Penerapan Kapitalisme di Tiongkok:
- Reformasi Ekonomi: Pada tahun 1978, Deng Xiaoping memperkenalkan reformasi ekonomi yang membuka Tiongkok terhadap investasi asing dan perdagangan internasional. Reformasi ini mengubah Tiongkok dari ekonomi terencana sosialis menjadi ekonomi pasar yang lebih terbuka.
- Zona Ekonomi Khusus: Tiongkok mendirikan Zona Ekonomi Khusus (ZEK) sebagai bagian dari strategi reformasi ekonominya. ZEK merupakan wilayah di mana perusahaan asing diizinkan untuk beroperasi dengan peraturan yang lebih longgar dibandingkan dengan wilayah lain di Tiongkok. Pendirian ZEK bertujuan untuk menarik investasi asing, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan memperluas ekspor Tiongkok. Melalui ZEK, Tiongkok berhasil menarik banyak investasi asing dan mengembangkan sektor ekspornya. ZEK menjadi salah satu instrumen penting dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi Tiongkok dan meningkatkan integrasinya dalam pasar global.
- Globalisasi: Tiongkok telah memanfaatkan fenomena globalisasi untuk mengembangkan perekonomiannya dan mendapatkan akses ke pasar global serta teknologi baru. Keanggotaan Tiongkok dalam Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) sejak tahun 2001 menjadi langkah strategis yang membuka aksesnya ke pasar global yang lebih luas. Dengan dukungan terhadap arus globalisasi dan pasar bebas, Tiongkok berhasil menjadi salah satu kontributor terbesar dalam pertumbuhan ekonomi global. Selain itu, Tiongkok juga aktif dalam investasi luar negeri dan pengiriman tenaga kerja ke berbagai negara, sehingga memberikan dampak signifikan dalam dinamika ekonomi global.
Dampak Kapitalisme pada Tiongkok:
- Pertumbuhan Ekonomi:Â Tiongkok telah mengalami pertumbuhan ekonomi yang tinggi selama beberapa dekade terakhir. PDB Tiongkok telah tumbuh rata-rata 10% per tahun sejak tahun 1978. Tiongkok sekarang menjadi ekonomi terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat.
- Pengurangan Kemiskinan: Ratusan juta orang Tiongkok telah keluar dari kemiskinan dalam beberapa dekade terakhir. Tingkat kemiskinan di Tiongkok telah turun dari 88% pada tahun 1981 menjadi 0,7% pada tahun 2020.
- Pembangunan Infrastruktur: Tiongkok telah melakukan investasi besar-besaran dalam infrastruktur, seperti jalan raya, kereta api, dan bandara. Pembangunan infrastruktur ini telah membantu meningkatkan konektivitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Kekhawatiran tentang Kebangkitan Tiongkok:
- Persaingan Ekonomi: Kebangkitan Tiongkok sebagai kekuatan ekonomi global telah menimbulkan kekhawatiran di negara-negara lain tentang persaingan ekonomi. Tiongkok telah menjadi pesaing utama dalam berbagai sektor industri, seperti manufaktur dan teknologi.
- Pelanggaran Hak Asasi Manusia: Tiongkok telah dikritik karena pelanggaran hak asasi manusia, seperti penindasan terhadap kelompok minoritas dan pembatasan kebebasan berekspresi.
- Kebijakan Luar Negeri Tiongkok: Kebijakan luar negeri Tiongkok yang semakin asertif di kawasan Asia-Pasifik telah menimbulkan kekhawatiran tentang niat Tiongkok di masa depan.
    Kebangkitan Tiongkok sebagai kekuatan ekonomi global merupakan contoh bagaimana kapitalisme dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. Namun, kebangkitan Tiongkok juga menimbulkan kekhawatiran di negara-negara lain tentang persaingan ekonomi dan pelanggaran hak asasi manusia.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H
Beri Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!