Kompasianer yang anker (anak kereta) green line---Relasi Rangkasbitung Tanah Abang--, saya yakin tidak asing dengan Stasiun Tenjo. Stasiun yang cukup unik, hanya melayani dan dilewati satu jalur Commuter Line saja.
Bangunan Stasiun ini relatif kecil, di bagian peron satu dibuat semi terbuka. Peron di jalur menuju Rangkasbitung, dibatasi anyaman dari pagar besi. Sehingga kita bisa melihat, suasana di luar Stasiun tanpa penghalang yang berarti.
Saya pernah ke Tenjo di tahun 2022, ketika itu belum dipasang pagar besi. Hari itu hari Jumat, saya mengejar jam sholat Jumat. Saking tidak mau ketinggalan jumatan, turun dari commuter saya langsung melompat keluar dari peron 1.
Setelah jumatan selesai, baru tap out KMT di mesin pintu keluar. Karena kalau tidak tap out, yang rugi saya sendiri, KMT bisa tidak bisa digunakan lagi.
----
Di kemudian hari, ada yang baru saya tahu tentang wilayah Tenjo. Bahwa di wilayah pinggiran Kabupaten Bogor ini, ternyata ada oleh-oleh khas yaitu dodol Tenjo. Saya mengenal pemiliknya, melalui instagram. Ketika saya posting video, ada akun UMKM meninggalkan komentar. Kemudian saya reply, berlanjut ngobrol di direct message.
Sesuai kesepakatan, kami membuat janji bertemu. Saya ke pusat produksi Dodol Boga Rasa Tenjo, oleh oleh khas Kabupaten Bogor. Lokasinya tak jauh dari Stasiun Tenjo, sekitar empat menit jalan kaki.
Menurut Kang Egi, generasi kedua Dodol Boga Rasa Tenjo. Kali pertama berproduksi pada 1999,jatuh bangun dialami ibunya, dan kini usaha rumahan ini diteruskan. Obrolan siang itu cukup gayeng, kami tak canggung saling memanggil "Kang".
Tak ketinggalan, olahan dodol khas Tenjo disuguhkan sebagai camilan. Kini ada empat varian rasa dijajar, yaitu original, wijen, karamel dan durian. Saya paling suka rasa original, lebih akrab di lidah.
"kalau Ramadan, ada dua rasa tambahan, yaitu nanas dan kacang,"jelas Kang Egi.