Pernahkah kamu mendengar orangtua yang berkata, "Nak, sebelum usia 30 kamu harus sudah menikah", atau tetangga yang sedang julid, "Kenapa ya dia lulusan sarjana malah jualan".
Atau sahabatmu yang berujar, "Eh temenku yang satu jurusan sama kamu udah dapet kerjaan dengan gaji dua digit, kamu kok belum?", "Temenmu sudah pada lulus, kamu kok masih aja berkutat di skripsi, gak pengen lulus?"
Serangkaian pertanyaan tersebut selalu terbesit di benak kita yang berada di masa quarter life crisis, dikenal juga dengan krisis seperempat abad biasanya dirasakan oleh kalangan usia 20-30 yang masih bingung menentukan tujuan hidup ataupun bermasalah dalam menata masa depan.
Mark Manson dalam bukunya yang berjudul A Subtle Art Of Not Giving A F*ck berkata bahwa "Kunci untuk kehidupan yang baik bukan tentang memedulikan lebih banyak hal; tapi tentang memedulikan hal yang sederhana saja."Â
Kalimat tersebut terdengar elok dan sekilas tampak praktis, namun pada kenyataannya manusia sulit mengabaikan bisikan-bisikan negatif yang mengganggu kesehatan mental.Â
Tapi tak masalah, kita berhak tersinggung dan wajib untuk berbuat sesuatu yang terbaik yang bisa kita lakukan dengan catatan "melakukan segala usaha untuk kemajuan diri, bukan untuk memvalidasi ke orang lain bahwa kamu mampu berbuat".
Di saat manusia berada pada titik terendah dalam berjuang, naluri alamiah yang muncul adalah rasa ingin dipahami, dimengerti, dikatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, dan jangan berhenti mengejar apa yang kamu inginkan di kemudian hari.Â
Kita tidak bisa mengendalikan perlakuan orang-orang terhadap diri kita, satu-satunya hal yang dapat kita lakukan adalah mengendalikan kita sendiri untuk tidak tenggelam dalam pertanyaan-pertanyaan dan perlakuan yang tidak kita sukai dan menyakiti secara emosional.
Berdamailah, terimalah diri kita apa adanya...
Setidaknya ada beberapa dari kita merespon krisis percaya diri dengan ikut menyalahkan diri sendiri, putus asa, atau bahkan berhenti mempercayai diri sendiri. Hati-hati, keadaan ini bisa memburuk dan berujung fatal.Â
Percaya atau tidak bahwa cara kita memandang suatu hal juga bisa mempengaruhi orang lain berpandangan terhadap kita.Â
Misalnya stereotype mengatakan bahwa usia 25 tahun adalah usia yang ideal untuk berumah tangga. Cobalah untuk berpikir bahwa usia 25 adalah usia yang sangat ideal untuk melakukan apa yang kita inginkan dengan 'bebas'.Â
Jika strereotype mengatakan lulus kuliah idealnya 4 tahun, cobalah untuk berpikir bahwa kita tidak memiliki kepentingan yang sama, misal "saya masih ingin menjadi kontributor di bidang akademik dan mengembangkan diri sebelum wisuda".
Meyingkirkan racun di sekitarmu bukanlah dosa...
Kamu mungkin merasa jengkel saat beberapa orang terus mengawasi kinerjamu secara berkala, membandingkan hasil kerjamu dengan orang lain, tak jarang juga ada yang sampai meremehkan.Â
Ingatlah, bahwa kamu berhak sama sekali atas lingkungan yang kamu miliki, sehingga membatasi diri dengan rekan dengan kepribadian serupa adalah hal yang tepat untuk dilakukan untuk menyelamatkanmu dari stres dan depresi.Â
Kamu layak menjaga kesehatan mentalmu dengan bergabung dengan lingkungan yang supportif, memberikan pesan kesan motivasi kepadamu dengan cara yang benar seperti "kinerjamu sudah bagus, ayok bikin yang lebih bagus buat nambah nilai jual".
Ayo, kita lawan pemikiran kuno itu!
Beberapa tradisi lama sudah tidak cocok untuk kita terapkan di masa sekarang.
Aku yakin kamu setuju dengan opini penulis satu ini, tepat 399 tahun sebelum masehi socrates dijatuhi hukuman mati karena berbeda pandangan dalam memercayai mitos, tapi hal ini tidak akan terjadi pada kita ketika berhenti memandang tradisi lama.Â
Pemikiran manusia yang berkembang dari masa ke masa membuka mata kita bahwa modern problem needs modern solving.Â
Kalau dahulu orang berpikir bahwa banyak anak banyak rezeki, secara praktis itu sangat masuk akal karena pada zaman itu persaingan begitu longgar, sumber daya melimpah, serta kebutuhan hidup yang masih konvensional.Â
Tetapi di abad 21, jumlah anak hendaknya menyesuaikan dengan sumber daya yang kita miliki, mengingat populasi dan persaingan hidup yang semakin sengit. Jelas kedua keadaan ini sama sekali berbeda.
Kita akan menemukan banyak sekali standar hidup yang tidak realistis di masa quarter life crisis, yang paling nyata adalah seolah-olah di usia 20-30 tahun kita dituntut untuk memiliki segala hal, mengetahui segala seluk beluk dunia, dan hidup sukses.Â
Tentu saja hal-hal demikian sangat tidak masuk akal mengingat setiap dari kita memiliki visi misi hidup yang berbeda tetapi kenapa kita dibatasi oleh standar yang sama? Kenapa kita membiarkan batasan-batasan ini hidup dan mencoba menghalangi langkah kita?
Sudah saatnya bagi kita untuk menentukan sendiri batas-batas yang mengikuti kapasitas yang kita miliki.
Kamu berhak menentukan waktu untuk dirimu menggali potensi diri sedalam-dalamnya tanpa batasan, melakukan hal yang ingin kamu lakukan sendirian di masa lajang, mengejar apapun cita-citamu dengan sumber daya yang kamu miliki dan kamu bahkan tidak merepotkan orang lain dengan melakukan itu semua.Â
Lihat betapa hebatnya dirimu tanpa kamu sadari. Maka berhentilah menyalahkan, memandang rendah dirimu, menghanyutkan pikiranmu dalam arus kelam yang kita sebut insecurity.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI