Mohon tunggu...
Agung Han
Agung Han Mohon Tunggu... Wiraswasta - Blogger Biasa

Part of #Commate'22- Now - KCI | Kompasianer of The Year 2019 | Fruitaholic oTY'18 | Wings Journalys Award' 16 | agungatv@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Tidak Benar Rindu itu Berat, yang Benar Rindu itu Nikmat

6 Agustus 2018   09:16 Diperbarui: 6 Agustus 2018   09:33 818
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
suasana menjenguk anak di pesantren- dokumentasi pribadi

Terhitung satu bulan lebih dari hari pertama, kami mengantarkan si sulung menimba ilmu di Pesantren.  Waktu awal berjarak dengan anak kesayangan, perasaan berat sempat menggelayuti.

Melepaskan anak menempuh jalan telah dipilih sendiri, membawa orang tua seolah berada di persimpangan antara tega dan tidak tega.

Saya masih ingat, bagaimana perasaan hampa menghampiri kala itu. Sampai di rumah, tidak lagi mendengar suara berantem, rebutan makanan dan atau mainan khas adik dan kakak.

Barang-barang milik anak tidak ada yang menyentuh, semua tetap setia berada ditempatnya. Bola kulit biasa dimainkan teronggok di sudut teras, komik Naruto dan Si Juki tidak lagi berserakan di atas tempat tidur.

Omelan si ibu seolah dibungkam, karena tidak lagi berisik, minta empunya mainan merapikan dan mengembalikan ke tempat semula.

Seperti sebuah sulapan, semua mendadak berubah seketika. Siap tidak siap, suka tidak suka harus dihadapi sebagai konsekwensi, sembari belajar menata hati untuk menerimanya.

Tetapi kami genggam sebuah keyakinan, bahwa situasi ini pasti bisa dilampaui. Sudah banyak anak lain juga mondok,  nyatanya bisa bertahan dan berhasil terjun ke tengah masyarakat.

Bahwa kegamangan dialami berlangsung sesaat, akan berlalu seiring berjalannya waktu. Akan teralihkan perhatian, dengan mengerjakan kegiatan keseharian lainnya.

Sebulan lebih si sulung menimba ilmu di pondok, sangat manusiawi  kalau rasa kangen orang tua menyeruak.

Kesempatan menjenguk, sebiasanya saya dan atau istri memanfaatkan. Satu atau dua jam bertemu dan ngobrol, menjadi penawar beban kangen sempat menggelayuti.

Bahwa setiap keadaan kehidupan, memang memiliki jatahnya sendiri. Setiap manusia tak punya pilihan lain, kecuali menjalani dan mengambil hikmah dari setiap proses.

Toh, cepat atau lambat. tiba saatnya anak mandiri dalam arti sebenarnya. Mereka lepas dari tanggungan orang tua, bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

Akan datang waktunya, anak melangkahkan kaki lebih lebar dan jauh. Tak lagi dalam jangkauan tangan dan pandangan ayah ibunya, karena mereka telah menjalani dunianya sendiri.  

Mengelola Perasaan Rindu

Mengirim anak ke Pesantren dengan sistem boarding (menginap), memiliki konsekwensi berbeda dengan anak yang sekolah umum --pergi pulang ke rumah.

Perlu persiapan tersendiri (selain dana, mental tentunya), sehingga tidak terlalu kaget agar langkah tidak surut ke belakang.

Ada satu dialog sempat viral, dari di film Dilan 1990, film ini juga melambungkan nama dua pemeran utamanya. Lebih kurang kalimatnya seperti ini "Jangan Rindu, ini berat kamu tidak akan kuat, biar aku saja."

Kebetulan saya sudah melihat film tersebut, konteks rindu dimaksud, menggambarkan perasaan dua anak berseragam abu-abu putih, sedang dimabuk oleh cinta.

Jagoan kami sedang menimba ilmu di pondok -dokpri
Jagoan kami sedang menimba ilmu di pondok -dokpri
Saya kini merasakan sendiri, betapa menanggung rasa rindu memang tidak mudah (konteksnya rindu berbeda). Tetapi ketika mengingat tujuan anak ke pondok, membuat kami tidak gentar dengan rasa rindu.

Bahwa menuntut ilmu menjadi bagian dari jihad, hal itu sangat kami yakini kebenarannya. Semakin rasa rindu itu mendera, semakin kami orang tua tertantang menghadapinya.

Maka ketika rasa kangen menghampiri, doa kami balaskan untuk anak lanang. Merapal doa, menyebut nama, membayangkan wajah bersih itu, seperti mengalirkan tenaga kasat mata.

Kami sangat meyakini, pengharapan kami sampai di sanubari lelaki baliq kami. Mengeratkan hubungan batin, saling menguatkan dan melahirkan energi tak terjemahkan kata.

Mengelola rindu butuh strategi, tidak ada kurikulum dan pelajarannya di bangku sekolah. Hanya bisa langsung dipraktekkan, sembari menjalani dan menyelami.

Apabila rindu berhasil ditaklukkan, niscaya berubah menjadi nikmat tidak terkira. Bukankah Tuhan menciptakan semua perasaan, tentu dengan rahasia yang ada di baliknya.

Demikian pula dengan rasa rindu, akan ada kekuatan dahsyat diselipkan Tuhan, setelah manusia menjalani dan belajar mengelolanya.

Sehingga kalau dalam film Dilan bilang, bahwa rindu itu berat, kamu tidak akan Kuat. Saya ingin membantah dengan versi saya, betapa rindu itu nikmat, semua perindu sejati akan sanggup menanggungnya.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun