Mohon tunggu...
Ahmad Maulana S
Ahmad Maulana S Mohon Tunggu... Founding partner di Lembaga Pendidikan dan Sosial Kemasyarakatan -

Founding partner di Lembaga Pendidikan dan Sosial Kemasyarakatan // Penikmat kutak-katik kata yang gemar mengembara dari satu bait ke larik yang lainnya // Cuma seseorang yang ingin menjadi tua tanpa rasa bosan, setelah sebelumnya beranak-pinak seperti marmut atau cecurut // Salam hangat persahabatan...^_

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Cinta Menari di Gerimis Pedang

26 September 2015   22:26 Diperbarui: 26 September 2015   22:26 544
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Segara Bay bersuillan dan mengerahkan hawa murni guna menggiring sisa racun di lengan, untuk kemudian mengeluarkannya secara amat perlahan melalui ujung jari yang biasa dipergunakan untuk memberi vote ke teman-teman maya.

Bau busuk luar biasa menguar memenuhi ruangan ketika proses detoksifikasi tersebut berjalan, membuat kepala Bay sedikit pening terpapar hawa beracun yang menguap. Baru setelah sepeminum kopi lamanya sisa racun yang ada di lengan musnah, membuat Bay semakin khusuk bersemedi hingga berada pada keadaan tidak sadar sama sekali.

***

Kopi Peram, Waktu Indonesia Bagian Segar.

Creng! Creng!

Petikan khim yang melengking mengembalikan kesadaran Bay dari suillannya, membawa serta pendar keemasan matahari sore yang memancar dari jendela di samping pembaringan.

Perlahan Bay bangkit, berjalan menuju asal suara khim yang terdengar kian tinggi dan melengking, mengingatkan Bay pada lolong anjing yang terkaing-kaing kesepian. Mulutnya tak henti-hentinya berdecak melihat kehebatan arsitektur yang terpahat pada lorong batu yang dilaluinya itu, yang siapa sangka hanya sebuah gua yang menjorok pada sisi sebuah tebing curam?

Hup! Bay melompat dari mulut gua dengan gerakan Tak Ada Bayang Tanpa Cahaya yang merupakan gerakan dasar dari Langkah Bayangan Mengejar Sinar andalannya. Tubuhnya melayang seringan kapas, untuk kemudian mendarat halus di tanah berumput tanpa menimbulkan suara sedikitpun.

Tapi suara khim mendadak berhenti, bersamaan dengan lambaian tangan nona penolongnya yang duduk menyanding khim di tepi danau, membuat Bay terperanjat dengan kemampuan si nona dalam mendeteksi gerakan. Padahal waktu melompat tadi dia telah mengeluarkan ginkang sebesar delapan bagian, yang bahkan pendekar kelasa wahidpun belum tentu mampu mendeteksinya.

“Mari minum bersama,” tawar si nona melemparkan buli-buli yang disandingnya, membuat Bay kembali terkesiap sebab kecepatan serta tenaga yang menyertainya tak kalah dari sebuah amgi.

Tak sempat mengelak, Bay menggerakkan tangan setengah melingkar di depan dada, untuk kemudian menyelentik ke depan dengan jurus Menyentil Koruptor Keluar Grup yang pernah dipelajarinya secara tak sengaja dari kitab kuno aliran Chin Yung.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
  11. 11
  12. 12
  13. 13
  14. 14
  15. 15
  16. 16
  17. 17
  18. 18
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun