Mohon tunggu...
Ahmad Maulana S
Ahmad Maulana S Mohon Tunggu... Founding partner di Lembaga Pendidikan dan Sosial Kemasyarakatan -

Founding partner di Lembaga Pendidikan dan Sosial Kemasyarakatan // Penikmat kutak-katik kata yang gemar mengembara dari satu bait ke larik yang lainnya // Cuma seseorang yang ingin menjadi tua tanpa rasa bosan, setelah sebelumnya beranak-pinak seperti marmut atau cecurut // Salam hangat persahabatan...^_

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Cinta Menari di Gerimis Pedang

26 September 2015   22:26 Diperbarui: 26 September 2015   22:26 544
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

“Kopi peram ini diracik dari biji pilihan, yang dicampur dengan beberapa tumbuhan beracun yang amat ganas dari sejenis bunga bernama Cinta Yang Menggebu Terlalu Dini, Rumput Kerinduan Penghancur Konsentrasi serta Akar-Bahar Dusta Kehidupan dan sedikit saripati Akik Bacan,” terang Na, yang langsung membuat wajah Bay sepucat mayat.

“Jangan khawatir, Bay, aku tidak meracunimu. Karena perpaduan antara racun dengan racun pada beberapa keadaan justru menghilangkan sifat racunnya, dan berubah menjadi ramuan yang jauh lebih unggul dari jinsom berusia ribuan tahun atau Jintan Langit yang terkenal sebagai mustika ajaib dunia persilatan itu,” lanjut Na. “Sekarang, coba kau semedi dan serap semua kebaikan dari kopi peramku itu.”

Bay mengangguk dan langsung mengerahkan hawa murninya secara zig-zag ke seluruh nadi yang ada di tubuh. Tapi pada nadi yang terletak antara hati dan ginjal, Bay merasa kurang lancar, seperti ada suatu arus kuat yang coba mementahkan sentakan hawa murninya hingga terpental kembali ke pusar.

Beberapa kali Bay mencoba, namun tetap saja gagal. Bahkan kini tubuhnya bergetar hebat hingga hampir ngusruk ke depan dan terjengkang ke belakang.

Bay hampir tak tahan ketika akhirnya sebuah telapak tangan yang lembut menyangga di punggungnya, dan mengalirkan suatu arus tenaga yang kuat dan hangat secara amat perlahan.

Dengan gabungan hawa murni tersebut, akhirnya Bay berhasil mendobrak sekat di tantiam antara ginjal dan hatinya, dan menjinakkan arus tenaga yang tadi menyerangannya dengan amat liar. Masih beberapa kali Bay mengarahkan hawa murninya secara zig-zag menelusuri tubuh, sebelum akhirnya dia mengakhiri suillan dan bertabik berulang kali kepada Na, yang disambut Na dengan menyingkir ke samping sebagai penolakan.

“Terima kasih banyak atas bantuanmu, Na.” ucap Bay dengan terharu, yang dijawab Na hanya dengan tersenyum.

 

***

Pelajaran Terbaik dari Na.

“Mengapa kau berkali-kali menolong saya, Na?” tanya Bay, sesaat setelah mereka duduk kembali.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
  11. 11
  12. 12
  13. 13
  14. 14
  15. 15
  16. 16
  17. 17
  18. 18
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun