Mohon tunggu...
Haftar
Haftar Mohon Tunggu... Guru - Guru SMP Swasta, penikmat logika jernih, visioner

Saya seorang guru yang dilahirkan di pinggir sebuah teluk yang indah yang bernama TAPAKTUAN yang terletak dibibir pantai Samudera Hindia di Kabupaten Aceh Selatan,Aceh. Sejak kecil menekuni dunia seni teater, melukis dan musik. ternyata setelah saya beranjak dewasa hobi tersebut bermanfaat bagi murid-murid. Maka rutinitas saya selain sebagai guru juga berjualan secara kecil-kecilan membantu usaha istri dan melatih anak-anak lomba bercerita, kaligrafi, melukis,pidato dan menyanyi Juga mengembangkan kreativitas seni saya berupa menulis buku, FB dan merangkai bunga dari tempurung kelapa. . Saya juga selama kuliah di IKIP Medan 1990-1996 saya aktif sebagai pengelola penerbitan kampus "Kreatif IKIP Medan" dan diorganisasi HMI Cabang Medan. Menulis opini di SKH WASPADA Medan.

Selanjutnya

Tutup

Nature

Oknum Masyarakat Membuang Sampah di Jalan Raya

15 Agustus 2021   22:38 Diperbarui: 15 Agustus 2021   22:44 64
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Bila Anda melintasi Jalan Nasional Tapaktuan-Blangpidie, maka Anda akan menjumpai beberapa tumpukan sampah yang berserakan hingga ke badan jalan. Tepatnya  di lintasan Desa Kuta Trieng, Labuhan Haji Barat.  Akibatnya, setiap pengendera kenderaan roda dua yang melintasi jalan tersebut terpaksa metutup hidung, karena tidak tahan menghirup bau busuk yang berasal dari tumpukan sampah tersebut.  Bau busuk  terasa sekali pada pagi hari saat-saat jam sibuk, dimana anak-anak pergi sekolah,   mereka terpaksa menghirup udara busuk  yang berasal dari sampah tersebut. Hal ini jelas sangat mengganggu pernapasan dan  dapat menularkan penyakit di tengah masyarakat.

Ssampah yang berserakan di sepanjang jalan tersebut, juga bertebaran ke dalam areal persawahan penduduk . Sehingga menyebabkan para petani yang sedang menggarap sawahnya yang berlokasi  di sekitar jalan raya, terpaksa bekerja memungut sampah yang berserakan di dalam sawah mereka. Sebab sampah yang berserakan tersebut menyebabkan tanaman padi menjadi rusak, sehingga  para petani mendapatkan hasil panen  padi mereka  berkurang.

Bila musim hujan seperti sekarang ini,  maka sampah-sampah tersebut bertebaran dilingkungan penduduk dan disepanjang jalan raya yang terbawa oleh  genangan air yang meluap sampai ke badan jalan.  Menyebabkan terjadinya banjir di badan jalan. Hal ini  tentu beresiko terjadinya kecelakaan  terhadap para pengguna jalan raya. Setelah hujan reda, terlihat sampah semakin bertambah banyak di sepanjang jalan raya tanpa ada yang membersihkannya.

Pemandangan seperti ini sudah lazim dan seakan sudah menjadi pemandangan yang tidak asing lagi. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan, sebab selain  menimbulkan kesan jorok dan kumuh. Juga akan dapat menimbulkan penyakit dan pencemaran lingkungan. Sehingga bila ada  pelancong yang melintasi daerah ini, maka  akan terkesan bagi mereka daerah ini daerah yang kumuh tidak terurus . Hal ini tentunya sangat merugikan pihak  daerah. Sebab kepala daerah sedang gencar-gencarnya mempromosikan daerah Aceh Selatan sebagai daerah tujuan wisata.

Kebiasaan menumpukkan  sampah rumah tangga di sepanjang jalan raya di Kecamatan Labuhan Haji Barat  memang sudah lama terjadi. Hal ini disebabkan karena tidak adanya tempat penampungan sampah di sekitar pemukiman penduduk, maupun tidak adanya lokasi akhir tempat  pembuangan sampah. Makanya bagi penduduk yang bertempat tinggal disepanjang jalan raya kebanyakan membuang sampah pada tempat-tempat tertentu di sepanjang jalan raya. Ada juga diantara mereka yang membakar sampah di pinggir jalan raya pada malam hari. Inipun juga beresiko karena dekat dengan tiang atau kabel listrik.

Karena tidak adanya tempat pembuangan sampah, baru-baru ini  beredar ajakan di tengah masyarakat,  agar masyarakat sama-sama membuang sampah di depan kantor pemerintahan. Sebab selama ini pemerintah tidak peduli terhadap permintaan masyarakat agar menyediakan kendaraan pengangkutan sampah, tempat pembuangan sampah maupun petugas kebersihan. Sementara di kecamatan lain telah tersedia sarana kebersihan tersebut, seperti di Kecamatan Meukek, Tapaktuan dan Kluet Utara.

Semoga tulisan ini menjadi perhatian semua pihak. (Haftar)

Mohon tunggu...

Lihat Konten Nature Selengkapnya
Lihat Nature Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun