Ahad, 28 Januari 2024. Siang tadi dalam tidur mimpi menulis tentang sosok Al-Husain as putra Imam 'Ali kw, yang juga cucu Rasulullah saw dari Sayyidah Fathimah Azzahra salamullah alaiha.
Dalam mimpi itu saya menulis berdasarkan pada catatan manuskrip yang ada di Tatar Sunda. Saya baca manuskrip hingga mengetahui ada kesamaan narasi dalam buku-buku sejarah yang umum. Yakni lahir, tumbuh besar bersama Rasulullah saw dan ditetapkan kelak bersamanya di Surga.Â
Kisah heroik di Karbala, Iraq, pun tercantum pada manuskrip yang dituliskan dengan huruf Arab Pegon.Tulisan tentang Al-Husain as itu saya baca berulang untuk memastikan akurasi dan keutuhan narasi berupa peristiwa-peristiwa yang luput dari wacana dan kisah di tengah masyarakat yang disampaikan para ustadz di masjid. Tiap ada informasi manuskrip mengenai Al-Husain as dan penggalan kisahnya pada buku-buku berbahasa Sunda dibaca. Dan ternyata memiliki kesamaan dengan narasi yang tertuang pada karya saya.
Terpikir untuk melakukan analisa dengan kajian ilmu-ilmu Humaniora agar tampak holistik dengan situasi zaman yang pada masanya. Namun, terhenyak dengan pernyataan dari diri sendiri bahwa narasi sejarah dan tokoh teladan tidak diperlu direkayasa. Sejarah mesti hadir apa adanya.
Tulisan itu tidak beres. Saya terbangun dari tidur saat istri membangunkan. Duh, apa pesan dari mimpi tersebut? Bukankah setiap peristiwa ada hikmah dibaliknya? ***
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI