TikTok Shop dan regulasi pemerintah yang membatasi e-commerce di media sosial menjadi peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan platform digital lokal yang mandiri dan berdaulat.Â
Apakah kita bisa meniru China yang berhasil menciptakan raksasa media sosial seperti TikTok dan WeChat dengan melindungi pasar domestiknya dari platform asing? Bagaimana caranya?
Indonesia adalah negara dengan pengguna internet terbesar di Asia Tenggara, tetapi sebagian besar platform internet yang digunakan oleh masyarakat Indonesia berasal dari luar negeri, seperti X (dulu Twitter), Facebook, Instagram, WhatsApp, YouTube, TikTok, dll.Â
Platform-platform ini tentu saja memberikan manfaat bagi konektivitas, informasi, hiburan, dan bisnis di Indonesia, tetapi juga memiliki risiko terhadap kedaulatan, identitas, dan pembangunan nasional kita.Â
Platform-platform asing ini bisa saja mengambil data pengguna Indonesia untuk kepentingan mereka sendiri, menyebarkan konten yang tidak sesuai dengan nilai-nilai dan budaya kita, atau bahkan mengintervensi proses politik dan demokrasi kita.
China adalah negara yang sadar akan risiko tersebut, dan telah mengambil langkah-langkah tegas untuk melindungi pasar digitalnya dari campur tangan asing. China telah memblokir sebagian besar platform internet populer dari luar negeri, seperti Google, Facebook, X, YouTube, dll.Â
China juga memiliki peraturan yang ketat untuk mengawasi dan mengontrol konten yang beredar di internet. Dengan demikian, China memberikan ruang bagi platform digital lokal untuk tumbuh dan bersaing di pasar domestik.Â
Platform-platform lokal ini kemudian tidak hanya melayani kebutuhan masyarakat China, tetapi juga mampu menembus pasar global dengan inovasi dan kreativitasnya.Â
Contohnya adalah WeChat yang merupakan aplikasi super yang menggabungkan berbagai fungsi seperti media sosial, pesan instan, pembayaran digital, dll. Contoh lainnya adalah TikTok yang merupakan aplikasi video pendek yang sangat populer di seluruh dunia.
Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Apakah kita bisa mengikuti jejak China dan menciptakan platform media sosial asli Indonesia yang bisa menggantikan TikTok?Â