Aku tidak mungkin akan menghadiri undangannya jika tidak mengingat ia adalah kawan baikku. Huh! Melihat lukisannya yang jauh dari kata menarik di pikiranku saja tidak pernah terpikirkan olehku. Kalau saja aku tidak pernah mengikrarkan janji padanya. Dasar lidah tak bertulang yang dengan lancangnya mengeluarkan kata-kata bermakna persetujuan.
Kawan baik seperti apa yang kalian harapkan? Pertemuan kami sangat singkat, bahkan pertemuan yang tidak bisa diduga. Hanya satu jam atau mungkin setengah jam lebih tepatnya. Tidak, kurasa empat puluh lima menit itu lebih tepat.
Rabu malam yang dingin. Suasana bar terlihat biasa saja, jauh dari kesan ramai. Tidak bisa disebut sepi juga. Mungkin belum terlalu malam karena belum begitu nampak banyak pengunjung. Namun, aku sudah menyelesaikan _one night stand_-ku.
"Margarita?"
"Ya. Aku tidak ingin mabuk malam ini. Kurasa segelas margarita masih membuatku nampak waras," kataku setelah meneguk minuman yang telah kutaburi garam di depanku.
"Lagi pula ini masih sore, masih banyak urusan yang harus aku selesaikan," lanjutku seraya melanjutkan tegukan berikutnya.
Kuselipkan sebatang rokok di antara bibirku yang bergincu merah menyala, menutupi warna aslinya yang hitam. Nyala api dari pemantik seorang pria di sebelahku mengharuskan kepalaku menengok ke arahnya.
Baru kusadari keberadaan pria yang menyapaku tadi. Rambut ikal dan kacamata berbingkai kotak bertengger di hidungnya yang mancung. Mata jenakanya tampak menyipit ketika menawarkan api dari pemantiknya. Sementara jari telunjuk dan jari tengah tangannya yang bebas terselip sebatang rokok yang terbakar sia-sia. Abunya dibiarkan menjuntai, hendak jatuh.
Di depannya nampak tablet sketsa dengan goresan yang masih setengah jadi. Kelihatan jelek dari arahku. Bukan bermaksud menghina. Goresan setengah jadi itu belum berwujud, tidak jelas ia akan melukis apa atau memang aku bukan pakar menilai lukisan. Pasalnya, belum ada yang mampu melukisku dengan sempurna. Kali pertama dan terakhir, aku dilukis dengan tubuh menyerupai batang korek api dan kepala seperti bola pingpong. Sejak saat itu aku memutuskan tidak boleh ada seorang pun yang melukisku.
Rupanya ia menyadari pandanganku yang belum beralih dari tablet sketsanya.
"Belum selesai."