“Kopi peram ini diracik dari biji pilihan, yang dicampur dengan beberapa tumbuhan beracun yang amat ganas dari sejenis bunga bernama Cinta Yang Menggebu Terlalu Dini, Rumput Kerinduan Penghancur Konsentrasi serta Akar-Bahar Dusta Kehidupan dan sedikit saripati Akik Bacan,” terang Na, yang langsung membuat wajah Bay sepucat mayat.
“Jangan khawatir, Bay, aku tidak meracunimu. Karena perpaduan antara racun dengan racun pada beberapa keadaan justru menghilangkan sifat racunnya, dan berubah menjadi ramuan yang jauh lebih unggul dari jinsom berusia ribuan tahun atau Jintan Langit yang terkenal sebagai mustika ajaib dunia persilatan itu,” lanjut Na. “Sekarang, coba kau semedi dan serap semua kebaikan dari kopi peramku itu.”
Bay mengangguk dan langsung mengerahkan hawa murninya secara zig-zag ke seluruh nadi yang ada di tubuh. Tapi pada nadi yang terletak antara hati dan ginjal, Bay merasa kurang lancar, seperti ada suatu arus kuat yang coba mementahkan sentakan hawa murninya hingga terpental kembali ke pusar.
Beberapa kali Bay mencoba, namun tetap saja gagal. Bahkan kini tubuhnya bergetar hebat hingga hampir ngusruk ke depan dan terjengkang ke belakang.
Bay hampir tak tahan ketika akhirnya sebuah telapak tangan yang lembut menyangga di punggungnya, dan mengalirkan suatu arus tenaga yang kuat dan hangat secara amat perlahan.
Dengan gabungan hawa murni tersebut, akhirnya Bay berhasil mendobrak sekat di tantiam antara ginjal dan hatinya, dan menjinakkan arus tenaga yang tadi menyerangannya dengan amat liar. Masih beberapa kali Bay mengarahkan hawa murninya secara zig-zag menelusuri tubuh, sebelum akhirnya dia mengakhiri suillan dan bertabik berulang kali kepada Na, yang disambut Na dengan menyingkir ke samping sebagai penolakan.
“Terima kasih banyak atas bantuanmu, Na.” ucap Bay dengan terharu, yang dijawab Na hanya dengan tersenyum.
***
Pelajaran Terbaik dari Na.
“Mengapa kau berkali-kali menolong saya, Na?” tanya Bay, sesaat setelah mereka duduk kembali.