sekadar penampilan fisik. Objektifikasi ini akan terinternalisasi dalam kesadaran perempuan bahwa kualitas dirinya ditentukan seberapa besar ia memberi perhatian pada penampilan fisiknya. Kehidupan perempuan, pada gilirannya hanya berkutat pada pemenuhan-pemenuhan kebutuhan fisik. (Norhabiba, 2021) 

 

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun