Malang - Kelompok 134 Mahasiswa Membangun Desa (MMD) Universitas Brawijaya mengenalkan penggunaan Yellow Sticky Trap atau perangkap kuning guna menjaring hama pengganggu tanaman pertanian kepada petani Desa Jatikerto. Perangkap Kuning (Yellow Sticky Trap) diperkenalkan sebagai solusi dari persoalan hama yang menjadi masalah serius dan merugikan petani. Perangkap Kuning (Yellow Sticky Trap), yaitu perangkap yang berwarna kuning sehingga dapat menarik serangga dan menjeratnya karena telah diolesi dengan lem. Hama yang dapat diperangkap dengan hama ini antara lain Kutu loncat, trips, kutu daun, dan semua golongan serangga yang tertarik dengan gelombang yang dipancarkan benda yang berwarna kuning. Penggunaan perangkap ini memang sangat membantu selain mudah dibuat dan biaya pembuatannya sangat mudah.
 Menurut Airlangga Festian Hakim, Koordinator Kelompok 134 sekaligus penanggungjawab program kerja ini, Perangkap Kuning (Yellow Sticky Trap) dipilih karena ampuh dalam mengurangi hama juga bernilai ekonomis dan ramah lingkungan karena hanya menggunakan bahan-bahan sederhana seperti botol bekas.
 Mahasiswa Kelompok 134 mengenalkan Yellow Sticky Trap pada melalui sosialisasi yang diadakan pada tanggal 28 Juli 2023 di Balai Desa Jatikerto. Sosialisasi ini dihadiri seluruh perwakilan petani dari seluruh Rukun Warga (RW) dan Kelompok Tani di Desa Jatikerto. dalam sosialisasi ini juga didemonstrasikan bagaimana cara pembuatan Perangkap Kuning (Yellow Sticky Trap) di depan para petani.
 Sosialisasi ini sangat membantu petani dalam mengedukasi mengenai Penanganan Hama Terpadu (PHT) yang dapat memecahkan masalah terkait hama, apalagi tadi dijelaskan pengaplikasian di salah satu ladang masyarakat serta cara pembuatannya. Harapannya, petani dapat membuat secara mandiri di rumah masing-masing" Ujar Pak Misenan, Kepala Bidang Pertanian Desa Jatikerto
 Sosialisasi ini diadakan dengan tujuan memperkuat ketahanan pangan dengan memberikan alternatif upaya pengurangan kerugian panen. Kerugian akibat serangan hama dapat mencapai 37%, penyakit 35%, gulma 29%, dan bahkan akibat yang di timbulkan oleh serangan hama dalam kendisi tertentu bisa menyebabkan gagal panen.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H