Mungkin banyak diantara perantau, mengupayakan bisa mudik setiap tahun pada hari raya lebaran tiba. Apalagi pasangan suami istri yang sama sama perantau, bisa jadi musti mudik ke dua kota yang berbeda.
Saya sendiri adalah perantau, terhitung satu dasawarsa lebih tinggal di Jakarta kemudian pindah ke kota penyangga. Istri  lahir, besar dan menikah di kota yang sama, bahkan sampai kami membangun keluarga kecil tidak pindah kota.
Punya jadwal mudik dua tahun sekali, bergantian jadwal dengan sungkem kepada bapak ibu mertua. Rumah orang tua dari pihak istri berjarak hanya beberapa Kilometer, masih berada di Kecamatan dan kota yang sama.
Sehingga Istri ikut merasakan suasana mudik, termasuk suka duka mencapai kota kelahiran sang suami. Demikian pula anak-anak yang lahir di kota sama dengan ibunya, merasa punya kampung halaman yaitu kampung ayahnya.
Euforia mudik yang konon hanya ada di Indonesia, ternyata membawa dampak positif bagi banyak pihak. Para pengusaha melipatkan jumlah produksi, demi mengimbangi kenaikan permintaan dari konsumen. Para pekerja bersuka cita, mendapat upah dua kali lipat dalam bentuk tunjangan hari raya (THR).
Pedagang (apapun) berlimpah berkah, karena banyak pembeli membutuhkan jasanya. Pemilik moda transportasi panen, akibat membludaknya permintaan nyaris ke semua tujuan. Belum lagi pengusaha restoran, SPBU, tempat Pariwisata, penginapan, dan masih banyak pengusaha lainnya, merasakan berkah hari lebaran.
Eits, selain keuntungan materi, para ayah dan ibu bisa mendapatkan hal yang lebih. Yaitu moment menanamkan nilai-nilai pada buah hati, bisa menjadi pondasi sikap mental kelak saat dewasa.
Berikut keuntungan mengajak mudik anak.
1 Melatih Fisik
Perjalanan pulang kampung tentu melelahkan, baik yang menggunakan mobil pribadi, dengan bus, naik kereta, kapal laut atau pesawat terbang sekalipun. Perjalanan dengan jarak tempuh tidak dekat, otomatis dapat melatih stamina dan daya tahan tubuh anak-anak.
Anak yang diberi tantangan dalam hal ini fisik, secara otomatis tubuhnya akan terlatih untuk menyesuaikan diri. Hal ini bagus sebagai bekal kelak saat dewasa, sehingga tubuhnya tidak ringkih atau gampang sakit.