Mohon tunggu...
Ahan Syahrul Arifin
Ahan Syahrul Arifin Mohon Tunggu... Direktur Sang Gerilya Institue -

penulis

Selanjutnya

Tutup

Politik

Saat Harry Azhar Masuk Politik

26 April 2016   15:15 Diperbarui: 26 April 2016   15:50 379
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Politik. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Dunia politik sebetulnya sudah tidak dalam pikiran Harry Azhar Azis. Menuntaskan amanah Ketua Umum PB HMI 1983-1986 ditengah kongres yang penuh intervensi dan polemik akibat penerapan ideologi tunggal Pancasila. Harry memutuskan melanjutkan studi ke Amerika, meskipun ia tahu, ia tak begitu fasih berbahasa Inggris.

Bergelut dengan dunia akademik hingga bertitel P.hD,  di ruang-ruang akademik waktu Harry lebih banyak di habiskan. Mengajar, mengisi seminar, menjadi peneliti, hingga tenaga ahli di DPR.

Hingga pada suatu waktu, Harry di panggil Akbar Tandjung yang kala itu menjabat sebagai Ketua Umum Partai Golkar. Akbar Tandjung tokoh yang membawa perubahan besar dalam Beringin Kuning, ia yang mengubah Golkar menjadi Partai dengan Paradigma Baru-nya. Golkar yang untuk pertamakali sejak era reformasi memenangkan Pemilihan Legislatif. Pemilu 2004, Partai Golkar kembali juara.

Tapi kalau mau tahu apa alasan Harry masuk Golkar, rasa-rasanya lebih pas baca buku barunya “Amanah Sampai Akhir” di bab Ilmuwan yang Politikus. Cerita Harry didunia politik memang berawal dari Akbar Tanjung.

Makanya cukup menarik ketika Akbar Tandjung menawarinya untuk masuk dalam dunia politik praktis. Kala itu, Akbar, masih menjabat Ketum Partai Golkar, dengan kewenanganya ia meminta Harry menjadi Caleg DPR RI  dari Partai Golkar.

Pertama kali yang Harry tanyakan kepada Akbar adalah mengenai besaran gaji yang dapat dia bawa pulang. Begitu Akbar menjawab dengan angka tertentu, lalu Harry bandingkan dengan pendapatan yang ia terima dengan kegiatan yang selama ini ia tekuni.

Disanalah, lanjutnya, Akbar marah besar. “Amerika telah mengubah menjadi sangat individualis, hedonis, dan pragmatis. Dulu kamu adalah seorang akvitis yang idealis, tapi ternyata waktu menggubahmu dengan cepat,” seru Akbar kali itu sebagaimana ditirukan Harry.

Harry merasa cukup terkejut dengan pernyataan Akbar tersebut. Ia mengaku terbata-bata harus menjawab apa dengan lontaran Akbar yang begitu deras dan keras. Sejak selesai S3 tidak pernah terbayang untuk jadi politisi, Harry terbayang mengajar dan meneliti saja, karena selama di Amerika dia sudah menjadi peneliti.

Pernyataan keras Akbar tersebut cukup menyentak Harry, membuat Harry berpikir dan merenung dalam tentang kehidupannya. Harry menyebutkan, saat itu, Akbar mengatakan dengan kecerdasan, keilmuan, dan kompetensi yang ia miliki dapat dipergunakan untuk memperbaiki daerahnya, Tanjung Pinang.

Nasehat Akbar tersebut cukup mengganggunya, sehingga karena tidak mau juga dianggap sebagai orang individualis dan hedonis. Masih ada nilai-nilai aktivisme yang melekat dalam diri saat menjadi aktivis. Nilai-nilai moral untuk memperbaiki kehidupan negara menjadi lebih baik. Harry dengan sadar menerima tawaran Akbar Tandjung.

“Saya akhirnya ngomong dengan keluarga, dan sejak itu hidup saya berubah. Biasanya sabtu minggu ada waktu dengan keluarga, sejak masuk dunia politik tidak ada hari libur. Sabtu-Minggu sama dengan hari Senen sampai Jumat. Ini juga yang menyebabkan anak-anak saya lebih dekat dengan Ibunya daripada dengan saya sendiri,”

Politik bagi banyak orang adalah dunia yang culas, hitam dan penuh dengan anasir-anasir jahat. Homo homini lupus, manusia bak serigala bagi manusia laiinya. Persepektif tersebut tentu lahir dari bagaimana proses politik yang terlalu banyak diwarnai dengan intrik kekuasaan belaka. Politik yang jauh dari nilai moral dan etika.

Karena itu Harry, begitu menancapkan pilihan pada dunia politik sudha berikrar untuk tidak bermain pada sandiwara politik. Pencitraan dan kekuasaan belaka, melainkan pada karya-karya kebijakan yang sepenuhnya untuk rakyat.

Harry merasakan nikmatnya menjadi anggota DPR adalah saat ia menjad Ketua Badan Anggaran. Pada waktu ia menduduki posisi tersebut, disisi pemerintah, menteri yang mendapatkan amanah presiden adalah Sri Mulyadi Indrawati.

Harry merasakan dunia politik anggaran yang diisi dengan perdebatan-perdebatan intelektual mengenai politik anggaran. Sebuah perdebatan mumpuni untuk melahirkan kebijakan yang tepat guna dan tepat sasaran bagi masyarakat Indonesia.

Indra J Piliang dalam tulisan pengantar autobiografi Hary Azhar Azis, Amanah Sampai Akhir, soal politik dan kekuasaan sebagai fase kelima hidupya disebut.

“Kanda Harry tidak kehilangan dirinya dalam struktur jabatan partai politik atau jabatan negara yang dipercayakan kepadanya. Ia tetap dengan gigih memunculkan pengalaman, pengetahuan dan kengototan pribadinya dalam persoalan-persoalan kebijakan partai atau negara. Apapun tugas yang diberikan kepadanya dan arahan yang diberikan, Kanda Harry tak malah mengekor demi kepentingan pihak pemberi tugas. Ia dengan halus memberikan cap dirinya ke dalam setiap perdebatan pilihan kebijakan yang dilakukan. Ia loyal dan tunduk kepada atasan, tetapi ia mendongakkan pikiran sendiri untuk diterima sebagai dasar bagi loyalitas dan ketundukan itu. Kanda Harry adalah tipikal paripurna bagi citra orang Pariaman yang otentik: terhimpit hendak di atas, terkurung hendak di luar. Ia tak di bawah atau di dalam sosok-sosok yang dianggap punya kepentingan dengannya,” tulis IJP.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun