Mohon tunggu...
ARAYRI
ARAYRI Mohon Tunggu... Guru - Adzra Rania Alida Yasser Rizka

Sampaikanlah Dariku Walau Satu Ayat

Selanjutnya

Tutup

Healthy Artikel Utama

Kamar Rumah Sakit Penuh? Benar atau Bohong?

20 Mei 2015   16:10 Diperbarui: 31 Juli 2017   09:56 981
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
14321215341053871722

[caption id="attachment_418886" align="aligncenter" width="624" caption="Puluhan pasien Kartu Jakarta Sehat (KJS) berdesakan di Instalasi Gawat Darurat RSUD Koja, Jakarta Utara (KOMPAS / WISNU WIDIANTORO)"][/caption]

Seorang rekan kerja saya saat ini sedang ditimpa musibah. Istrinya yang hamil 7 bulan harus masuk rumah sakit karena sesak napas yang diderita. Setelah diperiksa di UGD, dia harus masuk ICU, dan ternyata harus di-caesar, agar anak dan istrinya selamat. Anaknya kemudian lahir prematur dan ibunya sehat walafiat. Namun, rekan saya tidak menyangka biaya yang dibutuhkan sang anak untuk bertahan, seharinya 8 juta rupiah. Karena biaya yang mahal itu, saat ini dia sedang mencari rumah sakit lain yang bisa BPJS, untuk kemudian memindahkan anaknya. Namun, sampai saat ini semua kamar, di semua rumah sakit penuh. Keluarga dan rekan-rekan di tempat kerja ikut membantu mencari RS, namun sampai kemarin sore, semua RS yang dihubungi bilang penuh. Seorang rekan nyeletuk, “Bener ga sih penuh?”

Saya sendiri punya pengalaman mengantar sodara yang mau lahiran pakai BPJS. Pada awalnya sodara saya diperiksa rutin oleh dokter kandungan. Berdasarkan hasil pemeriksaan, sang dokter bilang, “Ini harus di-caesarBu, hari ini!” Sodara saya setuju, (dia mah emang pengen cepet di-caesar sih…). Lengannya diinfus dan sudah tiduran di bagian UGD. Akan tetapi setelah satu jam menunggu, ada suster datang, bilang, “Ibu kamarnya penuh, ga bisa di sini!” "Waduh, ko gitu? Pan dokternya sendiri bilang harus di-caesar!” Namun, suster bersikeras bahwa kamarnya penuh. Akhirnya dengan kecewa, kami keluar dari RS. Di perjalanan, muncullah berbagai pertanyaan dan prasangka buruk dari sodara-sodara yang ikut nganter, “Itu mah boong, penuh, bilang aja ga mau nanganin!”

Ada lagi pengalaman tante saya. Setelah cek darah di sebuah rumah sakit, dia divonis sakit ginjal dan harus dirawat serta cuci darah. Tante saya pasrah. Lengan diinfus dan kemudian menunggu masuk kamar, tetapi ternyata kamarnya penuh, sehingga harus pindah ke rumah sakit lain. Tentu saja, ini mengecewakan. Om saya yang seorang PNS kecewa dan marah-marah, “Saya sudah puluhan tahun pakai askes, bayar!” “Kenapa ditolak begini?” Namun pihak RS bergeming. Akhirnya malam-malam pindah ke rumah sakit lain.

Pengalaman ditolak rumah sakit terkadang kita dengar, tetapi kadang juga ada pengalaman orang diterima dan dapat kamar di rumah sakit, seperti bapak saya ketika akan operasi prostat. Beliau sempat menunggu semalaman sampai pagi, Alhamdulillah dapat kamar. Rekan kerja saya Pak Soleh, bulan lalu operasi kulit menggunakan BPJS, dan dalam proses pelaksanaannya tidak menemui kesulitan. Ketika dokter memutuskan esoknya operasi, sorenya Pak Soleh masuk rumah sakit dan langsung dapat kamar. Operasi pun berjalan dengan lancar.

Kenapa bisa begitu, kenapa ada rumah sakit yang menolak dengan alasan penuh dan ada yang tidak?

Kebetulan kemarin, ketika kita sedang membantu mencarikan RS untuk anak istri dari rekan kerja kami (seperti yang saya ceritakan di awal), ada seorang dokter, orang tua siswa yang ikut membantu. Dokter itu cukup senior dan punya klinik sendiri. Dia membantu mencarikan RS dengan menelepon kolega-koleganya para dokter. Nah ketika itulah ada rekan saya, yang bertanya kepada dokter itu, “Pak, kalau RS bilang penuh itu beneran penuh atau ga?” “Oiya itu bener penuh!” jawab sang dokter mantap. “O gitu Pak. Jadi ga boong ya Pak.” "Iya,” ditegaskannya sekali lagi. Saya pribadi percaya kepada dokter itu, begitu pula teman-teman.

Lantas bagaimana bisa bilang penuh? Penjelasannya seperti ini. Pertama, sebuah rumah sakit sama dengan fasilitas umum lainnya. Jika kita lihat jalan-jalan saat ini, penuh dengan kendaraan-kendaraan, sehingga macet. Kendaraannya tambah banyak tetapi jalan raya tetap sedikit. Begitu pula dengan yang terjadi di dunia medis. Banyak orang berobat tetapi fasilitas kurang. Kita lihat di RS-RS saat ini, terutama yang melayani BPJS, penuh setiap harinya. Antrian cukup tinggi dibandingkan dulu ketika BPJS belum ada. Ini terjadi di RS swasta ataupun pemerintah. Jadi jika jawaban dari RS penuh, maka bisa jadi memang RS yang bersangkutan sedang penuh.

Kedua, sebuah rumah sakit memiliki alat medis yang terbatas. Seperti yang dialami anak istri rekan saya, anaknya membutuhkan ventilator (alat bantu napas mekanik) dan NICU (Neonatal Intensive Care Unit) untuk membantu bayi prematur yang baru lahir dalam bertahan hidup. Nah alat medis tersebut, belum tentu dimiiki oleh setiap RS. Kalaupun ada RS yang punya, RS tersebut bisa punya tetapi dengan jumlah terbatas, misalnya satu RS hanya punya satu atau dua alatnya. Dan mungkin juga alat tersebut sedang dipakai. Jadi penuhnya adalah penuh alat, walau ada kamar yang kosong. Kemarin rekan saya sempat menelepon beberapa RS dan kami ikut mendengar percakapan itu. Pihak RS yang ditelepon, meminta rekan saya agar RS-nya saat ini di mana ibu dan anaknya dirawat, menelepon mereka, jadi jelas situasi yang terjadi saat ini, perlu alat apa saja, dan sang pasien bagaimana kondisinya. Yang bisa menjelaskan hal itu adalah pihak RS yang saat ini sedang menangani. Nah RS yang dituju akan mempelajarinya sehingga mereka pada akhirnya nanti bisa menerima atau tidak sesuai kondisi RS itu.

Jadi dapat dikatakan ada RS yang antrian pasiennya membeludak dan ada RS yang alat medisnya terbatas, atau tidak ada dokter spesialis yang mampu menangani. Tetapi bagaimana dengan solusinya? Kan orang sakit tetap butuh pertolongan, tidak bisa ditelantarkan begitu saya. Ada beberapa opsi yang bisa dilakukan. Pertama, dengan adanya keterbatasan itu, pasien dirujuk ke RS lain yang lebih besar dengan fasilitas medis yang lebih banyak, dan dokter yang lebih lengkap. Yang kedua, ketika pasien membeludak, pasien dirawat terlebih dahulu di puskesmas. Menurut Ibu Menteri Kesehatan, disarankan ada pasien dirawat dulu di Puskesmas, yang jenis sakitnya masih bisa ditangani oleh Puskesmas, sampai dapat kamar di rumah sakit.

Namun bagaimana jika ada RS yang nakal, atau punya modus tertentu dalam menolak pasien? Saya yakin hal itu ada dalam pikiran masyarakat ketika merasa ditolak pihak RS. Menurut saya, yang harus dilakukan adalah memastikan dulu bahwa penolakan itu adalah dengan alasan yang benar, bukan karena modus. Kemudian jika RS menolak sebagai sebuah modus berarti melawan peraturan yang ada, Permenkes No 71 Tahun 2013 tentang Pelayanan Kesehatan Pada Jaminan Kesehatan Nasional. Dalam peraturan itu dijabarkan secara jelas hak-hak pasien dan kewajiban RS yang ikut dalam BPJS. Namun harus kita pastikan dulu, selanjutnya lapor ke BPJS.

Ditolak RS tentu bukan hal yang menyenangkan. Bayangkan, sudah kitanya sakit dan butuh pertolongan malah ditolak, walaupun dengan alasan kondisi yang benar adanya misalnya kamar penuh atau tidak ada alat, tetapi seyogyanya pihak RS dapat memberikan solusi alternatif kepada pasien sebagai bentuk tanggung jawab pelayanan kesehatan pada masyarakat, karena pelayanan kesehatan bukan saja fisik, tetapi juga mental. Saya yakin jika pihak RS dapat memberikan solusi alternatif, kondisi mental pasien lebih terjaga dan akan berefek positif bagi keluarga sehingga tidak ada lagi pertanyaan atau prasangka buruk “ini beneran atau boong?”. Akhirul kalam, semoga kondisi pelayanan kesehatan di negara ini semakin baik adanya.

Sumber

pertama

kedua

ketiga

empat

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun