Ada riwayat yang mengatakan bahwa kemunculan para penyembah api Majusi adalah buah provokasi dari kabinet pembisik dari Dewan Perwakilan Raja Iblis, yang memelintir fakta tentang musabab diterimanya amal salah satu anak Adam oleh Allah –yaitu dengan tanda terbakarnya persembahan- bukanlah karena keunggulannya, melainkan karena dia sebelumnya telah menjadi penyembah api (lihat kembali riwayat Habil n Qobil), serta banyak lagi kisah sejenis yang mungkin akan kita dapatkan, dengan riwayat, setting serta pelaku yang berbeda.
Tapi pemahaman yang tertangkap dari banyak ulasan yang beredar bebas, bahwa mewudjudkan Yang Maha Suci dalam benda mati, dengan sikap menjadikannya sebuah surogat yang setara dengan Tuhan sendiri, bukan lagi karena “rindu rasa, rindu rupa”, melainkan lebih kepada nilai instan serta kepraktisan dalam beragama serta berkehidupan.
Tahu-tahu kita menyimpan Tuhan dalam pundi-pundi iman dan kebenaran monopolistik yang cuma milik kita pribadi. Dalam kantung celana, dalam dompet, diselipkan disekitar paha wanita, hingga puncaknya kita mengekstraknya dengan cara yang amat tak lazim lalu menghirupnya,
Tiba-tiba saja banyak dari kita yang bermimikri menjadi tuhan, atau setidaknya bergaya tuhan, entah dalam dunia nyata, atau dalam dunia baru yang amat maya, semu serta khayali. Hasilnya...?
"Ketika wayang kurang ajar ikut mencoba jadi dalang, tak ada yang dilakukan oleh Sang Dalang Sejati, kecuali menunggu... sambil bersiap memasukkan mereka ke dalam kotak... yang membara!"
Semoga kita semua terhindar dari yang itu, aamiin.
Secangkir Kopi Kehati-hatian dalam Beragama, 2015.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H