Mohon tunggu...
Ahmad Rusdiana
Ahmad Rusdiana Mohon Tunggu... Dosen - Praktisi Pendidikan, Penulis, Peneliti, Pengabdian Kepada Masyarakat-Pendiri Pembina Yayasan Pendidikan Al-Misbah Cipadung Bandung-Pendiri Pembina Yayasan Tresna Bhakti Cinyasag-Panawangan-Ciamis Jawa Barat

“Learning to Explore, Develop, and Serve”

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Hak atas Planet yang Aman dan Layak Huni: Peran Gen Z Menuju Indonesia Emas 2045

21 November 2024   11:23 Diperbarui: 21 November 2024   11:33 19
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber: https://wartakita.id/hari-anak-sedunia-unicef-tekankan-3-hak-utama-anak/(dimodifikasi)

Hak atas Planet yang Aman dan Layak Huni: Peran Gen Z Menuju Indonesia Emas 2045

Oleh: A. Rusdiana

Planet yang aman dan layak huni merupakan hak fundamental setiap manusia, termasuk anak-anak. Sayangnya, perubahan iklim, polusi udara, dan penurunan kualitas air telah mengancam hak tersebut. Laporan dari United Nations Development Programme (UNDP) menunjukkan bahwa lebih dari 90% anak-anak di seluruh dunia hidup di daerah dengan kualitas udara yang buruk, menimbulkan risiko kesehatan serius. Generasi Z, dengan kemampuan adaptasi tinggi terhadap teknologi dan semangat inovasi, memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan. Namun, masih ada kesenjangan (GAP) antara tantangan lingkungan yang ada dan keterlibatan aktif generasi muda dalam upaya keberlanjutan. Tulisan ini menyoroti bagaimana Gen Z dapat memainkan peran strategis dalam menciptakan planet yang layak huni, sekaligus mendukung pembangunan bangsa di era 5.0 menuju Indonesia Emas 2045. Berikut ini adalah eksplorasi lebih lanjut mengenai Hak atas Planet yang Aman dan Layak Huni:

Pertama: Memanfaatkan Teknologi untuk Energi Terbarukan; Generasi Z memiliki kemampuan alami dalam memahami teknologi digital. Mereka dapat mengembangkan aplikasi atau platform yang mempermudah adopsi energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin. Contohnya, aplikasi yang mengukur efisiensi penggunaan energi di rumah dapat membantu masyarakat mengurangi konsumsi listrik dari sumber tidak terbarukan. Dengan mendukung transisi energi, Gen Z dapat mengurangi jejak karbon Indonesia secara signifikan.

Kedua: Pengelolaan Limbah Berbasis Komunitas; Pengelolaan limbah menjadi isu utama yang perlu perhatian. Generasi muda dapat memimpin gerakan pengelolaan limbah berbasis komunitas, seperti bank sampah digital yang memanfaatkan aplikasi untuk menghubungkan produsen sampah dengan daur ulang. Inisiatif seperti ini tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat setempat.

Ketiga: Mengadvokasi Kebijakan Lingkungan; Kesadaran Gen Z tentang isu keberlanjutan dapat diperkuat melalui advokasi kebijakan lingkungan. Dengan memanfaatkan media sosial, mereka dapat menggalang dukungan untuk regulasi yang lebih ketat terkait pengurangan emisi karbon dan perlindungan ekosistem. Selain itu, mereka dapat terlibat aktif dalam dialog dengan pemerintah dan sektor swasta untuk memastikan implementasi kebijakan yang efektif.

Keempat: Pendidikan Green Leadership; Generasi Z dapat menjadi pemimpin lingkungan melalui pendidikan dan pelatihan green leadership. Program ini dapat mencakup pelatihan tentang solusi berbasis alam (nature-based solutions), manajemen sumber daya air, dan konservasi keanekaragaman hayati. Dengan pelatihan ini, mereka dapat menginspirasi masyarakat untuk berkontribusi dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

Kelima: Inovasi dalam Teknologi Pengurangan Polusi; Inovasi teknologi dapat menjadi senjata utama Gen Z untuk melawan polusi. Contohnya, mereka dapat mengembangkan sensor kualitas udara murah yang dapat dipasang di daerah perkotaan untuk memantau polusi secara real-time. Data yang dikumpulkan dapat digunakan untuk memberikan solusi lokal yang spesifik dan berbasis data.

Pada hakikatnya, Generasi Z memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak perubahan dalam menciptakan planet yang aman dan layak huni. Dengan memanfaatkan teknologi, mengelola limbah, mengadvokasi kebijakan, serta menjalankan pendidikan dan inovasi lingkungan, mereka dapat memainkan peran strategis menuju keberlanjutan. Untuk mendukung peran ini, pemerintah dan sektor swasta perlu menyediakan fasilitas dan pelatihan yang memadai. Selain itu, kolaborasi lintas sektor sangat penting untuk menciptakan ekosistem keberlanjutan yang mendukung visi Indonesia Emas 2045. Planet yang layak huni adalah warisan terbesar yang dapat diberikan kepada generasi mendatang, dan Generasi Z adalah kunci untuk mewujudkannya. Wallahu A'lam.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun