Ada beberapa kiat agar bisa sukses menghadiri Reuni Perak (khususnya dengan almamater SMA) dan tidak terjebak kepada kondisi CLBK ataupun Puber ke 2 yang mengarah kepada hal-hal negatif berupa guncangan psikologis adalah sebagai berikut :
- Pastikan dan yakinkan dalam diri anda untuk menghadiri reuni hanya sebatas bernostalia, mempererat silaturahmi dan menjaga hubungan dengan relasi.
- Tidak terbawa arus nostalgia percintaan masa lalu, prinsipnya yang lalu biarlah berlalu, tak usah membuka kenangan lama yang akan membuat banyak hati jadi merana
- Ajaklah keluarga dalam reuni, setidaknya bisa menjadi pengingat dan pencegah agar tidak terlalu berlebihan dalam euforia reuni SMA, malu lah sama anak istri jika melakukan hal-hal bodoh saat reuni.
- Batasi waktu, jika acara sudah mulai tidak terkendali, sebaiknya segera pamit dan undur diri.
- Salurkan pada hal-hal yang positif dan usahakan bersifat komunal kebersamaan, hindari hal-hal atau kegiatan yang sifatnya exclusive (private) utamanya dengan lawan jenis
- Tak lupa untuk selalu berdoa, agar terhindar dari hal-hal buruk ketika dan selama mengikuti reuni.
Banyak cerita-cerita puber ke 2 gara-gara reuni SMA, hal ini bisa dimaklumi mengingat di usia-usia 40 an ini banyak diantara rekan-rekan kita yang sukses, dan pastilah kesuksesan ini menjadi sebuah daya tarik tersendiri bagi lawan jenisnya. Belum lagi dibumbui dengan keruwetan masalah rumah tangganya, membuat dia berusaha lari dari kenyataan untuk mencari sosok yang dapat dijadikan pelampiasan curhat dan perhatian.Â
Seperti dikutip dari laman website kesehatan  (https://www.sehatq.com) disebutkan bahwasanya puber kedua juga bisa memicu satu hal yang sama, baik pada pria maupun wanita, yaitu munculnya rasa penasaran yang tinggi. Di usia 40 -50 tahun, mereka menjadi lebih penasaran akan dirinya sendiri maupun dunia di sekitarnya.
Maka tidak salah jika Armad Maulana dan band nya Gigi menyampaikan pesan gundahnya lewat lagu yang bertajuk My Facebok ... yang kurang lebihnya seperti ini
.
.
Mungkin waktu yang kupersalahkan ...
Mungkin saja keadaan yang salah ...
Terpikir hati untuk mendua ...
Tapi nurani tak bisa mendua ...
Kuhanya bisa membagi kisah-kisah lama ...
Ku hanya bisa membagi cerita nostalgia ...
Oh-ho-oo
Cuma itu yang kuberikan ...
Cuma itu yang kubisa persembahkan ...
Karna aku ada yang punya ...
Tapi separuh hati ini untukmu ...
.
.