Selama momen-momen penting seperti Natal dan Idul Fitri, suasana toleransi semakin terasa. Umat Kristiani dapat mendengar suara azan dari Masjid Istiqlal saat mereka merayakan Natal, sementara umat Muslim tidak merasa terganggu dengan perayaan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun berbeda keyakinan, masing-masing pihak memberikan ruang bagi satu sama lain untuk menjalankan ibadah.
Pengakuan Internasional
Toleransi yang terjalin antara Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral juga mendapatkan pengakuan dari dunia internasional. Sekretaris Jenderal Organisasi Kerjasama Islam (OKI) mengungkapkan kekagumannya terhadap kerukunan antara kedua tempat ibadah ini setelah melakukan kunjungan ke sana. Ini menunjukkan bahwa hubungan baik antara dua tempat ibadah ini tidak hanya penting bagi masyarakat lokal tetapi juga menjadi contoh bagi negara lain.Â
Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral bukan hanya sekadar bangunan religius; mereka adalah simbol toleransi yang mengajarkan pentingnya saling menghormati dan hidup berdampingan dalam keragaman. Hubungan baik antara kedua tempat ibadah ini menjadi contoh inspiratif bagi masyarakat Indonesia dan dunia tentang bagaimana perbedaan dapat menjadi kekuatan untuk menciptakan harmoni sosial. Dengan terus memupuk nilai-nilai toleransi ini, diharapkan masyarakat dapat menjaga kerukunan dan kedamaian di tengah keberagaman yang ada
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H