Beberapa waktu yang lalu, heboh berbagai keberatan masyarakat atas diberlakukannya tilang uji Emisi di Jakarta. Â Masyarakat berkeberatan diberlakukannya sangsi tilang dikarenakan minimnya sosialisasi sehingga tidak ada persiapan untuk Uji Emisi kendaraan. Pertanyaannya, perlukah sangsi tilang bagi kendaraan tidak lolos uji emisi?
Untuk menjawab pertanyaan diatas, akan dianalisis beberapa parameter yaitu indentifikasi indicator penting, selection, pikiran pemangku kepentingan dan penetapan tujuan, serta bagaimana penanganannya.
Â
Identifikasi Indicator Penting
Identifikasi indicator penting terkait polusi udara harus dilakukan dengan mendalam, terukur dan detail. Â Berikut beberapa identifikasi indicator kunci.
Identifikasi indicator pertama adalah menentukan tingkat polusi Udara Jakarta. Â Berdasarkan peraturan Menteri KLHK No 14 Tahun 2020, katagori angka rentang Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) seperti disajikan pada table berikut ini.
   Katagori                Status Warna           Angka Rentang
- Baik                      Hijau                   1 - 50
- Sedang                   Biru                    51 - 100
- Tidak Sehat              Kuning                 101 - 200
- Sangat Tidak Sehat       Merah                  201 - 300
- Berbahaya                Hitam                  >300
Berdasarkan data realtime IQAir (www.iqair.com), tingkat pencemaran udara di DKI Jakarta didominasi katagori tidak sehat, meskipun di Sebagian kecil wilayah masuk katagori sedang. Â Katagori tidak sehat masuk kelompok sensitive yaitu boleh melakukan aktivitas di luar, tetapi mengambil rehat lebih sering dan melakukan aktivitas ringan. Â Berdasarkan data ini, dapat disimpulan bahwa kualitas udara di DKI Jakarta perlu mendapat perhatiann khusus.
Indicator kedua adalah dengan memilah sumber yang berkontribusi terhadap pencemaran udara, yaitu berapa persen kontribusi polusi dari kendaraan, industry (pabrik, PLTU, pengolahan, dll), atau dari sumber lainnya. Â Selain itu perlu juga dipetakan tingkat pencemaran udara berdasarkan wilayah-wilayah sehingga diketahui hubungan tingkat pencemaran dengan karakteristik wilayah (pemukiman, perkantoran, industry, wilayah padat kendaraan, dll). Â Terkait sumber emisi dari kendaraan, perlu dianalisis apakah ada perbedaan pengaruh penggunaan jenis bahan bakar (pertalite vs pertamax, dexlite vs pertamax dex) terhadap kontribusi penurunan kualitas udara? Data-data ini penting untuk menentukan arah kebijakan perbaikan kualitas udara DKI Jakarta.
Indikator ketiga adalah mengukur daya dukung lingkungan di DKI Jakarta saat ini terkait ketersediaan ruang terbuka hijau (RTH). Berapa luas RTH saat ini, berapa rasio RTH yang ideal, berapa gap antara luas RTH saat ini dengan luas RTH ideal.
Indikator keempat adalah terkait kasus gangguan Kesehatan. Â Ada berapa banyak gangguan Kesehatan terkait polusi yang dilaporkan? Dari jumlah laporan, berapa banyak yang mengalami gejala ringan, sedang, berat dan bahkan kematian? Â Data ini penting untuk mengukur tingkat kegawatan kualitas udara dan korelasinya terhadap dampak Kesehatan.