Mohon tunggu...
Agustinus Gereda Tukan
Agustinus Gereda Tukan Mohon Tunggu... Penulis - Pensiunan

Pencinta membaca dan menulis, dengan karya narasi, cerpen, esai, dan artikel yang telah dimuat di berbagai media. Tertarik pada filsafat, bahasa, sastra, dan pendidikan. Berpegang pada moto: “Bukan banyaknya, melainkan mutunya,” selalu mengutamakan pemikiran kritis, kreatif, dan solusi inspiratif dalam setiap tulisan.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Disiplin Diri, Kunci Meraih Kesuksesan Akademik Mahasiswa di Era Digital

10 Oktober 2024   06:05 Diperbarui: 10 Oktober 2024   06:30 106
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Banyak mahasiswa di era modern mengalami kesulitan dalam menyelesaikan studi mereka tepat waktu, dipengaruhi oleh berbagai faktor mulai dari beban akademik yang berat hingga tantangan pribadi sehari-hari, namun salah satu faktor paling mendasar adalah kurangnya disiplin diri. Di era digital yang serba canggih, dengan kemudahan akses informasi dan hiburan, distraksi menjadi semakin besar, seperti media sosial, streaming video, dan berbagai bentuk konten digital yang sering mengalihkan perhatian mahasiswa dari tujuan akademiknya. Disiplin diri merupakan kunci utama untuk mencapai kesuksesan dalam studi, terutama di tengah berbagai distraksi yang dihadirkan oleh teknologi. 

Disiplin diri membantu mahasiswa tetap fokus pada prioritas, mengelola waktu secara efektif, dan membangun kebiasaan belajar yang konsisten. Tanpa disiplin, mudah bagi mahasiswa tergoda menunda pekerjaan, menumpuk tugas, dan akhirnya mengalami kesulitan menyelesaikan pendidikan sesuai jadwal. Artikel ini bertujuan mendorong mahasiswa memahami pentingnya disiplin diri dalam mencapai kesuksesan akademik dan memberikan strategi praktis yang dapat diterapkan untuk mengembangkan disiplin diri, sehingga mereka dapat menyelesaikan studi tepat waktu, atau bahkan lebih cepat, dengan hasil yang memuaskan.

Era Digital dan Tantangan bagi Mahasiswa

Di era digital ini, mahasiswa dihadapkan pada tantangan besar berupa distraksi ('hal yang menarik perhatian') dari media sosial, internet, dan berbagai bentuk hiburan digital. Platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube sering menarik perhatian mahasiswa dan menyita waktu yang seharusnya dialokasikan untuk belajar. Menurut Cal Newport dalam Deep Work: Rules for Focused Success in a Distracted World (2016), kemampuan fokus pada pekerjaan mendalam telah menjadi keterampilan yang langka, namun sangat berharga di era digital. Newport menyatakan bahwa media sosial dan interaksi online dapat menghambat kemampuan seseorang terlibat dalam pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi penuh.

Penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa yang sering menggunakan media sosial cenderung memiliki prestasi akademik yang lebih rendah. Junco dalam The Relationship between Frequency of Facebook Use, Participation in Facebook Activities, and Student Engagement (2012) menemukan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan mengakibatkan penurunan performa akademik dan kemampuan fokus. Dengan terus-menerus berpindah antara aktivitas akademik dan media sosial, mahasiswa kehilangan kemampuan memasuki kondisi fokus mendalam yang penting bagi pembelajaran yang efektif.

Kebiasaan menunda pekerjaan (procrastination) juga merupakan tantangan besar yang dihadapi mahasiswa di era digital. Akses yang mudah ke hiburan online membuat mahasiswa lebih cenderung menunda tugas akademik. Menurut Piers Steel dalam The Procrastination Equation: How to Stop Putting Things Off and Start Getting Stuff Done (2011), penundaan sering didorong oleh preferensi untuk mendapatkan kesenangan jangka pendek daripada manfaat jangka panjang. Steel menegaskan bahwa dalam lingkungan yang penuh gangguan, seperti internet, kebiasaan menunda menjadi semakin lazim.

Dampak buruk dari kebiasaan menunda meliputi penurunan kualitas pekerjaan, peningkatan stres, dan keterlambatan dalam penyelesaian studi. Penelitian oleh Tice dan Baumeister, yang dipublikasikan dalam artikel Longitudinal Study of Procrastination, Performance, Stress, and Health: The Costs and Benefits of Dawdling (1997), menunjukkan bahwa mahasiswa yang sering menunda-nunda tugas mengalami lebih banyak tekanan dan hasil akademik yang lebih buruk dibandingkan dengan mereka yang mengerjakan tugas tepat waktu. Penundaan sering menghasilkan beban pekerjaan yang menumpuk, membuat mahasiswa merasa kewalahan dan kehilangan motivasi untuk menyelesaikan tugas dengan baik.

Disiplin Diri sebagai Kunci Keberhasilan

Disiplin diri adalah kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri, tetap fokus pada tujuan yang diinginkan, dan melakukan apa yang diperlukan meskipun menghadapi godaan atau gangguan. Roy Baumeister dalam Willpower: Rediscovering the Greatest Human Strength (2011), menyatakan bahwa disiplin diri adalah salah satu faktor yang paling berpengaruh terhadap keberhasilan seseorang dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam bidang akademik. Menurut Baumeister, disiplin diri berperan penting dalam membantu seseorang bertahan dari godaan jangka pendek yang dapat menghalangi pencapaian tujuan jangka panjang.

Dalam konteks akademik, disiplin diri membantu mahasiswa untuk tetap konsisten dalam belajar, mengerjakan tugas tepat waktu, dan menghindari penundaan. Angela Duckworth dalam Grit: The Power of Passion and Perseverance (2016), menekankan pentingnya disiplin diri dan ketekunan untuk meraih kesuksesan. Duckworth berpendapat bahwa kecerdasan bukan satu-satunya penentu keberhasilan akademik, melainkan kemampuan untuk tetap konsisten dalam mencapai tujuan, yang merupakan inti dari disiplin diri.

Disiplin diri memiliki banyak manfaat dalam kehidupan akademik, salah satunya adalah peningkatan produktivitas. Mahasiswa yang memiliki disiplin diri yang baik cenderung dapat mengelola waktu dengan lebih efektif, sehingga dapat menyelesaikan lebih banyak tugas dalam waktu yang sama. Brian Tracy, dalam No Excuses!: The Power of Self-Discipline (2010), menjelaskan bahwa disiplin diri adalah fondasi dari produktivitas. Dengan menerapkan disiplin diri, seseorang dapat menetapkan prioritas dan fokus pada tugas yang paling penting terlebih dahulu, yang pada akhirnya akan meningkatkan hasil yang dicapai.

Selain produktivitas, disiplin diri berperan dalam ketepatan waktu. Menurut Stephen R. Covey dalam The 7 Habits of Highly Effective People (1989), orang yang disiplin cenderung mampu mengatur waktu dengan baik dan menghindari penundaan, sehingga dapat menyelesaikan tugas sesuai jadwal yang telah ditentukan. Hal ini sangat penting dalam konteks akademik, karena penyelesaian tugas tepat waktu berhubungan langsung dengan prestasi dan keberhasilan dalam studi.

Disiplin diri memberikan perasaan pencapaian. Charles Duhigg dalam The Power of Habit: Why We Do What We Do in Life and Business (2012) menjelaskan bahwa rutinitas yang didukung oleh disiplin diri membantu seseorang membangun kebiasaan positif, yang pada akhirnya memberikan perasaan pencapaian dan kepuasan diri. Bagi mahasiswa, menyelesaikan tugas dengan disiplin memberikan rasa puas yang memotivasi mereka untuk terus melangkah dan mencapai lebih banyak tujuan dalam akademik.

Strategi Mengembangkan Disiplin Diri

Pengaturan waktu adalah keterampilan penting dalam mengembangkan disiplin diri, terutama bagi mahasiswa yang sering memiliki jadwal yang padat. Menurut Stephen R. Covey (1989), salah satu strategi yang efektif mengelola waktu adalah dengan menggunakan Matriks Manajemen Waktu untuk memprioritaskan tugas berdasarkan tingkat urgensi dan kepentingannya. Covey menekankan bahwa penting bagi seseorang untuk memfokuskan waktu mereka pada hal-hal yang penting tetapi tidak mendesak, sehingga dapat menghindari tekanan dari pekerjaan yang ditunda-tunda.

Membuat jadwal dan mengelompokkan tugas berdasarkan prioritas juga dapat membantu mahasiswa menghindari kebingungan dan memastikan bahwa setiap tugas diselesaikan tepat waktu. Laura Vanderkam dalam 168 Hours: You Have More Time Than You Think (2010) menyarankan agar seseorang secara rutin mengevaluasi penggunaan waktunya, dan mengalokasikan lebih banyak waktu untuk aktivitas yang benar-benar mendukung tujuan jangka panjang, termasuk kegiatan akademik. Dengan membuat jadwal yang jelas dan terstruktur, mahasiswa dapat tetap fokus dan disiplin dalam menyelesaikan tugas-tugas mereka.

Mengatasi kebiasaan menunda merupakan langkah penting dalam mengembangkan disiplin diri. Salah satu teknik yang efektif adalah menggunakan metode Pomodoro. Francesco Cirillo, pencipta The Pomodoro Technique (2006), mengembangkan teknik ini untuk meningkatkan produktivitas dan fokus. Teknik ini melibatkan pengaturan waktu bekerja selama 25 menit diikuti oleh istirahat singkat selama 5 menit. Metode ini membantu menghindari kebosanan dan kelelahan, serta memberikan batasan waktu yang jelas untuk menyelesaikan tugas-tugas tertentu.

Selain metode Pomodoro, menetapkan target harian yang realistis juga efektif dalam mengatasi penundaan. James Clear dalam Atomic Habits: An Easy & Proven Way to Build Good Habits & Break Bad Ones (2018) menjelaskan pentingnya membuat tujuan harian yang dapat dicapai untuk memicu rasa pencapaian. Clear menyarankan untuk membagi tugas besar menjadi langkah-langkah kecil yang bisa diselesaikan setiap hari. Dengan memiliki tujuan harian yang jelas, mahasiswa dapat lebih termotivasi untuk bertindak daripada menunda.

Rutinitas dan konsistensi adalah fondasi dalam membangun disiplin diri. Charles Duhigg (2012) menjelaskan bahwa kebiasaan terbentuk melalui pengulangan dan penguatan. Menurut Duhigg, menciptakan rutinitas yang mendukung tujuan akademik, seperti belajar pada waktu yang sama setiap hari, dapat memudahkan mahasiswa untuk tetap konsisten dan disiplin. Rutinitas yang baik membantu menghilangkan elemen keraguan atau penundaan, sehingga seseorang lebih mudah berfokus pada tugas-tugasnya. Selain itu, konsistensi penting dalam membangun disiplin diri. Angela Duckworth (2016) menekankan bahwa ketekunan dan konsistensi adalah elemen kunci dalam mencapai tujuan jangka panjang. Duckworth menyarankan agar seseorang terus berkomitmen pada rutinitas dan tujuan, bahkan ketika menghadapi kesulitan atau godaan untuk berhenti. Dengan membangun kebiasaan positif secara konsisten, mahasiswa akan mampu meningkatkan disiplin diri dan lebih mudah mencapai kesuksesan akademik.

Berdasarkan uraian di atas, disiplin diri adalah kunci utama untuk mencapai kesuksesan akademik di era digital yang penuh distraksi. Dengan mengatur waktu secara efektif, menghindari penundaan, dan membangun kebiasaan positif, mahasiswa dapat mengatasi tantangan yang menghalangi pencapaian tujuan mereka. Penting bagi setiap mahasiswa untuk mulai menerapkan disiplin dalam kehidupan akademik, agar dapat menyelesaikan studi tepat waktu atau bahkan lebih cepat. Ingatlah, kesuksesan dimulai dari tindakan kecil yang dilakukan dengan konsisten. Mulailah sekarang, bangun disiplin diri, dan wujudkan masa depan akademik yang cemerlang. (*)

Merauke, 10 Oktober 2024

Agustinus Gereda

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun