Mohon tunggu...
Agung Han
Agung Han Mohon Tunggu... Wiraswasta - Blogger Biasa

Part of #Commate'22- Now - KCI | Kompasianer of The Year 2019 | Fruitaholic oTY'18 | Wings Journalys Award' 16 | agungatv@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Money Pilihan

Menghindari Hedonisme Demi Pengelolaan Keuangan Lebih Baik

9 Mei 2016   08:14 Diperbarui: 9 Mei 2016   08:54 299
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pusat Perbelanjaan Premium, menyediakan barang dengan harga premium (dokumentasi group BBM)

Lao Chai seorang Filsuf China mengatakan, "Perjalanan bermil-mil jauhnya dimulai dari satu langkah".  Kalau boleh saya coba ambil benang merah, kalimat tersebut dengan tema keuangan versi saya.  Untuk mengelola keuangan yang besar, dimulai dari pemanfaatan keuangan sehari-hari dalam skala kecil.

Beragam kebutuhan mewarnai setiap waktu, mulai dari makanan, pakaian, pendidikan, kesehatan, tempat tinggal, hiburan, rekreasi dan masih banyak lagi. Pengelolaan pemasukan keuangan menjadi penting,  sebagai strategi agar kebutuhan bisa dicapai.

Saya pernah menyimak sebuah acara talkshow di televisi, menghadirkan narasumber seorang financial planer ternama.  Perlu dipilah kebutuhan dalam tiga fase, yaitu jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.  Masih menurut narasumber, kebutuhan jangka pendek memiliki rentang waktu dibawah 5 tahun, jangka menengah 5 sampai 10 tahun, sedangkan jangka panjang di atas 10 tahun.

Ada baiknya apabila punya keinginan membeli seseuatu baiknya direncanakan, terutama  barang  yang harganya lumayan mahal untuk ukuran pribadi. Misanya ada rencana  membeli kendaraan, sebaiknya mulai menabung sesuai target waktu.

Perlu dibuat post kebutuhan kendaraan, dipisahkan dengan post lain dan harus konsisten tidak diambil untuk kebutuhan lain. Misalnya lagi untuk kebutuhan jangka panjang, seperti pendidikan anak saat kuliah atau misalnya bagi kaum muslim menunaikan ibadah Haji. Semua perlu dipersiapkan, agar tidak kelabakan saat kebutuhan itu menuntut dipenuhi.

-Saya mengangguk paham, sangat setuju dengan saran yang saya dengar-

00-00

Saya dibesarkan dari keluarga yang bersahaja, ayah seorang guru SD dan ibu membantu jualan di pasar kampung. Dengan enam anak yang bersekolah, orang tua  kalang kabut mengatur keuangan. Kerap dulu waktu masih SD, saya diminta ibu mengambil uang pinjaman ke tetangga. Biasanya sesuai janji pada pemberi hutang, ibu akan meminta saya mengantar uang yang dipinjam seminggu sesudahnya (atau sesuai waktu disepakati).

Pernah juga saya menyaksikan sendiri, bagaimana paniknya orang tua ketika anak-anaknya membayar sekolah bersamaan. Harus hutang kesana- sini, akibatnya tetangga yang nyinyir memandang rendah ibu. Omongan tak enak terdengar lewat bisik-bisik tetangga, meskipun tetangga tersebut tak memberi pinjaman.

Saya yang masih usia awal belasan tahun, merasa sedih dan prihatin mendengar omongan orang. Tapi tak bisa berbuat apa-apa, kecuali memilih diam tak meneruskan kabar kepada ibu. Namun seperti tertanam tekad, kelak tak ingin senasib dengan orang tua.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun